Tampilkan postingan dengan label Fenomena pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena pendidikan. Tampilkan semua postingan
Sekolah Cuma 5 Jam, Tanpa PR & Ujian Nasional, Kenapa Pelajar di Finlandia Bisa Pintar?

Sekolah Cuma 5 Jam, Tanpa PR & Ujian Nasional, Kenapa Pelajar di Finlandia Bisa Pintar?

Semasa sekolah dulu, rasanya mustahil kamu bisa dijuluki murid pintar kalau dapat ranking bontot. Apalagi kalau gak lulus ujian nasional, rasanya dunia selesai di titik itu. Ketatnya persaingan waktu sekolah mungkin memang bertujuan supaya kitaa berlomba-lomba jadi lebih pintar. Tapi tahukah kamu, negara dengan pendidikan terbaik dan murid terpintar di dunia yaitu Finlandia justru melakukan hal yang sebaliknya?

Berbeda dengan kita yang harus menghadapi ujian nasional tiap mau naik jenjang sekolah, seumur-umur pelajar di Finlandia hanya menghadapi 1 ujian nasional ketika mereka berumur 16 tahun. Tidak hanya minim pekerjaan rumah, pelajar di Finlandia juga mendapatkan waktu istirahat hampir 3 kali lebih lama daripada pelajar di negara lain. Namun dengan sistem yang leluasa entah bagaimana mereka justru  bisa belajar lebih baik dan jadi lebih pintar. Makanya kali ini Hipwee bakal mengulas habis rahasia Finlandia yang satu ini.

1. Di Finlandia, Anak-Anak Baru Boleh Bersekolah Setelah Berusia 7 Tahun

kids-playing

beri kesempatan mereka untuk belajar dengan caranya sendiri via freeenglishlessonplans.files.wordpress.com

Orang tua jaman sekarang pasti udah rempong kalau mikir pendidikan anak. Anaknya belum genap 3 tahun aja udah ngantri dapat pre-school bagus gara-gara takut kalau dari awal sekolahnya gak bagus, nantinya susah dapat SD, SMP, atau SMA yang bagus. Di Finlandia tidak ada kekhawatiran seperti itu. Bahkan menurut hukum, anak-anak baru boleh mulai bersekolah ketika berumur 7 tahun.

Awal yang lebih telat jika dibandingkan negara-negara lain itu justru berasal dari pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan hingga mereka kelas 4 SD. Hingga jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran.

Pelajar di Finlandia sudah terbiasa menemukan sendiri cara pembelajaran yang paling efektif bagi mereka, jadi nantinya mereka tidak harus merasa terpaksa untuk belajar. Maka dari itu meskipun mulai telat, tapi pelajar umur 15 di Finlandia justru berhasil mengungguli pelajar lain dari seluruh dunia dalam tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA). Itu membuktikan faedah dan efektivitas sistem pendidikan di Finlandia.


2. Cara Belajar Ala Finlandia: 45 Menit Belajar, 15 Menit Istirahat

Cara belajar ala FInlandia: banyak istirahat!

Cara belajar ala FInlandia: banyak istirahat! via edudemic.com
Tahukah kamu bahwa untuk setiap 45 menit siswa di Finlandia belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15 menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru. Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti bahwa toh sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain.

Di samping meningkatkan kemampuan fokus di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga sebenarnya memiliki manfaat kesehatan. Mereka jadi lebih aktif bergerak dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Bagus juga kan jika tidak membiasakan anak-anak dari kecil untuk terlalu banyak duduk.


3. Semua Sekolah Negeri Di Finlandia Bebas Dari Biaya. Sekolah Swasta pun Diatur Secara Ketat Agar Tetap Terjangkau.

noel

Gak mungkin konsen belajar kalau perut kosong. Finlandia adalah negara pertama dengan program makan siang gratis untuk semua siswa

Satu lagi faktor yang membuat orang tua di Finlandia gak usah pusing-pusing milih sekolah yang bagus untuk anaknya, karena semua sekolah di Finland itu sama bagusnya. Dan yang lebih penting lagi, sama gratisnya. Sistem pendidikan di Finlandia dibangun atas dasar kesetaraan. Bukan memberi subsidi pada mereka yang membutuhkan, tapi menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua.

Reformasi pendidikan yang dimulai pada tahun 1970-an tersebut merancang sistem kepercayaan yang meniadakan evaluasi atau ranking sekolah sehingga antara sekolah gak perlu merasa berkompetisi. Sekolah swasta pun diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Saking bagusnya sekolah-sekolah negeri di sana, hanya terdapat segelintir sekolah swasta yang biasanya juga berdiri karena basis agama.

Tidak berhenti dengan biaya pendidikan gratis, pemerintah Finlandia juga menyediakan fasilitas pendukung proses pembelajaran seperti makan siang, biaya kesehatan, dan angkutan sekolah secara cuma-cuma. Memang sih sistem seperti ini mungkin berjalan karena kemapanan perekonomian Finlandia. Tapi jika memahami sentralnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan bangsa, seharusnya semua negara juga berinvestasi besar untuk pendidikan. Asal gak akhirnya dikorupsi aja sih.

4. Semua Guru Di Finlandia Dibiayai Pemerintah Untuk Meraih Gelar Master. Gaji Mereka Juga Termasuk Dalam Jajaran Pendapatan Paling Tinggi di Finlandia.

MaxPNG
Profesional S2 yang dibayar tinggi via i.dell.com

Disamping kesetaraan fasilitas dan sokongan dana yang mengucur dari pemerintah, penopang utama dari kualitas merata yang ditemukan di semua sekolah di Finlandia adalah mutu guru-gurunya yang setinggi langit. Guru adalah salah satu pekerjaan paling bergengsi di Finlandia. Pendapatan guru di Finlandia pun lebih dari dua kali lipat dari guru di Amerika Serikat.Tidak peduli jenjang SD atau SMA, semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah dan memiliki tesis yang sudah dipublikasi.
Finlandia memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya. Maka dari itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan mutu tenaga pengajarnya. Tidak saja kualitas, pemerintah Finlandia juga memastikan ada cukup guru untuk pembelajaran intensif yang optimal. Ada 1 guru untuk 12 siswa di Finlandia, rasio yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain. Jadi guru bisa memberikan perhatian khusus untuk tiap anak, gak cuma berdiri di depan kelas.
Jika Indonesia ingin semaju Finlandia dalam urusan pendidikan, guru-guru kita selayaknya juga harus mendapatkan sokongan sebagus ini. Kalau perhatian kita ke guru kurang, kenapa kita menuntut mereka harus memberikan yang terbaik dalam proses pembelajaran? Tidak adil ‘kan?

5. Guru Dianggap Paling Tahu Bagaimana Cara Mengevaluasi Murid-Muridnya. Karena Itu, Ujian Nasional Tidaklah Perlu.

DSC_0483

Guru yang selalu mendampingi tahu yang dibutuhkan siswanya via itec.aalto.fi. Kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka. Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka.

Diversitas siswa seperti keberagaman tingkatan sosial atau latar belakang kultur biasanya jadi tantangan sendiri dalam menyeleraskan mutu pendidikan. Bisa jadi gara-gara fleksibilitas dalam sistem pendidikan Finlandia itu, semua diversitas justru bisa difasilitasi. Jadi dengan caranya sendiri-sendiri, siswa-siswa yang berbeda ini bisa mengembangkan potensinya secara maksimal.

6. Siswa SD-SMP di Finlandia Cuma Sekolah 4-5 Jam/hari. Buat Siswa SMP dan SMA, Sistem Pendidikan Mereka Sudah Seperti Di Bangku Kuliah

o-HAPPY-COLLEGE-STUDENTS-facebook

Belajar karena pingin pasti hasilnya lebih efektif via i.huffpost.com
Tidak hanya jam istirahat yang lebih panjang, jam sekolah di Finlandia juga relatif lebih pendek dibandingkan negara-negara lain. Siswa-siswa SD di Finlandia kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Siswa SMP dan SMA pun mengikuti sistem layaknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang merasa terpaksa tapi karena pilihan mereka.

Pendeknya jam belajar justru mendorong mereka untuk lebih produktif. Biasanya pada awal semester, guru-guru justru menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri. Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekedar tahu dan siap tapi juga tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri.


7. Gak Ada Sistem Ranking di Sekolah. Finlandia Percaya Bahwa Semua Murid Itu Seharusnya Ranking 1

graduation students
                               Gak ada yang putus sekolah via www.trigger-proof.com

Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat jadi pintar. Tanpa terkecuali. Maka dari itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’.

Walaupun ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, tapi mereka tetap ditempatkan dalam kelas dan program yang sama. Tidak ada juga program akselerasi. Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif. Bahkan anak dari kelas-kelas berbeda pun sering bertemu untuk kelas campuran. Strategi itu terbukti berhasil karena saat ini Finlandia adalah negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia.

Emang sih kita gak bisa serta merta menyontek sistem pendidikan Finlandia dan langsung menerapkannya di Indonesia. Dengan berbagai perbedaan institusional atau budaya, hasilnya juga mungkin gak bakal sama.

Tapi gak ada salahnya ‘kan belajar dari negara yang udah sukses dengan reformasi pendidikannya. Siapa tahu bisa menginspirasi adminitrasi baru untuk mengadakan perubahan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik **(kedip-kedip ke Pak Jokowi)

 Mengapa Orang Asia Kurang Kreatif Ketimbang Orang Barat

Mengapa Orang Asia Kurang Kreatif Ketimbang Orang Barat



Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi best seller (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
  1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.

  2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yg dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir diterima sebagai sesuatu yang wajar.

  3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

  4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

  5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yg berbasis inovasi dan kreativitas.

  6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat- nya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

  7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah

  8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.
Di dalam bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sbb:
  1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

  2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya

  3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya

  4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lebih cepat menghasilkan uang

  5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

  6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau TIDAK TAHU!

  7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan.. Sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.
Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi.
(Sumber: milis civitas@sbm-itb.ac.id)



Pendidikan Berbasis Wani Piro?

Pendidikan Berbasis Wani Piro?

Mejelang bulan juli (juli 2012) sudah dibuka PSB di beberapa SD sampai SMA negeri bahkan kalau sekolah swasta malah sudah menyetopnya dan mereka berbondong-bondong untuk mendaftarkan anaknya terlebih dahulu ke sekolah negeri sebelum alternatif masuk sekolah swasta baik yang biasa maupun yang ada IT (SDIT=sekolah dasar Islam terpadu) yang diplesetkan terpadu (=termahal) dengan alasan sekolah negeri masih paling berkualitas selain yang salah satunya masuk negeri yang katanya SPP-nya sudah digratiskan sehingga animo ini menyebabkan orang tua siswa kalau berbagai cara melakukan berbagai jalur untuk bisa masuk lewat resmi atau belakang tanpa mempertimbangkan kemampuan anak kelak.

Bagi kita sekarang yang penting, "wani  piro? ", begitu kata ibu-ibu yang pusing dengan sistem PSB disalah satu SMP Negeri yang nampaknya sudah melibatkan siapapun dari pejabat RW, kelurahan dengan berbagai jatah sampai salah satunya dari oknum anggota dewan yang ikut berbisnis ala pendidikan lewat belakang dengan memanfaatkan jatah masuk dengan tarif antara Rp 500-ooo-Rp. 1.000.000,-. 

"Pendidikan macam apa ini, rusak bangsa ini?" keluh bang Togar yang kerjaannya kernet yang punya anak yang baru masuk SMP tapi masih bingung dengan biaya segudang.

Setelah masuk katanya bebas SPP  dan tidak boleh menjual belikan LKS jadi terasa lucu untuk mendapatkan LKS harus diambil di tukang beras atas nama oknum gurunya, begitu juga ada uang untuk pagar dan lain-lain yang tak terduga. Anehnya sebenarnya sudah bukan rahasia umum lagi kalau ada transaksi seperti itu ada dikarenakan di sekolah tidak boleh ada jual beli buku paket.

Semua itu mentalitas rendah dan pendidikan yang dimulai dengan mentalitas pembodohan akan menghasilkan mentalitas yang tak begitu jauh saat mereka lulus dengan UN yang tersistematis tidak jujur, begitu bekerja dan  menjadi pejabat-pun sama sehingga  jangan kaget kalau masuk sekolah dan lulus saja melalui jalur tidak jujur, biasanya diteruskan dengan ketidak jujuran lainnya ketika masuk kerja juga melalui jalur sogok-menyogok sehingga lahirlah generasi Gayus yang cerdas secara intelektual tapi miskin secara moral dan berakhir pada elektabilitas yang tadinya pendidikan dengan tujuan pencerdasan bangsa berubah menjadi pengekkploitasian sekolah oleh berbagai stake holder dan sekolah hanya dijadikan ajang bisnis semata bagi institusi dan ajang gengsi bagi masyarakat pada umumnya dan melupakan nilai moral dan nilai mentalitas yang bobrok dan hasilnya bisa diketahui ranking SDM kita sangat bobrok dibandingkan negara lain.

Menurut data dari Human Development Indeks, Indonesia berada pada peringkat 108 di dunia dari segi Kualitas SDM.

1300081683297927927
Human Development Index (HDI) - 2010 Rankings, SUMBER:hdr.undp.org/en/statistics/
Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) mengklaim indeks pembangunan manusia (IPM), alias kualitas sumber daya manusia (SDM)  Indonesia pada 2011 mengalami kenaikan dari 0,600 pada 2010 menjadi 0,617 pada 2011. Namun pada tingkat ASEAN, rangking SDM  Indonesia berada di bawah Malaysia (61), Singapura (26) dan Brunei Darussalam (33). Negara ASEAN yang rangking IPM-nya di bawah Indonesia adalah Vietnam (128), Timor Leste (147), dan Myanmar (149).

Penelitian UNDP mengamati tingkat rata-rata lama penduduk mengenyam pendidikan (mean years of schooling). Data dari UNDP menyebutkan, tahun ini rata-rata penduduk Indonesia mengenyam pendidikan hanya 5,8 tahun. Itu artinya, versi UNDP banyak penduduk Indonesia yang tidak lulus SD. Sebab, lama belajar di tingkat SD adalah enam tahun.

Siapa yang menolong pendidikan kita selain kita masyarakat dan pelaku pendidikan, jawabannya : Hentikan semua ketidak jujuran yang sistematis ini?

(Sumber : berbagai sumber )
Mengajar dan Belajar dengan Hati

Mengajar dan Belajar dengan Hati



Judul diatas mungkin bagi sebagian kalangan tampak berlebihan, atau mungkin juga dinilai sepele. Namun, paling tidak...lima kata itulah berhasil mengubah kehidupan keseharian saya sebagai dosen – yang semula merupakan hari-hari yang menegangkan, menjadi hari-hari yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Mungkin catatan kecil ini dapat menjadi inspirasi bagi sebagian rekan yang mengalami hal serupa.

Pada saat-saat awal belajar menjadi pengajar, saya berusaha menerapkan prinsip-prinsip dan etika akademik yang pernah saya pelajari. Disiplin pribadi, ketepatan dan semangat dalam pengerjaan setiap tugas, berani menghadapi tantangan (seberat apapun), kesatria (tidak mundur sebelum perang ditempuh), jujur, terbuka terhadap kritik, dan sikap-sikap lain yang mendukung keberhasilan siswa dalam hidupnya.

Hingga sewindu pertama, strategi tersebut relatif masih ampuh; meskipun saya dinilai sebagai dosen yang galak. Siswa yang terlambat hadir atau terlambat mengumpulkan tugas, sudah pasti akan mendapatkan sanksi. Siswa yang ikut asistensi tanpa memperlihatkan kemajuan sesuai dengan yang diminta, tidak lepas dari teguran (tentu saja ditujukan untuk menyemangati yang bersangkutan). Paling tidak, hingga saat itu prinsip-prinsip tersebut menurut saya berhasil mendorong sebagian besar mahasiswa lulus dengan hasil yang baik (bahkan sangat baik). Tentu saja, sebagian besar mahasiswa baru menyadari mereka lulus.

Sejak sekitar tahun 2000an, saya merasakan perubahan karakter mahasiswa secara mendasar. Dalam rapat-rapat staf di prodi pun, muncul berbagai keluhan dari hampir seluruh dosen. Sebagian besar menggarisbawahi kondisi mahasiswa yang kurang disiplin, daya juang yang lemah, tidak tekun, tidak dapat mengelola diri dan waktu, serta sikap lain yang diperlukan bagi siswa yang mandiri.

Sebagian besar prinsip yang saya yakini sejak kecil dan telah diterapkan selama sekitar 10 tahun, mulai saat itu tampak tidak berlaku. Berbagai peristiwa datang silih berganti yang justru menjadi bumerang. Saya terlihat menjadi berlebihan, dinilai bersikap terlalu keras, cerewet, dan mencapaipuncaknya ketika saya merasa tidak match lagi dengan situasi ini. 4 (empat) kali saya berpikir untuk mengundurkan diri dari ITB...

Kegalauan hati selama lebih dari sewindu, pada suatu ketika berubah HANYA dengan mengubah sebuah premis


Semula saya selalu berpikir; mahasiswa SEHARUSNYA sudah memiliki sikap ini dan itu, saat ini saya melihat fakta APA ADANYA dan berusaha membawa mereka pada sikap-sikap yang tetap saya yakini sebagai sebuah sikap yang perlu ditanamkan (seperti telah dijelaskan dimuka). Saya menyadari, bahwa situasi global dunia yang sudah berubah, sangat berpengaruh terhadap alam bawah sadar mereka (juga kita). Dunia yang serba instan, serba cepat, serba di permukaan, serta virtual, dan bahkan mungkin suatu ketika akan melewati batas-batas ambangnya...

Saat itu, hati sya yang semula MEMPERTANYAKAN, baru sadar... dan berubah menjadi perasaan iba dengan situasi yang dialami mahasiswa saat ini. Situasi dan keseharian yang mereka jalani jauh lebih kompleks. Kehidupan keseharian yang mereka hadapi juga pasti sudah membuat mereka bingung jika tanpa bimbingan. Kita harus berempati terlebih dahulu terhadap kondisi mereka (yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya) dan berusaha menjadi pendengar yang baik sert memberikan ruang lebih banyak untuk kesabaran.

Pernahkah kita menduga, satu kritik pedas bisa membuat mahasiswa pindah prodi bahkan mengundurkan diri dari ITB? Pernahkah terbyangkan, perasaan stress karena ketika SMU selalu menjadi juara kelas dan setelah di ITB menjadi orang yang “biasa” - membuat seorang siswa menggunduli rambutnya? Yang lebih spektakuler adalah mahasiswa yang nekat hendak memotong nadinya karena tidak athu lagi untuk tujuan apa dia berada di dunia ini.

Namun sebaliknya, kita mungkin tidak juga menyangka bahwa suatu pertemuan singkat yang bermakna mampu membuat mahasiswa “lolos” dari jeratan putus sekolah. Kita bahkan mungkin tidak menyadari bahwa sebuah sapaan lembut membuat ketakutan mahasiswa lenyap saat sidang akhir yang menegangkan. Sebuah pujian bagi mahasiswa yang sedang berada di titik nadir, mungkin akan dikenang selama hidupnya. Sungguh indah dan betapa berartinya tindak tanduk dan ucapan..........sekecil apapun.

Setelah ini diterapkan, hari-hari yang semula menegangkan, kini menjadi jauh lebih dapat dinikmati. Saya justru banyak belajar dari mereka; bukan tentang substansi ilmu Arsitektur-nya, melainkan ilmu tentang kehidupan masa kini yang sudah jauh lebih kompleks...

Ketika pikiran dan hati kita MAU BERUBAH, informasi datang silih berganti; termasuk hadirnya pengetahuan-pengetahuan tentang LCE, brain-based-learning, juga film Laskar Pelangi yang menekankan pentingnya mengajar (dan belajar) dengan hati. Karena (mungkin) memang inilah jalan kita untuk berhikmat kepada semesta...


To Teach is To Hope
Mary Shaughnessy

To teach is to hope...
That one day a child will know
The meaning of confindence
And be able to touch other lives...

To teach is to pray...
That these newly brave souls will use their talents
To better the world,
instead of just themselves.

To teach is to feel...
That not all the hurts of those in our care
can be healed
But they can be soothed


by, Dhian D. (ITB lectures, awal februari 2010, tulisan ini mengingatkan diriku ketika menjadi seorang guru, bahwa mengajar dgn hati dan semata2 krn-Nya, subhanallah hasilnya begitu menakjubkan, trims buat ibu Dhian atas pencerahannya smg bermanfaat utk para pengajar)


Source : http://rustinah.multiply.com
Di Korea, Rajin Belajar Justru Dirazia Polisi

Di Korea, Rajin Belajar Justru Dirazia Polisi

Jika di Indonesia polisi disibukkan dengan razia tempat-tempat maksiat, di Korea polisi justru disibukkan dengan merazia anak-anak yang ketagihan belajar. 

Jika Anda termasuk orangtua yang getol memaksa anak untuk membaca buku pelajarannya, hati-hatilah. Jangan sampai anak Anda justru ketagihan belajar sehingga tidak bisa menimati hidup. Kalau sudah begini, dibutuhkan kekuatan polisi untuk menyetop nafsu belajar anak Anda.
Inilah yang terjadi di Korea Selatan.

Kehidupan di Korea Selatan memang kompetitif. Semua orang ingin anaknya menjadi yang terbaik dari segi akademik. Kawan saya di sana berkisah anaknya yang baru menginjak umur 3 tahun sudah harus masuk sekolah berasrama (boarding school) dari Senin hingga Jumat. Otomatis hanya 2 hari bertemu dengan ayah-bundanya tersayang.

Sori yah, kata saya. Saya nggak tegaan sama anak sampai segitunya. Kalau anak saya menginjak umur 3 tahun nanti palingan masih santai-santai di rumah main sama neneknya.

Saya (dulu) pernah meyakini kompetisi akan mengekstrak kualitas terbaik dari seorang manusia. Ibarat evolusi, kompetisi akan mempertahankan hanya yang terbaik dan yang lemah akan pupus.
Tetapi efek negatifnya tentu ada. Kehidupan kompetitif akan memicu stres. Kita semua tahu apa akibat dari kehidupan yang penuh dengan tekanan; kesehatan kita tergerogoti sehingga mati pelan-pelan, atau mati cara ekspres dengan bunuh diri. Tak heran Korea Selatan mencatat angka bunuh diri TERTINGGI di antara 30 negara maju, melebihi angka bunuh diri negara Jepang.

Itukah yang kita inginkan dalam kehidupan ini? Sukses di usia muda tapi mati pun di usia muda?
Menyadari hal ini, Pemerintah Korea Selatan mengambil tindakan drastik dengan menghentikan kegiatan belajar anak-anak yang dirasa berlebihan. Seperti diberitakan Time Magazine baru-baru ini, pemerintah negeri ginseng itu menurunkan tim kecil berkekuatan 5-6 orang untuk merazia anak-anak yang masih belajar setelah jam 10 malam. Yang menjadi sasaran utama adalah tempat-tempat les/bimbingan belajar yang dikenal dengan nama hagwon. Saking gilanya nafsu belajar anak-anak Korea ini, jumlah pengajar hagwon jauh lebih besar dibanding jumlah guru sekolah.

Apakah anak-anak Korea memang rajin sehingga keranjingan belajar? Tidak juga. Jurnalis Time mendapati mereka bekerja keras (work hard), tetapi tidak bekerja secara cerdik (work smart). Contohnya, anak-anak ini tidur dalam kelas, tetapi malamnya belajar sampai dinihari. Mereka hanya tidur 5-6 jam sehari dari yang seharusnya 9 jam. Seandainya mereka memusatkan perhatian di dalam kelas, niscaya mereka tidak perlu mengikuti les ini-itu di malam hari.

Sebagai perbandingan adalah negara Finlandia sebagai satu-satunya negara maju yang mencatat hasil ujian akademik anak usia 15 tahun sebanding dengan Korea, hanya 13% anak sekolah yang mengambil les tambahan di malam hari. Jadi sebenarnya les-les semacam itu tidak perlu jika si anak benar-benar memusatkan perhatian di sekolah.

Kegilaan belajar anak Korea juga diakibatkan oleh kompetitifnya proses masuk ke perguruan tinggi. Hanya ada tiga perguruan tinggi top di Korea Selatan yang diperebutkan oleh 580 ribu lulusan sekolah menengah. Tingkat penerimaan hanya 14%. Yang gagal biasanya mengambil les hagwon, dan setelah bekerja keras bagai kesetanan selama 2 minggu untuk ujian ulang, 70% di antara mereka bisa masuk ke perguruan tinggi top tersebut.

Saya kadang-kadang kasihan melihat anak-anak Asia. Bukan cuma anak-anak Korea, tetapi Singapura, China, dan juga mulai menjangkiti Indonesia. Siapa sih yang menghendaki anak-anak ini belajar keras? Si anak sendiri atau orangtua? Di Korea, terbukti orangtua menjadi faktor penekan yang menyebabkan anak gila belajar. Orangtua ingin anaknya berhasil secara akademis, dan anaknya menjadi sasaran tekanan.

Saya masih ingat dulu sekali, kalau rapor saya dan teman-teman ada angka merahnya, orangtua memarahi kita. Kini lain cerita. Kalau ada angka merah, orangtua memarahi sang guru. Ini adalah salah satu bukti bahwa ambisi terbesar untuk melihat kesuksesan si anak justru ada pada orangtua.
Juga anak-anak sekarang, usia balita sudah diikutkan les macam-macam. Les balet, les musik, les bahasa, les bela diri. Ini semuanya bukan permintaan si anak, tapi ambisi orangtua untuk melihat anaknya sukses di usia muda. Si anak sendiri tak peduli apakah dia bisa balet atau berkarate.

Di Singapura biasanya antar orangtua saling membanding-bandingkan. Kalau tetangga sebelah mengirim anak balitanya les balet, dia akan menanyai kita dengan nada sinis, “Anakku sudah bisa berbalet, anakmu bisa apa?” Sebagai orangtua tentu akan merasa panas hati dan terpaksa mengirim si anak berbalet ria walaupun si anak sendiri amsih mau bermain saja di rumah. Budaya ini (saling membandingkan) diistilahkan sebagai “kiasu” di Singapura.

Saya dulu umur 5 tahun masih main gundu dan layangan. Malah masih pakai empeng. Berhitung pun baru lancar pada saat kelas 2 SD. Toh bisa meraih gelar doktor di usia sebelum 30 tahun. Saya justru belum melihat bukti anak-anak jaman sekarang yang dicekoki oleh orangtuanya ini mampu meraih kesuksesan. Jangan-jangan malah bunuh diri karena stres!

Remaja Usia 14 Tahun, Raih Beasiswa S2

Remaja Usia 14 Tahun, Raih Beasiswa S2

Anak Ajaib Colin Carlson (Foto : AP)
Anak Ajaib Colin Carlson (Foto : AP)
STORRS – Seorang remaja berusia 14 tahun asal Conventry, Amerika Serikat berhasil meraih beasiswa nasional sebesar USD30 ribu atau setara dengan Rp259 juta (Rp8.642 per USD) untuk studi pascasarjana. Anak ajaib bernama Colin Carlson ini tengah menempuh studi sarjana di Universitas Connecticut.

Menurut pihak universitas, Carlson adalah satu dari empat mahasiswa dari Universitas Connecticut yang menerima beasiswa prestisius Truman Scholar, sejak berdiri pada 1975.

Carlson mulai menjalani kuliah di Universitas Connecticut ketika berusia sembilan tahun. Kini, dia menjadi mahasiswa untuk gelar ganda dalam biologi evolusioner serta studi lingkungan dan ekologi. Seperti dikutip dari Huffingtonpost, Senin (11/4/2011).

Selain menerima beasiswa dari Truman Scholar, dia juga merupakan satu dari tiga mahasiswa yang mendapatkan USD7.500 setiap orang dari program beasiswa Barry M. Goldwater. Beasiswa ini diberikan kepada siswa yang merintis karir di bidang matematika, sains atau teknik.

Carlson mengaku berencana mengejar gelar sarjana hukum dan doktor, dan bekerja dalam bidang advokasi lingkungan.

AS 'Mencuri' Dokter dari Negara Miskin?

AS 'Mencuri' Dokter dari Negara Miskin?

Di AS, selama puluhan tahun, sebanyak 25% dokter berasal dari negara lain. (Foto : Getty Images)
Di AS, selama puluhan tahun, sebanyak 25% dokter berasal dari negara lain. (Foto : Getty Images)
SISTEM pendidikan tinggi Amerika Serikat disebut sebagai yang terbaik di dunia. Ini terbukti dari masuknya Universitas Harvard, MIT, dan Princeton dalam jajaran universitas paling elit di dunia versi Times Higher Education. Namun begitu, Negeri Paman Sam tidak mampu mendidik tenaga dokter untuk kebutuhan negerinya.

Ini merupakan hasil analisa profesor filosofi dari University College London, Jonathan Wolff. Menurutnya, universitas di AS tidak berfungsi maksimal dalam memasok kebutuhan tenaga kerja untuk negaranya sendiri. AS mengandalkan keahlian dari orang yang dididik di tempat lain, seperti yang digambarkan buku Give Us Your Best and Brightest oleh Devesh Kapur dan John McHale.

Buku ini menjelaskan, sebanyak 40 persen warga keturunan India kelahiran Amerika Serikat mempunyai gelar sarjana, yang kebanyakan di bidang sains dan teknologi. Sementara warga asli kelahiran AS hanya sekitar 10 persen.

Gambaran paling jelas terlihat dalam pendidikan kedokteran. Sebuah laporan yang dilansir The Lancet (media mingguan paling prestisius di dunia medis) menunjukkan, AS tidak mampu melatih banyak dokter untuk memenuhi permintaan akan kesehatan. Pasalnya setiap tahun, lebih banyak dokter yang pensiun dibanding lulusan sekolah kedokteran.

Selama puluhan tahun, sebanyak 25 persen dokter yang bekerja di AS menempuh studi di tempat lain. Bahkan saat ini, tercatat sebanyak 200 persen dokter di AS belajar di luar negeri.
Sebanyak 5.000 dokter menjalani praktik di sub-Sahara Afrika, terutama Ghana, Nigeria dan Afrika Selatan. Pada 2002, ada 47 dokter asal Liberia yang bekerja di AS, dan hanya 72 yang bekerja di Liberia.

Di banyak negara, khususnya di negara berkembang, dokter menjalani praktik dengan mengorbankan publik. Jika seorang dokter dari Ghana direkrut bekerja di AS, maka Ghana tidak hanya kehilangan dokter, tapi juga kehilangan uang yang dibayar untuk praktik.

Memang para dokter yang bekerja di AS mengirim sebagian dari pendapatan mereka kembali ke rumah (dalam istilah bisnis disebut remiten/pengiriman uang). Tapi kompensasi ini jelas lebih sedikit dibanding yang diterima AS. Negara ini menerima uang yang tidak sedikit dari negara berkembang karena memberikan tempat pada pekerja medis. Seperti dikutip dari Guardian, Selasa (5/4/2011).

Mengapa AS tidak bisa memenuhi kebutuhan akan tenaga dokter? Apalagi, dokter di AS dibayar layak. Menurut Wolff, yang jadi masalah adalah biaya kuliah kedokteran di AS sangat mahal. Selain itu, menempuh pendidikan ini juga membutuhkan waktu yang panjang dan sulit. Seseorang yang baru bergelar dokter dan menjalani praktik, harus berutang sebanyak USD200 ribu (Rp1,7 miliar lebih). Dan tidak seperti menjadi pengacara dan bankir, yang tidak pernah mengalami kekurangan di AS, dokter di AS tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan gaji besar dalam waktu cepat untuk membayar semuanya kembali.

Jadi saat kita memandang iri atas prestasi yang dibuat universitas di AS, kita harus ingat bahwa tidak semua tampak seperti yang terlihat. Bahkan, sangat mungkin bahwa kelemahan sistem pendidikan tinggi AS ini berkontribusi atas terjadinya krisis kesehatan dan pembangunan yang terjadi di negara miskin dunia.  

Woow… Inilah Mahasiswa Jenius Berumur 9 Tahun Asal Indonesia

Woow… Inilah Mahasiswa Jenius Berumur 9 Tahun Asal Indonesia

March Boedihardjo, inilah prestasi yang luas biasa satu dari banyak mahasiswa keturunan Tionghoa yang lahir pada tahun 1998 di Hongkong. March Boediharjo dan keluarganya adalah orang Indonesia yang bermukim di Hongkong. Dan ketika tahun 2005, March dan keluarganya hijrah ke United Kingdom, ketika kakak laki-lakinya, Horatio Boediharjo yang saat itu berusia 14 tahun mendapat beasiswa di Oxford University, dalam program Phd, dan membuat ia menjadi salah satu siswa termuda di universitas itu.
Kedua anak keturunan Boediharjo ini memang menunujukantalenta lebih dalam bidang ilmu matematika, ayahnya memang sudah sejak kecil mengenalkan matematika kepada kedua anaknya ini, bahkan ketika makan pun yang mereka bicarakan adalah soal matematika. March menyelesaikan sekolah menengahnya di Inggris ketika ia dan keluarganya menemani kakaknya menempuh pendidikan di Ingris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik.
Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut. Ia juga mendapatkan 8 GCSEs dalam waktu yang sama dengan ketika ia mengikuti ujian A-level di Inggris. Setelah itu, ia pun mendaftarkan diri ke Baptist Hong Kong (HKBU), sebenarnya March sudah melamar ke beberapa universitas lain di Hong Kong. Di antaranya yaitu Universitas of Hong Kong, Hong Kong University of Science and Technology, dan Chinese University of Hong Kong. Namun, sayangnya universitas-universitas itu belum memberikan jawaban, aku ayah March.
Sebenarnya, March ingin menyusul kakaknya yang berusia 14 tahun yang melanjutkan pendidikan di Oxford University di Inggris, namun sayangnya keluarga mereka tidak punya cukup uang, waluapun ayahnya adalah seorang pengusaha karena biaya hidup di Inggris itu sangat mahal dan akhirnya March dan orang tuanya pun harus kembali ke Hongkong lagi meninggalkan kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di Oxford.
Ia mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). Di tahun-tahun pertamnya dia mengkritik bahwa pelajaran yang diajarkan terlalu mudah. Ia mendapatkan B+dan A- di hampir semua ujian matematika yang membuat ia masuk ke dalam daftar Dean, yaitu penghargaan bagi siswa yang memiliki IPK 3.00-3.49 dengan tidak ada nilai dibawah C. March juga akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun yaitu pada tahun 2010. Dia juga mengkritik bahwa ia tidak punya kesan baik terhadap rekan kuliahnya.
“Mereka tidak memberi tanggapan (di ruang kuliah). Mereka cuma mendengarkan dan satu sama lain tidak berinteraksi,” katanya.
Anak itu mengatakan rekannya di sekolah sebelumnya “ingin bermain”, tidak seperti mahasiswa perguruan tinggi.
Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya.”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya.
Seorang wartawan BBC di Hongkong, Vaudine England pernah mewawancarinya suatu saat dan ia berkata bahwa March Tian Boedihardjo tidak beda dengan bocah-bocah lain yang berusia 9 tahun, ia masih memiliki sisi kejenakaan khas anak-anak dan March juga mengaku bahwa selain ia hobi melahap dan mempelajari semua buku matematika miliknya, ia juga sangat senang bermain catur, monopoli, dan lego. (forum.vivanews.com)
Apa yang Salah dengan Pendidikan Indonesia?

Apa yang Salah dengan Pendidikan Indonesia?

Pada akhir abad ke-20, para gubernur Amerika Serikat (AS) menyatakan, perang bukan lagi di medan pertempuran, tetapi di ruang kelas.

Tetapi, pertarungan di ruang kelas tersebut belum terwujud di Indonesia. Pasalnya, pemerintah kita bukan hanya berbohong, tetapi tidak menjalankan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Hal tersebut disampaikan Guru besar emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. H. Soedijarto, MA, dalam Diskusi Publik untuk Menganalisis Laporan ke Rumah Pengaduan Pembohongan Publik di Bidang Pendidikan yang diselenggarakan oleh Forum Rektor dan Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan bekerja sama dengan Ma'arif Institute, hari ini.

Soedijarto memaparkan, salah satu kebohongan yang dilakukan pemerintah adalah tidak memenuhi amanat pasal 31 ayat (2) UUD 1945. "Pasal tersebut menyiratkan kewajiban pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan. Tapi kenyataannya, mengapa pemerintah justru hanya memberikan bantuan melalui bantuan operasional sekolah (BOS), bukannya mengusahakan pendidikan gratis?" kata Soedijarto di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jumat, (4/1/2011).

Hal lain yang dijamin konstitusi adalah setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan sesuai minat dan bakatnya. Tapi yang terjadi, selain ada sistem pendidikan nasional, tiap daerah juga mengusahakan sistem pendidikan sendiri-sendiri.

"Lantas soal biaya pendidikan, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan nasional sekurang-kurangnya kita membutuhkan 20 persen dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN), bukan berarti mentok di angka itu. Tapi sebelumnya, pernahkah kita menghitung kebutuhan pendidikan?" ujar Soedijarto menggugat. 

Dia menyayangkan, tidak ada yang gelisah dengan permasalahan tersebut. Bahkan, para rektor pun hanya berdiam diri ketika pemerintah membolehkan perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP). Padahal, sudah menjadi kewajiban pemerintahlah menyediakan biaya pendidikan.

"Di seluruh dunia, anggaran perguruan tinggi mencapai satu persen pendapatan domestik bruto (PDB). Indonesia baru 0,3 persen PDB. Karena itulah PTN boleh menyelenggarakan BHP. Tapi kenapa rektor tidak menuntut pemerintah?" Soedijarto menegaskan.

Dia juga mengkritik, tidak ada satu pun elit politik mengatakan pendidikan itu penting. "Padahal, Deng Xiao Ping mengatakan, pemimpin yang tidak menguasai pendidikan tidak pantas memimpin," ujarnya menambahkan.

Sumber : http://kampus.okezone.com
Siswa SD Juara Belajar Entrepreneurship Di Kedai Juara

Siswa SD Juara Belajar Entrepreneurship Di Kedai Juara




Untuk menumbuhkan jiwa enterpreneurship siswa, SD Juara Medan salah satu binaan Rumah Zakat meluncurkan Kedai Juara sebagai bagian dari program koperasi sekolah, Kamis (9/12). Sri Budiarti, Guru SD Juara Medan menyatakan, Kedai Juara adalah salah satu pembelajaran siswa SD Juara untuk menjadi penjual dan pembeli yang baik. Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan jajan siswa-siswi SD Juara.
Sri Budiarti menjelaskan, kedai Juara ini buka setiap jam istirahat dan dijaga oleh siswa Kelas III dan kelas IV. “Jika ingin berbelanja di kedai ini, konsumen harus membiasakan budaya antre dan sabar,” ungkapnya.
Menurutnya, konsumen yang tidak antre dan sabar tidak akan dilayani oleh penjaga kedai. “Jiwa enterpranership ditanamkan kepada pedagang dan kesabaran ditanamkan kepada para pembeli.”
Seperti Wira, salah satu penjaga Kedai Juara ini hanya melayani pembeli yang antri. Tak hanya melayani pembeli, Wira juga menjadi tauladan bagi para siswa SD Juara lainnya dengan mendapat predikat Anak Sholeh karena kesukaannya membaca Al-quran.
Pada awalnya Wira membaca Al-quran besar dan agak rusak. Namun, dia tidak malu dan tetap membaca Al-qurannya di waktu senggang. Terbukti dengan Al-quran sakunya, Wira lebih giat membaca Al-quran.
Hal ini juga bisa terlihat saat siswa kelas IV ini menjadi penjaga Kedai Juara. Walaupun diberi tanggung jawab menjaga koperasi sekolah, ia memanfaatkan waktu dengan membaca Al-quran saat menunggu pembeli.
Sri Budiarti menambahkan, kebiasaan ini juga menjadi salah satu teladan untuk siswa-siswi SD Juara yang lain. "Alhamdulillah karena predikatnya sebagai Anak Sholeh, sekolah menghadiahkan Al-quran saku untuknya sehingga lebih praktis untuk dibaca di mana pun," ujarnya.

Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening

Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening

FINA Af'idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak orang berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga kilometer perjalanan arah selatan dari kota Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak mampu, ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini menjamur di Jakarta.

MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi Fina internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja. Setiap pagi berlatih bahasa Inggris dalam English Morning. Ia pernah menjuarai penulisan artikel on line di kotanya. Ia juga berbakat dalam olah vokal meski ia mengatakan tidak ingin menjadi seorang penyanyi.

"Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi. Padahal, cita-citaku banyak. Aku ingin jadi presenter, aku ingin jadi penulis, pengarang lagu, ilmuwan, dan banyak lagi? Aku juga ingin berkeliling dunia," kata Fina.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka, sekolah yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. Namun, siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah sangat mencintai dan bangga dengan sekolahnya.

Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul 13.30. Akan tetapi, jam sekolah itu terasa sangat pendek bagi murid-murid sekolah tersebut sehingga setelah makan siang mereka biasanya kembali lagi ke sekolah. Mereka belajar sambil bermain di sekolahnya sampai malam, bahkan tak jarang mereka menginap di sekolah.

Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukanlah penguasa otoriter di kelas, tetapi teman belajar. Mereka bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa ngoko, strata bahasa yang hanya pantas untuk berbicara informal dengan kawan akrab.

Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik mengerjakan soal-soal matematika dengan bersenda gurau, ada yang mengerjakan soal sambil bersenandung, yang lain bermain monopoli. Suasana bermain itu bahkan di taman kanak-kanak pun kini makin langka karena mereka dipaksa oleh gurunya untuk membaca dan menulis.

SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.

"Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?" tuturnya. Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.

"Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting mereka bisa bersekolah," kata Bahruddin.

Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan tidak sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui sebagai sekolah berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah. Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Akan tetapi, ia mengubah kecenderungan SMP Terbuka sekadar sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius.

Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya digunakan untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah Thayyibah. Jumlah guru yang mengajar sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar di antaranya para aktivis petani.

Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini mondok di pesantren. Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari seorang pengusaha internet di Salatiga yang tertarik dengan gagasan Bahruddin. Dengan modal seadanya sekolah itu berjalan.

Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tidak perlu waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP Qaryah Thayyibah jauh lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah induknya, terutama untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi sekolah-sekolah negeri dalam lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga mewakili Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, dikirim mewakili Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia Pasifik di Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai rata-rata mata pelajaran Bahasa Inggris siswa Qaryah Thayyibah mencapai 8,86.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian. Di bawah bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung dalam grup musik Suara Lintang. Kebolehan anak-anak itu dalam menyanyikan lagu mars dan himne sekolah dalam versi bahasa Inggris dan Indonesia bisa didengarkan ketika membuka alamat situs sekolah www.pendidikansalatiga.net/qaryah. Grup musik anak-anak desa kecil itu telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, maupun video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus untuk pencarian dana. Seluruh siswa bisa bermain gitar, yang menjadi keterampilan wajib di sekolah itu.

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, satu paket pelajaran Bahasa Inggris BBC di rumahnya. Semua itu tidak digratiskan. Anak-anak memiliki semua itu dengan mengelola uang saku bersama-sama sebesar Rp 3.000 yang diterima anak dari orangtuanya setiap hari. Uang sebesar Rp 1.000 dipergunakan untuk mengangsur pembelian komputer. Untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan makanan kecil tiap hari Rp 1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah. Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan murid dalam bentuk gitar, kamus, dan lain-lainnya.

Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan sekolah itu. Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan rumah di sebuah desa kecil mereka mendapatkan banyak hal yang tidak diperoleh di sekolah-sekolah yang dikelola dengan logika dagang.

Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat mendaftar SLTP di Salatiga dua tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000, belum termasuk buku dan seragam. Tidak ada seorang murid pun ke sekolah dengan berjalan kaki selain anaknya, Emi Zubaiti (13). Kini Emi menjadi seorang anak yang pandai dalam berbagai mata pelajaran, pintar bernyanyi, dan percaya diri. Ia tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan Emi, anak pasangan tukang reparasi sofa dan bakul jamu gendong, mendapat sekolah yang baik.

Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari uang saku anaknya. Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar komputer. "Tidak pernah terpikir, saya bisa membelikan komputer. Kini saya malah bisa ikut menikmati," kata Ismanto.

Catatan pribadi :
Nah, kita liat sample aja yah. Bukan berarti pendidikan harus mahal kan? Bisa murah tapi berkualitas. Pendidikan murah berkualitas bukanlah sesuatu yang utopis, tapi bisa dicapai dengan tekad. Siapa bilang sekolah harus mahal?
 
Sumber : http://pendidikanindonesia.blogspot.com/ 
Syariah dan Mimpi Pendidikan Murah

Syariah dan Mimpi Pendidikan Murah

Banyaknya kesemrawutan dalam sistem pendidikan kita, mengapa tak mencoba mengambil cara Islam?

Oleh: Andi Perdana Gumilang

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan.
Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi (PT), membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah alias “Orang miskin dilarang sekolah”.

Untuk masuk perguruan tinggi saja saat ini dibutuhkan biaya jutaan sampai puluhan juta rupiah, bahkan ada yang sampai ratusan juta rupiah. Biaya yang mahal menjadikan sekolah sebagai barang mewah bagi kebanyakan anggota masyarakat. Kalaupun ada sekolah gratis, itu hanya sampai tingkat SMP dan hanya berlaku bagi sekolah negeri. Selebihnya, sekolah tingkat lanjut hanyalah untuk mereka yang mampu menanggung biayanya, tidak untuk orang-orang miskin.

Pada akhirnya, anak-anak dari keluarga kurang mampu harus puas dengan sekolah apa adanya dan membuang mimpi untuk menikmati pendidikan tinggi. Itu artinya, mereka harus membuang mimpi memperbaiki nasib keluarga. Jika dulu sekolah bisa dikatakan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib, maka dengan mahalnya biaya sekolah, peluang perbaikan nasib itu seakan ditutup untuk mereka yang kurang mampu. Jadilah mereka yang kurang mampu terjebak terus-menerus secara turun-temurun dalam lingkaran keterpurukan.

Pendidikan tinggi akhirnya menjadi “hak khusus” kalangan kaya. Jika akhirnya sistem yang ada terkesan lebih berpihak kepada kalangan kaya, maka memang seperti itulah tabiat dari sistem kapitalisme. Sistem ini memang didesain untuk selalu berpihak kepada orang-orang kaya, terutama para pemilik modal, dengan mengorbankan rakyat kebanyakan.

Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Negara seharusnya sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh atas pemeliharaan urusan-urusan masyarakat. Sebagaimana Rasulullah saw. menegaskan:

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertangunggjawaban atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Di antara pengurusan rakyat adalah pendidikan. Jadi, dalam Islam negara berkewajiban memelihara urusan pendidikan rakyatnya. Negara justru harus bertanggung jawab penuh atas masalah pendidikan rakyatnya.

Lebih dari itu, Islam menetapkan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan utama masyarakat secara umum yang pemenuhannya menjadi kewajiban negara. Negara wajib menyediakan pendidikan bagi rakyat secara gratis. Inilah prinsip dasar dalam sistem Islam. Prinsip dasar ini jelas bertolak belakang dengan prinsip dasar dalam sistem kapitalisme yang sedang diterapkan di dunia, termasuk di negeri ini.

Berdasarkan pinsip ini, jika negara lalai atau abai terhadap masalah pendidikan rakyat maka kelalaian itu dinilai sebagai pelanggaran terhadap ketentuan Allah, dan tentu saja penguasa berdosa karenanya. Prinsip inilah yang menjadikan para pemimpin dalam Islam selalu fokus terhadap pendidikan. Rasulullah saw. telah mencontohkan hal ini.

Rasulullah saw langsung mendidik masyarakat. Beliau juga mengangkat orang-orang yang bertugas memberikan pengajaran kepada masyarakat. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Hisyam di dalam Sirah Ibn Hisyam, Rasul juga pernah menjadikan tebusan bagi tawanan Perang Badar dalam bentuk mengajari anak-anak kaum Anshar membaca dan menulis. Untuk semua itu masyarakat tidak dipungut biaya sepeser pun. Prinsip itu pula yang mendorong para khalifah setelah beliau membangun berbagai fasilitas pendidikan secara cuma-cuma untuk rakyat. Penyelenggaraan pendidikan berkualitas disediakan untuk rakyat yang menginginkannya tanpa dipungut biaya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’tashim billah, Khalifah al-Mustanshir, Sultan Nuruddin, dan para penguasa Islam lainnya sepanjang masa kekhilafahan Islam.

Wajar jika sepanjang kekuasaan kekhilafahan Islam, lahir banyak ulama, cendekiawan dan ahli di berbagai bidang. Mereka melahirkan temuan-temuan spektakuler yang mendahului ilmuwan-ilmuwan Barat puluhan bahkan ratusan tahun lebih dulu.

Sistem Islam memungkinkan mengulang semua itu. Pasalnya, Islam bukan hanya menetapkan negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis bagi rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim, melainkan Islam juga menetapkan sistem kepemilikan yang menetapkan barang-barang tambang dan kekayaan alam lainnya menjadi milik bersama seluruh rakyat yang pengelolaannya diwakilkan kepada negara, yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Dengan ketentuan itu, negara akan selalu memiliki dana yang cukup untuk membiayai pelayanan pendidikan gratis untuk rakyat secara memadai.

Mahalnya biaya sekolah adalah akibat logis dari pemerintahan kapitalis yang menerapkan ideologi kapitalisme di negeri ini. Selama ideologi kapitalisme diadopsi dan diterapkan di negeri ini, biaya sekolah mahal akan terus menjadi masalah.

Sebaliknya, Islam menetapkan bahwa negara wajib memelihara urusan rakyat, termasuk pendidikan. Bahkan negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas untuk seluruh rakyat tanpa kecuali secara gratis. Untuk itu, Islam juga menetapkan sistem ekonomi yang akan menjamin negara bisa selalu membiayai penyediaan pendidikan gratis itu.

Karenanya, untuk mengakhiri masalah mahalnya biaya sekolah secara tuntas, maka intinya, syariah Islam harus segara ditegakkan, termasuk dalam pendidikan. Hari Pendidikan Nasional adalah saat yang tepat untuk membenahi semua ini sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh semua orang, bukan hanya golongan kaya tertentu saja.

*) Ketua umum Majelis Ta’lim Al-Marjan FPIK IPB 2007-2008 dan Tim Laboratorium Dakwah Syiar Kampus  IPB

Sumber :   Hidayatullah.com
Republik Tawuran Bernama Indonesia

Republik Tawuran Bernama Indonesia

 Oleh: Amran Nasution*

Sistem demokrasi liberal sejak 1998 ini tak juga berhasil memberikan kemakmuran pada rakyat. Tawuran terjadi di mana-mana Agaknya Indonesia sekarang tergolong failed state, negara gagal. Apa pula itu? Think-tank (tangki pemikir) dari Amerika Serikat, Fund for Peace, setiap tahun sejak 2005 menyusun dan mempublikasikan daftar negara gagal (Failed States Index).

Failed States, menurut lembaga itu, memiliki 12 kriteria menyangkut masalah politik, ekonomi, dan sosial. Tapi yang terpenting: pemerintah pusat begitu lemah sehingga tak memiliki kontrol yang efektif atas teritorialnya, pelayanan publik terbengkalai, tindak kriminal dan korupsi menyebar luas, terjadi pengungsian atau perpindahan penduduk tanpa dikehendaki, dan perekonomian merosot tajam.

Dengan kriteria seperti itu, Fund for Peace memasukkan Indonesia dalam skala warning (peringatan) atau persisnya di peringkat 61. Artinya, masih ada 60 negara lebih jelek dari Indonesia, walau yang lebih bagus  jauh lebih banyak.

Tampaknya posisi Indonesia tertolong karena perekonomiannya sekarang tak sedang merosot tajam, seperti dimaksudkan dalam kriteria. Peringkat pertama sebagai negara gagal adalah Somalia, disusul Chad, Sudan, Zimbabwe, Congo, Afghanistan, dan Iraq.

Penulis terkenal, profesor bahasa dan filsafat dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Noam Chomsky, pada 2006 menulis buku berjudul Failed States, mengungkap kesewenang-wenangan negara super-power Amerika Serikat, terutama ketika menyerbu Afghanistan dan Iraq.

Berbagai alasan dipakai negara adi-daya itu untuk campur tangan ke negara lain. Belakangan, setelah serangan teroris 11 September 2001, yang dianggap mengancam keamanan Amerika Serikat  adalah negara gagal (failed states). Dalam konsep ini termasuk negara seperti Iraq yang diduga mengancam Amerika Serikat dengan senjata pemusnah massal (kelak terbukti tak pernah ada)  dan terorisme internasional (yang sesungguhnya tumbuh sebagai akibat pendudukan pasukan Amerika atas negeri itu).

Dalam interpretasi yang lebih ketat, failed states diidentifikasikan dengan kegagalan memberikan keamanan bagi penduduknya, kegagalan menjamin hak-hak di dalam dan luar negeri atau memelihara berfungsinya institusi demokrasi (Noam Chomsky dalam Failed States, The Abuse Of Power And The Assault On Democracy. Hamish Hamilton, Great Britain, 2006).

Tampaknya semua yang dimaksudkan sudah terjadi di negeri ini. Presiden SBY hanya bisa berpidato atau berwacana bahwa negara tak boleh kalah oleh kekerasan. Tapi perkelahian dua kelompok pemuda di Jalan Ampera Jakarta Selatan, 29 September lalu, menunjukkan pemerintah gagal memberikan keamanan kepada penduduk. Bahwa terbukti dengan konkret preman amat berkuasa di negara ini. Ada yang mengatakan Indonesia sekarang dalam kondisi darurat preman.

Soalnya, hari itu dua kelompok pemuda terlibat tembak-menembak di jalan raya dengan menggunakan sejumlah pistol, tawuran dengan pedang, tombak, parang, kapak dan pentungan, tak ketinggalan hujan batu. Peristiwa itu terjadi di siang bolong, disaksikan polisi dan wartawan dengan kameranya, dan disiarkan televisi ke seluruh negeri. Tubuh-tubuh yang tergeletak di tengah jalan terluka parah dengan darah berceceran jadi sasaran empuk kamera.

Polisi? Ratusan polisi ada di tempat itu. Tapi mereka tak mampu mencegah orang berkejaran dengan pedang dan golok terhunus, bahkan menembak-nembakkan pistol. Adegan-adegan yang terjadi di siang bolong itu sungguh belum pernah terjadi di dunia mana pun. Agaknya itu hanya bisa ditemukan dalam imajinasi para penulis skenario Hollywood untuk film wildwest yang dibintangi John Wayne atau semacamnya.

Perang geng dan kartel narkoba di Meksiko atau Colombia memang mengerikan dengan korban amat besar. Tapi perang dan tembak-menembak itu tak terjadi di siang bolong secara terbuka disaksikan kamera wartawan televisi dan polisi, sebagaimana terjadi di Jalan Ampera.

Kabarnya polisi tak mampu mencegah perkelahian karena jumlah personal dan persenjataannya tak memadai. Dari sini muncul tuduhan bahwa intelijen polisi kebobolan dalam meramalkan apa yang akan terjadi di Jalan Ampera, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Maka sementara menunggu bantuan polisi, korban pun berjatuhan, bergelimpangan dan berdarah-darah, bergeletakan di jalan raya. Tercatat pada hari itu tiga orang meninggal dunia, 12 orang terluka, 3 di antaranya polisi.

“Pertempuran’’ di Jalan Ampera itu merupakan ekor perseteruan dua kelompok pemuda di klub malam Blowfish, Plaza City Senayan, Jakarta, 3 April lalu, yang konon disebabkan perebutan lahan pengamanan. Akibatnya, seorang pemuda meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka. Peristiwa ini menyebabkan 4 pemuda diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tawuran besar tadi meletus pada sidang pengadilan kedua, ketika dua kelompok yang bertikai saling mengerahkan anggotanya ke pengadilan. Mestinya apa yang terjadi sudah bisa diantisipasi polisi.

Sistem yang Koruptif

Tapi sesungguhnya ‘’pertempuran’’ Jalan Ampera hanya salah satu yang paling seru. Di mana-mana selama ini peristiwa sejenis banyak terjadi. Hampir bersamaan, misalnya, di Tarakan, Kalimantan Timur,  ada ‘’perang’’ antar-kelompok masyarakat yang berbeda.

Tawuran dimulai 27 September lalu oleh peristiwa sepele dan baru berakhir dua hari kemudian melalui perdamaian dua kelompok, dihadiri Gubernur Kaltim dan para pejabat daerah lainnya. Peristiwa ini menyebabkan 5 nyawa melayang, sejumlah lainnya luka-luka, beberapa rumah dibakar, dan sekitar 30.000 warga mengungsi.

Pada  4 Oktober lalu, gerombolan massa menyerbu dan melemparkan batu ke kantor polisi sektor (Polsek) Bandar Udara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Polisi mencoba menghalau demonstran dengan melepas tembakan. Itu mengakibatkan salah seorang penyerbu tewas dan lima temannya ditangkap polisi.

Sebelumnya, 31 Agustus lalu, di Buol, Sulawesi Tengah, 4 penduduk meninggal dunia, puluhan luka-luka setelah terjadi bentrokan dengan polisi setempat. Massa menyerbu kantor polisi karena marah atas tewasnya seorang tukang ojek di rumah tahanan.

Di Tanjung Priok, April lalu, meletus kerusuhan Koja ketika Satpol PP akan menggusur makam Mbah Priok di areal seluas 5,4 hektar milik PT Pelindo. Penduduk setempat mempertahankan makam itu yang mereka anggap keramat. Maka terjadilah tawuran antara ratusan Satpol PP dengan rakyat. Akibatnya 3 anggota Satpol PP terbunuh, ratusan luka-luka, termasuk 20-an anggota Polri. Puluhan mobil dibakar dan beberapa kantor dijarah.

Banyak lagi peristiwa mirip terjadi di pelbagai pelosok Tanah Air, terutama kerusuhan sebagai akibat ketidak-puasan atas hasil pemilihan umum kepala daerah (Pilkada). Bahkan perkelahian massal sering terjadi dalam konser musik atau pertandingan sepak bola.

Mengapa semua ini terjadi? Ada banyak jawaban. Salah satu di antaranya karena hukum tak berjalan. Memang di mana-mana ada kantor polisi, kejaksaan, dan pengadilan. Tapi orang tahu bahwa kebanyakan polisi, jaksa, dan hakim, bisa dibayar. Artinya, keadilan sulit ditegakkan. Akhirnya, orang cendrung main hakim sendiri, sementara aparat hukum dan pemerintahan kehilangan wibawa. Pada saat itulah kantor polisi pun sering menjadi sasaran pelampiasan kemarahan masyarakat.

Gagalnya penegakan hukum mengancam sistem demokrasi liberal yang diterapkan di negeri ini sejak Reformasi 1998. Karena memang di mana pun sistem demokrasi hanya bisa berjalan bila hukum ditegakkan.

Jangan heran kalau Pilkada yang berlangsung di daerah selalu diikuti aksi pembagian uang kepada para pemilih. Penelitian yang dilakukan Political Research Institute for Democracy (Pride) Jakarta di Mojokerto Mei lalu, menunjukkan politik uang memang terjadi dalam Pilkada. Malah dalam penelitian lebih 60% responden menyatakan memilih calon atau kandidat yang memberikan uang kontan kepada pemilih. Program muluk-muluk tak diperlukan.

Bila penelitian itu sahih, maka sistem demokrasi yang dibangga-banggakan Presiden SBY selama ini tak ada artinya. Dan lebih parah lagi, sistem pemilihan yang mahal dan korup ini menyebabkan korupsi bertambah subur di Indonesia.

Betapa tidak? Untuk maju dalam pencalonan Bupati sekarang dibutuhkan dana untuk partai politik dan kampanye mencapai Rp 10 milyar. Untuk gubernur jumlah tadi jadi berlipat-lipat, bisa mencapai ratusan milyar rupiah. Semua itu tentu jumlah yang  terlalu besar yang tak mungkin bisa dibayar dari gaji yang diterima para calon bila kelak terpilih.

Pertanyaannya sekarang: bila terpilih bagaimana caranya bupati, gubernur, bahkan seorang presiden, mengembalikan dana kampanye yang telah dikeluarkan? Apalagi semua ini terjadi ketika hukum tak tegak dengan benar. Inilah persoalan terbesar bangsa pada saat ini: sistem politik yang kita gunakan sesungguhnya koruptif. Itu sebabnya perilaku korupsi tambah meluas saja.

Profesor Samuel P. Huntington, ahli ilmu politik dari Harvard University yang amat terkenal dengan teori benturan antar-peradaban (clash of civilization) itu, sejak tahun 1989 telah mengeluarkan pendapat bahwa demokratisasi berhubungan dengan kemakmuran. Di negeri dengan pendapatan rakyatnya rendah, sistem demokrasi selalu terancam untuk kembali menjadi otoritarian. Kelemahan sistem itu terutama karena sulitnya pengambilan keputusan dilakukan (Samuel P.Huntington, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, University of Oklahoma Press, 1991).

Mengikuti thesis ini, berarti sistem demokrasi di Indonesia sebagai negara berpenghasilan rendah dengan begitu banyak penduduknya hidup dalam kemiskinan, selalu terancam untuk kembali ke sistem otoritarian. Berbagai kerusuhan yang terus terjadi di sekeliling kita sekarang mengakibatkan semakin banyak rakyat yang kehilangan kepercayaan bahwa sistem demokrasi bisa menjadikan kita  lebih makmur. Kenyataannya Indonesia malah menjadi failed state.

Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta
Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Summa Cum Laude di Maroko

Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Summa Cum Laude di Maroko

Arip Rahman, mahasiswa Indonesia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude usai mempertahankan disertasinya berjudul “Syeikh Ahmad Deedat dan Upayanya Dalam Perdebatan Agama” dalam sidang yang berlangsung selama tiga jam di Auditorium Ahmed Hijji Fak. Adab dan Ilmu Humaniora , Universitas Mohamed V, Rabat, Maroko.
Arip yang juga bekerja sebagai lokal staf KBRI Rabat, Maroko mempertahankan disertasinya di hadapan empat tim penguji yang terdiri dari Ketua Prof. Dr. Mohamed Amin Al Ismaily, Promotor Prof. Dr. Jamal Al Sa’edy dan dua anggota Prof. Dr. Ahmad Al Boukily dan Prof. Dr. Ahmad Al Zeyadi, ujar Sekretaris III / Pelaksana Fungsi Pensosbud, Rahmat Azhari dalam keterangananya kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Rahmat Azhari mengatakan dalam acara sidang tersebut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta ibu Mahsusoh Ujiati , keluarga besar KBRI Rabat dan civitas akademika Universitas Mohamed V Rabat serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan Maroko.
Dalam disertasi setebal 400-an halaman yang ditulis dalam bahasa Arab, penulis mengemukakan pentingnya mendalami persoalan dialog dan perdebatan agama. Pemilihan Syeikh Ahmad Deedat sebagai tokoh yang dikaji dalam disertasi ini, menurut penulis, adalah karena perjuangan Syeikh dalam dialog antar agama khususnya antara Islam-Kristen layak mendapat apresiasi dan patut diteladani.
Sejak kemunculannya, Islam mempunyai karakteristik sebagai agama dakwah dan dialog yang mempunyai fitrah untuk dapat menembus batas negara, suku, bangsa dan bahasa. Dengan bekal basis teologi yang cukup dalam memahami Islam sebagai agama tauhid dan dakwah diharapkan umat Islam dapat menyampaikan pesan Islam yang Rahmatan lil `Alamin kepada pemeluk agama lainnya.
Disebutkan Syeikh yang mendalami persoalan-persoalan keagamaan dan banyak membaca literatur serta kitab suci agama lain secara otodidak. Oleh karenanya metode yang digunakan mempunyai karakteristik berbeda dari tokoh dialog agama lainnya yaitu cenderung lebih bebas, banyak menggunakan gaya bahasa cerita dan narasi namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam berdialog.
Perjuangan dakwahnya ditujukan untuk melawan gerakan kristenisasi yang sangat gencar dilakukan oleh para misionaris Kristen di kawasan Afrika.

Syeikh Ahmad Deedat lahir di India tahun 1918 dan kemudian menetap di Afrika Selatan sejak umur 9 tahun hingga wafat pada 2005. Beliau adalah pendiri Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan mendapat penghargaan King Faisal Award tahun 1986 atas dedikasinya selama 50 tahun berdakwah dan berdialog dengan umat agama lain.