Tampilkan postingan dengan label MATERI KULIAH S2/S3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KULIAH S2/S3. Tampilkan semua postingan
THE ASCENT OF MAN : "LOWER THAN THE ANGELS"

THE ASCENT OF MAN : "LOWER THAN THE ANGELS"

Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang diberi kumpulan bakat yang membedakannya dengan hewan, sehingga manusia adalah pencerah dari dunia dan pencari alam serta hewan yang ada dimana-mana.
Setiap hal di dunia penuh dengan adaptasi yang pasti dan menarik dimana mereka menyesuaikan dengan lingkungannya. Tetapi alam sebagaimana jutaan tahun dari evolusi biologis tidak memasukkan manusia pada tiap lingkungan yang spesifik. Manusia adalah satu-satunya yang tidak mengunci ke dalam lingkungannya sendiri. Imajinasinya, alasannya, kehalusan emosionalnya dan pemikirannya membuat hal ini mungkin baginya untuk tidak menerima lingkungan, tetapi melakukan perubahan terhadap lingkungannya.  Terlihat dari serangkaian penemuan, dari waktu ke waktu manusia telah membuat kembali lingkungannya yang menjadi berbeda dari evolusi, hal ini merupakan evolusi budaya.
Manusia membuat rencana dan penemuan-penemuan baru dengan memasukkan bakat-bakat yang berbeda bersama-sama sehingga penemuan-penemuannya menjadi lebih halus dan lebih tajam sebagaimana manusia belajar mengkombinasikan bakatnya ke dalam cara-cara yang lebih komplek dan lebih tepat, sehingga penemuan-penemuan besar dari masa ke masa dan budaya yang berbeda di dalam teknik, ilmu pengetahuan, seni menampilkan peningkatan secara lebih kaya dan lebih komplek dengan segala kemampuan manusia.
Dalam setiap masa atau tingkatan terdapat satu titik tekan (turning poin), yaitu satu cara baru dari melihat dan mengukur koherensi dunia. Tiap budaya berusaha untuk memperbaiki visinya, ketika ditransformasikan oleh suatu konsepsi baru, baik alam maupun manusia.
Sejarah pemikiran manusia merupakan sesuatu yang terbuka dari bakat-bakat yang berbeda. Sehingga hal-hal yang terjadi dalam perjalanan melalui sejarah intelektual merupakan suatu perjalanan individu sampai pada puncak yang tinggi dari peningkatan manusia. Manusia meningkat dengan bakat dan kemampuannya serta apa yang diciptakan pada monumen-monumen untuk tingkatan dalam pemahamannya terhadap alam dan dirinya sendiri.
Cerita masa lalu digunakan untuk memasukkan penciptaan manusia ke dalam satu usia emas dan satu pandangan yang indah dan penuh legenda yang berawal dari penciptaan manusia itu sendiri sebagaimana Charles Darwin menuangkannya dalam The Origin of Species (1859) dan The Descent of Man (1871). Dimana jutaan tahun yang lalu di Afrika ditemukan fosil dari ciptaan yang telah menjadi manusia, yang ditemukan perbedaan-perbedaan antara kerangka manusia dengan perkembangan dari tengkoraknya, sehingga diharapkan bahwa hewan-hewan dari savana juga berubah secra drastis. Evolusi manusia dimulai ketika iklim Afrika berubah menjadi kering; daun-daun menyusut, hutan-hutan menjadi kurus yang berubah menjadi savana.
Salah satu organ tubuh manusia yang paling informatif pada manusia terletak pada kepalanya. Kepala meninggalkan satu fosil yang tetap, sehingga dapat menjadi bahan penyelidikan, tidak seperti organ-organ tubuh lainnya yang lembut yang telah mengalami perubahan pertumbuhan. Kepala (tengkorak) memberikan beberapa petunjuk jika dilihat dari ukurannya. Jumlah dari tengkorak fosil yang diketemukan di Afrika Selatan dalam lima puluh tahun terakhir telah memberikan karakteristik-karakteristik dari kepala (tengkorak) ketika hal ini telah menjadi seperti manusia. Tengkorak ini merupakan tengkorak sejarah dan dinamakan Taung.
Selain itu dalam penemuan fosil, gigi biasanya selalu sebagai pembuka rahasia.  Dari hal tersebut menunjukkan bahwa tengkorak yang diketemukan telah mencari makan dengan tangannya dan bukan dengan mulutnya. Bukti dari gigi juga telah mengimplementasikan bahwa ia bukan pemakan daging mentah. Selain itu adanya penciptaan tangan merupakan hal yang paling sering dilakukan untuk membuat alat untuk memotong daging dan membunuh hewan.
Dari hasil pemikiran dalam kerja ilmu pengetahuan. Bagaimana bayi menjadi cekatan, pengamat, pemikir, penyadar, mampu untuk memanipulasi dalam pikirannya simbol-simbol bahasa, matematika, seni, geometri serta sajak dan ilmu pengetahuan? Bagaimana perkembangan dan peningkatan  manusia membawa hewan-hewan tersebut mulai meningkatkan penelitian ke dalam kerja alam, ilmu pengetahuan, dimana tidak diketahui bagaimana bayi Taung mulai hidup, walau secara keseluruhan hal ini dapat menjadi penilaian secara keseluruhan dari perjalanan hidup manusia berawal.
Setiap tindakan manusia berawal dari beberapa bagian pada saat manusia itu ada.  Apakah bakat fisik yang membedakan manusia dengan hewan? Contoh ketika seorang atlit berlari atau melompat. Ketika atlit pelari cepat mendengar pistol, respon pertama yang dilakukan sama dengan respon pada rusa  yaitu lari. Tetapi terdapat perbedaan yang utama, pelari tidak dalam keadaan takut, karena suara tembakan adalah pistol permulaan dan dilakukan dengan sengaja dan tindakannya adalah untuk mengeksplorasi batas-batas kekuatan yang dimilikinya.
Kepala lebih dari sekedar symbol imajinasi manusia. Kepala merupakan kumpulan pandangan hidup manusia ke depan yang mengarahkan pada evolusi budaya. Perubahan dalam gigi merupakan tanda terpisahnya garis yang membawa manusia pada awal permulaannya.
Saat ini terdapat kekosongan dalam catatan fosil dari lima sampai 10 juta tahun yang lalu, yang mana kekosongan yang tersembunyi tersebut merupakan bagian yang paling membangkitkan sejarah, ketika garis hominid terpisah dari garis siamang modern, yang mungkin dalam kurun waktu 5 juta tahun tersebut justru yang menghubungkannya dengan manusia.
‘Sepupu manusia’ bukan terdapat dalam garis langsung dengan manusia tetapi pada Australopithecussebagai vegetarian. Australopithecus Robustus  adalah mirip seperti manusia dan garisnya tidak membawa kepada garis lain, hewan ini telah punah. Bukti bahwa ia tinggal pada tumbuh-tumbuhan terlihat pada giginya, dimana gigi-giginya tersusun dengan baik bahwa ia mengunyah akar-akar yang dimakannya.
Seperti pada garis manusia lebih jelas rahangnya yang mungkin seekor pemakan daging, dan merupakan garis yang terdekat dengan yang disebut ‘missing link’atau rantai yang hilang, Australopithecus Africanus, satu dari sejumlah kerangka fosil yang diketemukan di Transvaal dan bagian lain di Afrika. Dari hasil temuan-temuan tersebut dikatakan bahwa dua juta tahun yang lalu otak telah lebih besar dibandingkan pada saat itu.
Dengan memiliki otak yang lebih besar, nenek moyang manusia membuat dua penemuan besar, pertama berupa bukti yang dapat dilihat dan kedua bukti inferensia. Penemuan yang dapat dilihat adalah Australopithecus  membuat alat-alat batu yang belum sempurna bagi  pemakan daging untuk menyerang dan memotong binatang, dan untuk jutaan tahun berikutnya, manusia dalam evolusi lebih lanjut tidak merubah jenis alatnya, ini merupakan penemuan fundamental.
Penemuan lain adalah dari sisi sosial, diasumsikan dengan dengan aritmetika yang lebih halus. Tengkorak dan kerangka dari Australopithecus  yang diketemukan saat ini dalam jumlah yang banyak yang menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka mati sebelum menginjak usia dua puluh tahun, artinya terjadi banyak anak yatim. Untuk itu pasti ada organisasi sosialnya, dimana anak-anak diasuh dan diadopsi, dan membuat bagian dari komunitas, juga dalam pemahaman umum dididik. Hal ini merupakan langkah yang besar menuju pada evolusi budaya.
Suatu tempat jutaan tahun yang lalu, manusia telah membuat suatu perubahan dalam alat-alatnya, yang merupakan inti untuk beberapa perbaikan biologis dalam pandangan selama periode ini, khususnya pada otak pusat yang mengontrol tangan, dimana secara biologis dan budaya penciptaannya menjadi lebih menarik dengan membuat alat-alat yang lebih baik dalam proses pembuatan dan pemakaiannya.
Perkembangan dari kemampuan yang lebih baik dalam jenis ini dari penggunaan dari api bukan merupakan fenomena yang tertutup, sebaliknya bahwa riil dari evolusi biologis maupun budaya merupakan elaborasi dari tingkah laku yang baru. Dari hasil peninggalan barang-barang yang berupa peralatan untuk bertindak menunjukkan tampilan tindakan orang tersebut dan adanya perubahan dalam peralatan menampilkan perubahan dalam tingkah laku dan kemampuan.
Tiap hewan dan khususnya manusia merupakan satu struktur yang sangat terintegrasi, semua bagian harus berubah bersama-sama sebagaimana perubahan tingkah lakunya. Evolusi dari otak, mata, kaki, tangan, gigi dan keseluruhan kerangka manusia membuat suatu gambaran dalam satu pemahaman bahwa bagian-bagian tersebut terdapat bakat khusus manusia. Evolusi-evolusi tersebut telah membuatnya seperti apa adanya, lebih cepat dalam evolusi dan lebih kaya serta fleksibel dalam tingkah laku dibandingkan dengan hewan lain. Manusia bukanlah satu-satunya ciptaan yang paling mengagumkan, sebelumnya ada mamalia dan dinosaurus. Tetapi manusia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain, yaitu suatu kemampuan sendiri yang dapat membuatnya lebih kreatif. Setiap hewan pasti meninggalkan bekas dari apa yang di tinggalkan, tapi manusia meninggalkan dari apa  yang diciptakannya.
Perubahan dalam makanan merupakan hal penting dalam mengubah spesies selama lebih dari 50 juta tahun. Berawal dari Australopithecus   yang merubah kebiasaan primata yang vegetarian menuju omnivora yaitu pada homo erectus, Nethertal dan homo sapiens yang memakan beberapa daging.
Konsekuensi dari evolusi manusia adalah pencapaian yang lebih jauh dalam cara-cara yang tidak langsung untuk mendapatkan makanan dari sumber-sumber seperti hewan-hewan besar yang tidak dapat ditangkap dengan serangan yang brutal dan lapar. Hal tersebut membuktikan adanya seleksi alam sehingga hal ini mengembangkan kemampuan penuh manusia untuk menangguhkan kepuasan dari keinginannya dan secara tidak langsung berpengaruh pada perluasan penyediaan makanan, yang tentunya membantu mengembangkan tindakan sosial dan komunikasi.
Kebudayaan manusia yang sifatnya terbesar dimulai pada Zaman Es terakhir, yang mana terjadinya pada ratusan atau bahkan 50.000 tahun, dengan diketemukannya alat-alat yang menunjukkan pada bentuk-bentuk yang mengagumkan dari perburuan.
Manusia memiliki fleksibilitas pemikiran dalam mengetahui penemuan-penemuan kedalam komunitasnya sehingga manusia dapat tetap tegar dalam kerasnya kehidupan di zaman es. Ini terbukti dengan telah terjadinya perubahan besar dimana manusia tidak lagi tergantung pada tumbuhan dan hewan. Kekerasan berburu pada bidang es memaksa manusia untuk mengubah strategi dengan alternative yang lebih baik dengan mempelajari, mengantisipasi dan pada akhirnya mengadopsi kebiasaan. Sebagaimana manusia menjadi kurang atraktif untuk mengejar satu hewan walau besar, alternatifnya mengumpulkan, memindahkan, dipelihara dan disimpan sebagai gudang makanan yang bergerak.
Langkah transhumant dari kehidupan merupakan budaya dari fossil sekarang dan hampir punah. Orang-orang yang masih hidup dengan gaya ini adalah suku Lapps yang terdapat di utara Scandinavia yang mengikuti rusa kutub sebagaimana mereka lakukan selama Zaman Es.
Terdapat perbedaan fundamental antara adaptasi budaya dengan adaptasi biologis. Adaptasi rusa kutub merupakan adaptasi budaya yang dapat Lapps ubah dengn mudah di masa yang akan datang, seperti membangun rumah dari kulit, begitupun Lapps dan garis keturunan manusia pada mereka juga mengalami sejumlah adaptasi biologis. Perbedaan-perbedaan biologis muncul diantara kelompok-kelompok manusia. Kita menamakan perbedaan tersebut dengan perbedaan rasial, dimana mengartikannya bahwa mereka tidak dapat mengubah kebiasaan atau habitat.
Perbedaan biologis diantara komunitas yang berbeda merupakan skala yang sederhana. Lapps tidak tinggal dengan adaptasi biologis, tapi dengan penemuan yang menggunakan imajinasi dari kebiasaan rusa kutub dengan menjadikan rusa kutub sebagai binatang penarik dan dengan hasil ciptaannya, suku Lapps telah berhasil bertahan hidup pada zaman es dengan melakukan penemuan terhadap api.
Api merupakan symbol dari perapian dan ketika homo sapiens mulai meninggalkan tanda berupa cap tangannya tiga puluh ribu tahun  yang lalu, perapian sudah ada gua-gua. Manusia datang ke gua, tinggal di dalamnya kemudian membuat lukisan binatang, tinggal di tempat-tempat yang gelap, rahasia, tersembunyi dan sulit dijangkau, mengapa? Kata yang dapat diungkapkan adalah magis, tp magis bukanlah sebuah kata jawaban, karena magis yang dalam hal ini tidak menjelaskan apapun. Magis hanya menjelaskan bahwa orang yang mempunyai kekuatan, tetapi kekuatan apa? Hal inilah yang ingin diketahui sebenarnya kekuatan apa yang pemburu percaya yang mereka dapatkan dari lukisan-lukisan tersebut.
Lukisan-lukisan gua merupakan hasil cipta ulang dalam hidup pemburu sebagai satu penglihatan sejarah, kita melihatnya ke dalam sejarah masa lalu . bagi pemburu, mereka akan melihat secara keseluruhan kepada masa depan dalam arah yang berbeda. Lukisan-lukisan gua bertindak sebagai satu jenis imajinasi. Mereka mengarahkan pikiran  dari apa yang dilihat pada apa yang diduga. Gambar datar hanya berarti sesuatu pada  mata sebab pemikiran masuk ke dalam gambar tersebut dan bergerak, satu realitas dengan kesimpulan yang mana tidak secara nyata dapat terlihat, tapi terimajinasi.
Seni dan ilmu pengetahuan keduanya merupakan tindakan manusia yang unik, diluar dari jangkauan yang dapat dilakukan oleh binatang. Disini terlihat bahwa mereka diarahkan dari kemampuan manusia yang sama, yaitu kemampuan untuk memvisualisasikan masa depan, meramalkan apa yang terjadi dan merencanakan untuk mengantisipasinya dan memindahkan isi kepala dari dinding yang gelap di sebuah gua ke layar televisi misalnya.
Orang yang membuat peralatan dan orang yang membuat lukisan adalah melakukan hal  yang sama, mengantisipasi masa depan sebagai cara yang dapat manusia lakukan, menduga apakah yang akan terjadi dimasa yang akan datang dari apa yang ada disini sekarang. Terdapat banyak bakat yang unik pada manusia, tapi pada hakikatnya, dasar dimana semua pengetahuan tumbuh, terbentang kemampuan untuk melukiskan kesimpulan-kesimpulan dari apa yang dilihat pada apa yang kita lihat, untuk memindahkan pemikiran kita melalui ruang dan waktu dan untuk mengetahui diri kita sendiri pada waktu yang lampau pada langka-langkah ke masa sekarang. Semua lukisan dari gua-gua tersebut tercipta dari tangan yang seolah-olah mengatakan “Ini adalah tanda Saya, ini adalah Manusia”
SUMBER :http://nurina-ayuningtyas.blogspot.com/2012/02/ascent-of-man-vol1.html
FILSAFAT ILMU

FILSAFAT ILMU

A. PENDAHULUAN
Filsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan.
Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya, yang selama itu ditakuti kemudian didekati dan bahkan bisa dikuasai. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun pada manusia sendiri.
B. PENGERTIAN
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)
  • Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
  • Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
  • A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)
  • Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)
  • May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.
  • Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan
  • Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
  • Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
  • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)
C OBJEK FILSAFAT

1.Objek Material filsafat
Yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di Pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu:
  • Ada yang bersifat umum (ontologi), yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.
  • Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia (antropologi metafisik) dan alam (kosmologi).
2. Objek Formal filsafat
Yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.
Contoh : Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranya psikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.


E. FUNGSI FILSAFAT
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
  • Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
  • Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
  • Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
  • Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
  • Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)
Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.

G. SUBSTANSI FILSAFAT
Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.

1.Fakta atau kenyataan
Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
  • Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
  • Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.
  • Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan
  • Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.
  • Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.

2. Kebenaran (truth)
Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)
a. Kebenaran koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.
b.Kebenaran korespondensi
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik
c.Kebenaran performatif
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.
d.Kebenaran pragmatik
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.
e.Kebenaran proposisi
Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.
f.Kebenaran struktural paradigmatik
Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.

3.Konfirmasi
Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.

4.Logika inferensi
Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.
Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)
Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi dan logika deduksi.


H CORAK DAN RAGAM FILSAFAT
Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya:
  • Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
  • Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.
  • Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.
Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etik dimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan.
Dafatar Pustaka

Abbas Hamami M. 1976. Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM.
. 1982. Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan. Diktat. Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM.
. 1980. Disekitar Masalah Ilmu; Suatu Problema Filsafat. Surabay: Bina Ilmu.
. Epistimologi Masa Depan dalam jurnal filsafat. Seri 1, februari 1990.