Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Imam Tirmizi

Imam Tirmizi

Imam Tirmizi biasa juga disebut dengan Imam Turmuzi atau Tarmizi. Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmizi.  Nama Tirmizi merujuk kepada tempat kelahirannya, kota Tirmiz, sebagaimana halnya Imam Bukhari yang merujuk kepada tempat lahirnya di Bukhara. Imam Tirmizi lahir pada tahun 129 H.

Sejak kecil Imam Tirmizi sudah gemar mempelajari ilmu hadits. Untuk mencari hadits ia mengembara ke berbagai negeri seperti Irak, Hijaz, Khurasan, dan lain-lain. Ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar untuk mendengar hadits yang kemudian dihafal serta dicatat dengan baik. Ia belajar diantaranya kepada Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud, bahkan belajar pula hadits dari sebagian guru mereka. Guru-gurunya yang lain adalah Qutaibah bin Said, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Sa’id bin Abdurrahman, Muhammad bin Basysyar, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni, Muhammad al-Musanna, dan lain-lain.

Imam Tirmizi selain dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits, ia juga dikenal sebagai ahli ilmu fikih. Tetapi karyanya yang terkenal adalah buku kumpulan haditsnya yang dinamai Kitab Jami yang lebih dikenal dengan Sunan Tirmizi. Dalam kitabnya tersebut Imam Tirmizi tidak hanya meriayatkan hadits sahih, tetapi juga meriwayatkan hadits hasan dan dhaif. Dalam kitabnya ia tidak meriwayatkan, kecuali hadits-hadits yang dapat diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli fikih.

Pada akhir kehidupannya Imam Tirmizi mengalami musibah hingga selama beberapa tahun mengalami kebutaan. Ia kemudian meninggal dunia pada 13 rajab tahun 279 H di Tirmiz dalam usia 70 tahun.

Beberapa karyanya:

1. Kitab al-Jami’, yang terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi
2. Kitab al-Ilal
3. Kitab at-Tarikh
4. Kitab asy-Syamail an-Nabawiyah
5. Kitab az-Zuhd
6. Kitab al-Asma wal Kuna

HAMKA

HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih sering disebut dengan Buya Hamka adalah seorang ulama besar dalam sejarah Indonesia dan juga penulis produktif. Salah satu karyanya ditulis saat berada dalam penjara, yaitu tafsir al-Quran yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Beliau juga merupakan ulama sastrawan, karena banyak menghasilkan karya sastra. Diantaranya yang paling terkenal adalah novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Hamka lahir di daerah pinggiran danau Maninjau, Sumatra Barat. pada 17 Februari 1908. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah atau biasa dipanggil Haji Rasul, yang merupakan tokoh pembaharuan Islam di ranah Minang. Ia pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung. 

Pada saat berusia sekitar 10 tahun Hamka meninggalkan kampungnya, untuk belajar di perguruan Islam modern Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Disana ia mempelajari ilmu agama Islam dan mendalami bahasa Arab. Kemampuannya dalam berbahasa Arab menjadi modal  baginya untuk mendalami ilmu Islam dan sastra, dengan membaca secara luas literatur-literatur Arab.

Hamka dikenal sebagai petualang sehingga ayahnya menyebutnya “Si Bujang Jauh”. Pada tahun 1926, saat berusia 16 tahun Hamka merantau ke tanah jawa. Ia memang tidak betah tinggal bersama orang tuanya yang bercerai, yang membuat Hamka memiliki ayah tiri dan ibu tiri.

Di Jawa Hamka belajar dan berdekatan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam, seperti HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin (ayah KH AR Fakhruddin). Ia juga menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur yang waktu itu menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Hamka berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan mulai berkiprah dalam organisasi tersebut. Hamka kembali ke rumah ayahnya di Padangpanjang pada Juli 1925.

Pada Februari 1927 Hamka yang saat itu tidak rukun dengan ayahnya berangkat ke Mekah secara diam-diam untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim disana. Sepulang dari Mekah, pada 5 April 1929 Hamka dinikahkan dengan Siti Raham. 

Sejak itu Hamka bersama ayahnya mengembangkan Muhammadiyah di Sumatra. Hamka memangku berbagai jabatan hingga menjadi ketua Muhammadiyah cabang Padangpanjang. Pada 1931 Hamka diutus oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi mubaligh Muhammadiyah di Ujungpandang. Pada 1934 Hamka kembali ke Padangpanjang dan diangkat menjadi Majelis Konsul Muhammadiyah Sumatra Tengah.

Pada tahun 1936 Hamka hijrah ke Medan dan meneruskan kiprahnya di Muhammadiyah Sumatra Timur. Di kota itu Hamka memimpin majalah Pedoman Masyarakat. Hamka pun kembali menekuni ilmu sastra. Dua karyanya dalam bidang sastra, yaitu roman percintaan berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sangat laris terjual pada saat itu. Namanya kemudian melambung dan mendapat predikat sebagai Ulama Roman.

Pada 1949 Hamka pindah ke Jakarta. Di Jakarta Hamka bekerja di Kementrian Agama. Hamka pun menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada 1955 Hamka menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu tahun 1955. Ia dicalonkan oleh Muhammadiyah untuk mewakili daerah pemilihan Masyumi, Jawa Tengah. Konsituante ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1959.

Hamka kemudian menerbitkan majalah tengah bulanan, Panji Masyarakat. Majalah ini sempat membuat Soekarno marah dan Panji Masyarakat akhirnya dibreidel pada 17 Agustus 1960 karena memuat tulisan mantan Wakil Presiden Muhammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Tulisan itu berisi kritik tajam terhadap Soekarno atas konsepsi Demokarsi Terpimpin. Majalah ini terbit kembali pada 1967.

Hamka menjadi musuh bagi pendukung Demokrasi Terpimpin. Banyak tuduhan dialamatkan kepada Hamka dan tokoh Masyumi lainnya, seperti kontra revolusioner hingga tuduhan merencanakan gerakan subversif. Karya Hamka banyak digugat sampai muncul tuduhan bahwa karyanya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan plagiat.

Pada Januari 1964 Hamka ditangkap dan dikirim ke rumah tahanan di Sukabumi. Selama lima belas hari Hamka mengalami  berbagai siksaan saat di introgasi siang dan malam. Setelah tiga bulan di Sukabumi, Hamka dipindahkan ke rumah tahanan di Cimacan, Puncak. Karena sakit, Hamka kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit sampai dibebaskan pada 1966. Selama di dalam tahanan inilah Hamka menyelesaikan Tafsir Al-Azhar, tafsir al-Quran yang merupakan kajian Hamka dalam kuliah subuh yang disampaikan di masjid Al-Azhar.

Pada masa awal Orde Baru Hamka cukup dekat dengan pemerintah. Hamka sering diminta ceramah di istana negara selain diberikan ruang untuk ceramah di RRI dan TVRI. Pada tahun 1975 pemerintah mendirikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Hamka terpilih menjadi ketua. Tetapi Hamka menolak gaji dari jabatannya sebagai ketua MUI.

Pada April 1981 Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa larangan mengikuti acara perayaan natal bersama bagi orang Islam. Fatwa tersebut muncul karena pemerintah saat itu gencar berkampanye tentang kerukunan hidup beragama dan menganjurkan masyarakat untuk saling menghadiri acara keagamaan, hingga populerlah acara natal bersama. Tetapi fatwa itu mendapat kritikan dari Menteri Agama saat itu. Hamka yang menolak untuk mencabut fatwa itu memilih untuk meletakkan jabatannya sebagai ketua MUI pada 21 Mei 1981. 

Pada 24 Juli 1981 Hamka meninggal dunia dalam usia 73 tahun. Hamka dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta dengan diantar ribuan masyarakat, termasuk Menteri Agama.


Abu Daud

Abu Daud

Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr al-Azdi as-Sijistani. Beliau adalah seorang perawi hadits yang lahir pada tahun 202 H atau 817 M di Sijistan. Karyanya yang terkenal adalah as-Sunan atau Sunan Abu Daud.

Imam Abu Daud sudah belajar hadits sejak kecil. Ia melakukan perjalanan ke berbagai negeri seperti  Hijaz, Syam, Mesir, Irak, serta negeri-negeri lain untuk belajar hadits dari ulama yang dijumpainya. Para ulama yang menjadi gurunya banyak jumlahnya, diantaranya adalah Ahmad bin Hanbal, al-Qanabi, Abu Amr ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja, Abul, Walid at-Tayalisi, dan lain-lain.

Dari perlawatannya ke berbagai negeri ia memperoleh pengetahuan yang luas tentang hadits. Ia kemudian menyeleksi ratusan ribu hadits yang ia peroleh untuk dicantumkan dalam kitab haditsnya, as-Sunan. Kitab as-Sunan yang ia susun berisi sekitar 4800 buah hadits.

Tidak seperti Imam Bukhari dan Muslim yang hanya memuat hadits shahih dalam karyanya, Abu Daud tidak saja mencantumkan hadits sahih. Ia memasukkan pula hadits yang tidak terlalu sahih atau mendekati sahih. Sedangkan hadits-hadits yang lemah, ia jelaskan kelemahannya.  

Kitab as-Sunan mendapat pujian dari para ulama. Diantaranya adalah gurunya, Ahmad bin Hanbal, yang memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik. Abu Daud berkali-kali mengunjungi Baghdad, dan dengan menggunakan kitab as-Sunan sebagai pegangan, ia mengajarkan hadits dan fiqh kepada penduduk.

Tidak hanya as-Sunan, Abu Daud pun menghasilkan banyak karya. Beberapa karya Abu Daud antara lain:

1. Kitab as-Sunan
2. Kitab al-Marasil
3. Kitab al-Qadar
4. An-Nasikh wal Mansukh
5. Fadailul Amal
6. Kitab az-Zuhd
7. Dalail an-Nubuwah
8. Ibtida al-Wahyu
9. Ahbar Khawarij

Abu Daud meninggal di Basrah, yang ia jadikan tempat tinggal atas permintaan gubernur setempat. Beliau wafat pada tanggal 16 Syawwal 275 H (889 M).


Dirangkum dari buku Kitab Hadits Sahih yang Enam karya Muhammad Muhammad Abu Syuhbah





Imam Muslim

Imam Muslim

Imam Muslim merupakan perawi hadits paling terkemuka setelah Imam Bukhari, penyusun kitab Sahih Muslim dan berbagai kitab hadits lainnya.  Nama  lengkapnya adalah Imam Abul-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Lahir di Naisabur pada 206 H. 

Imam Muslim sudah belajar ilmu hadits sejak tahun 218 H. Untuk belajar hadits Ia pergi Hijaz,Irak, Syam, Mesir, dan berbagai negeri muslim lainnya. Di tiap daerah yang ia kunjungi ia berguru kepada para ulama seperti Yahya bin Yahya, Ishak bin Rahawaih, Muhammad bin Mahran, Abu Ansan, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Maslamah, Said bin Mansur, Amr bin Sawad, dan Harmalah bin Yahya.ulama lain yang menjadi gurunya antara lain; Usman dan Abu Bakar (keduanya putra Abu Syaibah), Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Said a-Ayli, Qutaibah bin Saad, dan lain-lain.

Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering datang kepadanya untuk berguru. Saat terjadi fitnah yang menimpa Imam Bukhari sehingga terjadi konflik antara Bukhari dengan az-Zihli, ia bergabung dengan Bukhari. Sehingga ia tidak memasukkan hadits-hadits yang diterimanya dari az-Zihli ke dalam kitab Sahihnya, meski dia merupakan gurunya. Tetapi hal yang sama ia lakukan juga terhadap Bukhari.

Karyanya yang berjudul al-Jami as-Sahih atau lebih dikenal dengan Sahih Muslim dianggap sebagai salah satu dari dua kitab hadits paling sahih. Imam Muslim menyusun kitab ini yang berisi 12 ribu hadits selama lima belas tahun dengan menyaring dari sekitar 300 ribu hadits. 

Imam Muslim wafat pada hari Senin, 25 Rajab 261 H dalam usia 55 tahun. Beliau dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur.

Karya-karya Imam Muslim:
1. Al-Jami as-Sahih (Sahih Muslim)
2. Al-Musnadul Kabir
3. Kitabul Asma wal Kuna
4. Kitab al-Ilal
5. Kitab al-Aqran
6. Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal
7. Kitab al-Muhadramin
8. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahid
9. Kitabul Intifa bi Uhubis Siba
10. Kitab Auladis Sahabah
11. Kitab Awhamil Muhaddisin


Dirangkum dari buku Kitab Hadits Sahih yang Enam karya Muhammad Muhammad Abu Syuhbah

Imam Bukhari

Imam Bukhari

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mugirah bin Bardzibah, tetapi lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari. Beliau merupakan seorang perawi hadits paling utama hingga diberi gelar Amirul Mukminin fil Hadits atau pemimpin dalam bidang hadits.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H. Sejak kecil beliau hidup dalam lingkungan keluarga yang berilmu dan taat beragama. Ayahnya, yang wafat saat Bukhari masih kecil, adalah seorang ulama ahli hadits. Dengan banyak harta peninggalan ayahnya, yang sedikitpun tidak terdapat harta yang haram maupun syubhat, Imam Bukhari dirawat dan dididik oleh ibunya sehingga dapat tumbuh dengan baik.

Kecerdasan Imam Bukhari sudah terlihat sejak kecil. Ia dikenal memiliki daya hafalan yang sangat kuat. Saat berusia sepuluh tahun ia sudah banyak menghafal hadits. Ia banyak menemui para ulama untuk belajar hadits dan berdiskusi dengan mereka. Ketika berusia sebelas tahun ia sudah mampu menegur seorang guru ilmu hadits yang salah dalam menyampaikan urutan periwayatan hadits. Dalam usia 16 tahun ia sudah hafal kitab-kitab ulama ahli hadits seperti Ibnu Mubarok dan Waki.

Pada saat berusia sekitar 18 tahun, Imam Bukhari bersama ibu dan saudaranya berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Tetapi saat akan kembali ke Bukhara, Imam Bukhari memilih untuk menetap di Mekah untuk memuaskan dahaganya terhadap ilmu. 

Selain di Mekah, dan juga Madinah, Imam Bukhari pun sering kali melakukan perjalanan ke berbagai negeri Islam. Diceritakan bahwa ia pernah mengunjungi Syam, Mesir, Bashrah, dan tak terhitung berapa kali ia mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.

Ia menulis karyanya yang pertama dalam bidang ilmu hadits,yaitu Kitab Tarikh yang berisi biografi para tokoh, yang banyak dipuji dan membuatnya terkenal di berbagai negeri Islam. Karya lainnya yang terkenal sampai saat ini adalah al-Jami as-Sahih atau lebih dikenal dengan Shahih Bukhari, yang berisi kumpulan hadits-hadits shahih. Yang mendorong Imam Bukhari menyusun kitab al-Jami as-Shahih, adalah saat berada di hadapan gurunya, Ishaq bin Rahawaih. Beliau menerima saran untuk menyusun kitab yang hanya menghimpun hadits shahih saja.

Kitab al-Jami as-Shahih ia selesaikan dalam tempo enam belas tahun. Ia meneliti, menyaring, dan memilih hadits-hadits shahih diantara 600.000 hadits dengan ketat. Ia tidak memasukkan hadits ke dalam kitabnya kecuali setelah yakin betul bahwa hadits itu benar-benar shahih dan setelah ia melakukan shalat istikharah. Maka tidak heran jika kitab tersebut memiliki kedudukan tinggi dan mendapat predikat sebagai buku hadits Nabi yang paling shahih.

Pada tahun 250 H Imam Bukhari mengunjungi kota Naisabur, yang disambut gembira oleh para penduduk dan para ulama. Selama menetap disana ia mengajarkan hadits secara tetap. Tetapi di kota ini ia menerima cobaan; orang-orang yang dengki menuduhnya sebagai orang yang berpendapat bahwa Quran adalah makhluk. Akibatnya orang-orang pun mulai menjauhi majlisnya, kecuali Imam Muslim dan Ahmad bin Salamah.

Imam Bukhari merasa bahwa keluar dari negeri itu lebih baik baginya. Beliau kemudian pulang ke Bukhara, yang disambut gembira dan meriah oleh seluruh penduduk. Tetapi kegembiraan ini tidak berlangsung lama. Beliau kemudian memiliki masalah dengan penguasa Bukhara yang menyebabkan dia akhirnya diusir dari negeri itu. 

Imam Bukhari akhirnya pergi menuju Samarkand setelah penduduk Samarkand memintanya untuk menetap di negeri mereka. Dalam perjalanan ia singgah di Khartand, desa kecil sebelum Samarkand untuk mengunjungi familinya. Tetapi di desa itu ia jatuh sakit hingga meninggal dunia. Ia wafat pada malam Idul Fitri 256 H, bertepatan dengan 31 Agustus 870 M dalam usia 62 tahun kurang. 

Beberapa Karya Imam Bukhari:
1. Al-Jami as-Sahih 
2. Al-Adab al-Mufrad 
3. At-Tarikh as-Shagir
4. At-Tarikh al-Ausat
5. At-Tarikh al-Kabir
6. Al-Musnad al-Kabir 
7. At-Tafsir al-Kabir
8. Kitab al-Illal
9. Raful Yadain fis-Salah
10. Birril Walidain
11. Kitab al-Asyribah
12. Al-Qiroah Khalful Imam
13. Kitab ad-Duafa
14. Asami as-Shahabah
15. Kitab al-Kuna

KH. A. Wahid Hasyim

KH. A. Wahid Hasyim


KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, khususnya sejarah Islam di Indonesia. Beliau merupakan pendiri Partai Nahdlatul Ulama (NU), pernah menjabat sebagai Menteri Agama, dan anggota BPUPKI serta salah seorang penandatangan Piagam Jakarta (Jakarta Charter), yaitu preambul UUD Republik Indonesia yang ditandatangani pada 22 Juni 1945 di Jakarta. 

Wahid Hasyim lahir pada tanggal 1 Juni 1914. Ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah seorang ulama besar dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Sejak kecil ia belajar di pesantren Tebuireng dan berbagai pesantren lainnya, bahkan sampai ke Mekah saat berusia 18 tahun. Ia sangat giat belajar dan memiliki hobi membaca yang sangat kuat. Ia memperdalam ilmunya dengan berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa asing. Ia memang merupakan pribadi yang cerdas dan seorang otodidak yang hebat. 

Pada waktu berumur 24 tahun ia mulai aktif di organisasi NU dan tahun berikutnya ia diangkat menjadi anggota Pengurus Besar NU. Pada tahun itu juga ia dipilih menjadi Ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi sejumlah organisasi sosial-politik Islam dan wadah persatuan umat Islam. Ia terpilih kembali sebagai ketua dewan dalam Kongres Muslimin Indonesia, yang merupakan kelanjutan MIAI. Tetapi organisasi ini dibubarkan oleh jepang pada 1943 dan tidak lama kemudian berdiri wadah baru bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). 

Saat itu pemerintah pendudukan Jepang mendirikan Shumubu, yaitu badan urusan agama Islam yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari selaku Ketua, KH. Abdul Kahar Muzakir selaku Wakil Ketua dan KH A. Wahid Hasyim selaku Wakil Ketua. Tetapi  Wahid Hasyim yang kemudian ditunjuk sebagai pimpinan disana mewakili ayahnya yang tidak bisa meninggalkan Jawa Timur. Badan ini yang menjelma menjadi Departemen Agama setelah Indonesia merdeka.

Sebelum meninggalkan Indonesia, pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelirik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Wahid Hasyim ditunjuk sebagai salah satu anggotanya. Setelah sidang pertama, dibentuk panitia kecil yang terdiri atas sembilan orang yang dipilih, salah satunya adalah Wahid Hasyim. Tokoh lainnya adalah Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Achmad Soebardjo, dan Muhammad Yamin. Panitia kecil ini berhasil mencapai suatu modus vivendi antara dua kelompok yang berbeda pendapat, yaitu pihak nasionalis dan Islam mengenai dasar negara. Panitia Sembilan ini menyetujui rancangan preambul UUD Republik Indonesia yang mereka tandatangani pada 22 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta.

Setelah berakhir masa revolusi dan Indonesia mendapat kedaulatan, Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta (20 Desember 1949 - 6 September 1950) dan menduduki jabatan yang sama dalam dua kabinet berikutnya; Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951) dan Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952). Banyak langkah penting yang ia lakukan sebagai Menteri Agama, antara lain; mewajibkan pendidikan agama di lingkungan sekolah umum, mendirikan sekolah guru agama, pendirian Perguruan Tinggi Agama Silam Negeri pada 15 Agustus 1951 yang berkembang menjadi 14 Institut Agama Islam negeri (IAIN) di 14 propinsi, dan lain-lain.

Saat itu Wahid Hasyim duduk sebagai Ketua Muda II Dewan Partai Masyumi, yang merupakan satu-satunya partai politik Islam. Tetapi ia sering mengkritik kepemimpinan PB Masyumi yang dianggap terlalu lemah. Hingga dalam kongres NU di Palembang pada April 1952, dimana ia bertindak sebagai pemimpin Kongres, NU memutuskan untuk lepas dari Masyumi dan mengembangkan diri menjadi partai politik. Sebelumnya NU merupakan anggota istimewa partai Masyumi.

Wahid Hasyim meninggal dunia pada 15 April 1953 dalam usia muda, belum genap 40 tahun. Beliau meninggal dalam sebuah kecelakaan di Cimahi dan dimakamkan di Jombang di pemakaman keluarga pesantren Tebuireng.



Syaikh Nawawi al-Bantani

Syaikh Nawawi al-Bantani


Syaikh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu ulama besar asal Indonesia pada abad ke-19. Bahkan menurut Snouck Hurgronje, yang pernah mengunjungi Mekah selama enam bulan (1884-1885), tidak ada ulama yang lebih terkenal di akhir abad ke-19 yang kitab-kitabnya digunakan di berbagai negara selain Syaikh Nawawi al-Bantani. 

Syaikh Nawawi lahir di Banten pada tahun 1814 M. Beliau adalah anak sulung dari Umar bin Arabi, yang pernah menjabat sebagai Penghulu di kecamatan Tanara, Banten. Ayahnya  mengajarkan pengetahuan agama kepada anak-anaknya, Nawawi, Tamim, dan Ahmad. Selanjutnya Nawawi beserta kedua saudaranya mendapat pengajaran dari Haji Sahal, ulama terkenal Banten pada masa itu, kemudian berguru kepada Haji Yusuf yang memiliki banyak murid dari seluruh Jawa.

Tiga bersaudara ini kemudian berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan menetap disana selama tiga tahun. Ketika pulang ke tanah air, beliau kembali lagi ke Mekah untuk kembali mendalami ilmu agama. Di Mekah ia belajar pada ulama-ulama besar seperti Khatib Sambas. Abdul Ghani Bima,Yusuf Sumulaweni, Nahrawi, serta Abdul Hamid Daghastani. 

Karena kedalaman ilmunya Syaikh Nawawi kemudian mengajar di masjidil Haram. Konon setiap kali mengajar di Masjidil Haram ia sentiasa dikelilingi oleh pelajar yang tidak kurang daripada dua ratus orang. Iapun pernah diundang ke Universitas al-Azhar, Mesir untuk memberikan ceramah atau fatwa dalam masalah tertentu. 

Selain mengajar ia juga rajin menyusun kitab. Selama hidupnya sampai wafat pada 25 Syawwal 1314 H (1897 M) sudah puluhan kitab yang sudah dia hasilkan, meliputi berbagai bidang ilmu Islam seperti Fiqh, Tafsir, Hadits, Tarikh, Akhlak, juga Bahasa. Karyanya tersebar di dunia Arab dan nusantara yang membuat namanya makin dikenal. Diantara karyanya adalah Kitab Tafsir al-Munir, Syarah al-Jurumiyah, Uqud al-Lujjain, Sullam al-Munajah, dan lain-lain. 

Ibnu Katsir

Ibnu Katsir


Salah satu kitab tafsir al-Quran yang terkenal adalah kitab Tafsir al-Quran al-Adzim yang disusun oleh imam Ibnu Katsir, sehingga sering disebut dengan kitab Tafsir Ibnu Katsir. Sebuah kitab tafsir al-Quran yang dianggap  penuh dengan riwayat yang cukup valid karena pengarangnya ahli juga di bidang hadits. Siapakah Ibnu Katsir, pengarang kitab tafsir tersebut?

Namanya adalah Imaduddin Abul Fida Ismail bin al-Khatib Abu Hafs Umar bin Katsir asy-Syafi’i al-Quraisyi ad-Dimasyqi, tetapi lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Ia lahir di Basrah, Suriah pada sekitar tahun 1300 M atau 700 H. Saat masih kecil ayahnya meninggal sehingga ia diasuh oleh pamannya dan dibawa ke Damaskus. Di kota inilah ia tumbuh besar dan banyak menimba berbagai ilmu agama dari para ulama terkenal. Ia belajar al-Quran, tafsir, hadits, fiqh, dan sebagainya.

Ibnu Katsir belajar ilmu fiqh pada Burhanuddin al-Fazari, seorang ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i. Sedangkan ilmu hadits ia pelajari dari ulama-ulama lain, diantaranya al-Wani, yang mengakui kehebatan Ibnu Katsir dengan memberinya ijazah di bidang ilmu hadits. Ia juga memperdalam ilmu hadits pada Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, yang kemudian menjadi mertuanya. Tokoh lain yang menjadi guru dan juga mempengaruhi pola pikirnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat terkenal sampai saat ini.

Nama Ibnu Katsir mulai terkenal di tengah publik saat ia menjadi anggota tim dalam kasus seorang ulama sufi yang dituduh menganut paham reinkarnasi. Hasil dari penyelidikan tim ini merekomendasikan kepada pemerintah untuk menjatuhkan hukuman mati kepada ulama sufi tersebut.

Ibnu Katsir kemudian diberi kepercayaan untuk menjadi khatib pada masjid di kota Mizza yang didirikan oleh amir Bahauddin al-Marjadi. Ia juga dipercaya untuk mengajar mata kuliah hadits dan ilmu hadits menggantikan posisi adz-Dzahabi yang meninggal dunia. Selanjutnya ia diangkat menjadi rektor Darul Hadits al-Asyrafiyah menggantikan Taqiuddin as-Subki yang wafat pada tahun 756 H. Akhirnya oleh gubernur Mankli Bugha ia dianugerahi sebagai guru besar di masjid negara. 

Sebagai ulama ia banyak menghasilkan karya-karya ilmiah dari berbagai disiplin ilmu Islam, seperti tafsir, hadits, juga sejarah. Diantaranya kitab Tafsir al-Quran al-Adzim yang dikenal dengan nama tafsir Ibnu Katsir; Jamiul masanid was Sunan, sebanyak 8 jilid yang berisi tokoh-tokoh perawi hadits; at-Takmilah fi Ma’rifatus Tsiqat wad Dhu’afa, sebanyak 5 jilid yang berisi nama-nama perawi yang kuat dan yang lemah; Mukhtashar kitab Muqaddimah Ibnu shallah; al-Ba’is al-Hadits, berisi masalah ilmu hadits. Sedangkan dalam bidang sejarah ia menghasilkan kitab: al-Bidayah wan Nihayah sebanyak 14 jilid; al-Fashal fi sirah ar-Rasul; Thabaqat asy-Syafi’iyah. Dalam bidang fiqh ia menulis al-Ijtihad fi Thalabil Ijtihad.

Ibnu Katsir meninggal pada bulan Sya’ban tahun 774 H, bertepatan dengan bulan Februari 1373 M. ia dimakamkan di Damaskus, bersebelahan dengan makam gurunya Ibnu Taimiyah. 

Rahmah el-Yunusiah

Rahmah el-Yunusiah


Namanya memang tidak setenar RA Kartini, tetapi peranannya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan sangat nyata dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejak berusia 23 tahun ia sudah mendirikan sekolah agama pertama untuk kaum perempuan. Ia juga menjadi perempuan pertama yang memperoleh gelar “Syaikhah” dari Universitas al-Azhar, Mesir pada 1957.

*****
Rahmah el-Yunusiyah lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat pada 20 Desember 1900 dari keluarga terpandang dan taat beragama dan termasuk golongan pembaharuan Islam di Sumatra Barat. Ia anak bungsu dari pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafi'ah. Ayahnya  adalah seorang qadhi (hakim) di wilayah Pandai Sikat yang juga ahli dalam ilmu falak. Sedangkan kakeknya, Syekh Imaduddin, adalah ulama terkenal Minangkabau.

Rahmah belajar membaca dan menulis tulisan Arab dan latin dari kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy dan Muhammad Rasyad setelah ayahnya wafat. Ketika pada 1915 Zainudin mendirikan Diniyyah School, sekolah Islam dengan sistem modern, Rahmah ikut belajar disana. Disamping itu, pada sore harinya ia berguru pula kepada Syaikh Abdul Karim Amrullah, yang merupakan ayah Buya Hamka. Beliau juga berguru pada Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padangpanjang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh Daud Rasjidi. Selain belajar agama,ia  juga mempelajari ilmu kesehatan dan keterampilan-keterampilan wanita.

*****
Rahmah memiliki cita-cita yang sangat mulia, yaitu mencerdaskan anak bangsa, terutama kaum perempuan yang saat itu masih tercecer dalam bidang pendidikan. Menurutnya, perempuan pun memiliki kecerdasan yang sama dengan laki-laki. Rahmah beranggapan bahwa perempuan harus memiliki pendidikan yang memadai meski hanya berperan sebagai ibu rumah tangga. Maka ia mengeluarkan gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi perempuan.

Pada 1 November 1923 Rahmah merintis sekolah agama untuk putri dengan nama madrasah diniyyah lil banat/Diniyyah School Puteri. Ada juga yang menamakannya dengan Meisjes Diniyyah School. Dalam  mengembangkan sekolahnya ia mencurahkan segenap tenaga, pikiran, dan hartanya. Berbagai tantangan dan kesulitan pun ia selesaikan tanpa putus asa.

Sebuah ruang di Masjid Pasar Usang adalah tempat belajar yang ia gunakan pertama kali, tanpa peralatan belajar yang memadai. Tetapi untuk kegiatan belajar mengajar diperlukan tempat yang representatif. Maka Rahmah beserta pengurus sekolah mengusahakan untuk menyediakan tempat beserta peralatan sekolah seperti bangku dan papan tulis untuk menampung para murid.

Dengan segala kendala dan rintangan yang sering dihadapi Rahmah dan penerusnya, sekolah ini tetap bertahan. Bahkan dalam perjalanannya, Diniyyah Putri tidak hanya menerima murid dari Sumatra Barat saja, ada juga murid dari Sumatera Utara, Aceh, hingga Singapura dan Malaysia.

Lembaga pendidikan yang didirikannya tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Pelajaran keterampilanpun diajarkan, seperti pelajaran tenun, anyam-anyaman, masak-memasak, dan jahit-menjahit, juga pelajaran olah raga, kesehatan, dan kesenian.

*****
Pada masa revolusi kemerdekaan, ia pernah dipenjarakan Belanda dan baru dibebaskan tahun 1949 setelah pengakuan kedaulatan. Ia juga pernah aktif di bidang politik, dengan menjadi anggota KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Sumatra Tengah, ketua Barisan Sabilillah dan Sabil Muslimat di Padang, dan anggota Konstituante mewakili Masyumi. Peranannya yang paling menonjol adalah kepeloporannya dalam pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada tanggal 2 Oktober 1945.

Pada 1957 ia menunaikan ibadah haji. Di tahun itu pula ia diundang oleh Universitas al-Azhar di Kairo untuk memperoleh gelar kehormatan “Syaikhah”.

Rahmah El-Yunusiyah meninggal dunia dirumahnya pada 26 Fabruari 1969. Sehari sebelum ia wafat, ia masih sempat berkunjung ke Gubernur Sumatra Barat sat itu, Harun Zein, dengan tujuan mengharapkan perhatian dari pemerintah untuk memperhatikan sekolahnya.




Ibnu Hajar al-Asqalani

Ibnu Hajar al-Asqalani


Ibnu Hajar lahir pada tanggal 22 Sya’ban 773 H atau 28 Februari 1372 M di Mesir. Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Abu Fadhal bin Nurudin Ali bin Muhammad bin Hajar al-Asqalany. Penyebutan al-Asqalani  adalah nisbat kepada sebuah tempat bernama Asqallan. Nenek moyangnya kembali ke Asqallan ketika Shalahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir pada 587 H atau 1191 M.

Ibnu Hajar menjadi yatim piatu sejak berusia  4 tahun. Sebelum wafat, ayahnya berwasiat kepada kawannya yang bernama Zakiuddin Abu Bakar al-Kharubi, seorang saudagar yang kaya, untuk memelihara dan mendidik putranya. Dibawah asuhannya, Ibnu Hajar tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Ia memiliki kekuatan menghafal yang luar biasa. Surat Maryam, yang berjumlah 88 ayat,  dihafalnya dalam tempo satu hari, sedangkan kitab al-Quran telah dihafalnya dalam usia 7 tahun (menurut sumber lain 9 tahun).  Saat berusia 11 tahun ia naik haji ke Mekah dan sejak itu ia mulai tertarik belajar hadits.

Di Mekah ia belajar hadits kepada seorang ulama hadits bernama Afifudin al-Nusyawari. Kajian utamanya adalah kitab Shahih Bukhari. Ia juga mempelajari kitab Imdat al-Ahkam karya Abdul Ghani al-Maqdisi dibawah bimbingan Abu Hamid Muhammad bin Zhahirah. Ibnu Hajar kemudian melanjutkan studinya ke Mesir dan mengkaji kembali kitab Shahih Bukhari kepada Abdul Rahim bin Razin. Di Mesir ia menghisap ilmu-ilmu agama yang dimiliki ulama-ulama terkenal. 

Pada tahun 802 H ia melawat ke negeri-negeri muslim seperti Damaskus, Mekah, Madinah, Iskandariyah, Yaman, dan lainnya. Di negeri-negeri itu ia belajar berbagai disiplin ilmu agama lainnya disamping banyak berdiskusi tentang berbagai masalah. Diantaranya ilmu musthalah hadits ia pelajari dari Abu Fadhl ar-Rahim al-Husain al-Iraqi, yang sangat kagum dengan kepandaian Ibnu Hajar. Menjelang wafatnya Abu Fadhl ditanya tentang siapakah orang yang paling mumpuni dalam hadits dan ilmu hadits, dengan tegas dijawabnya Ibnu Hajar, kemudian Zur'ah dan al-Haitsami.

Dengan ilmu yang dimilikinya, Ibnu Hajar ditawari untuk mengajar di Syaikuniyah, madrasah Jamalia, dan al-Mankutimuriyah. Ia mulai mengajar hadits dan ilmu hadits pada bulan Syawal 808 H atau Maret 1406 M. Selain itu karena kedalamannya dalam ilmu fiqh, ia pun diangkat menjadi qadhi atau hakim, jabatan yang dipegangnya selama 20 tahun. 

Ibnu Hajar termasuk ulama yang sangat produktif. Karya-karyanya tidak kurang dari 100 kitab dari berbagai masalah agama. Bahkan menurut muridnya, karya beliau mencapai 270 kitab. Yang terkenal adalah Fathul Bari, yang merupakan syarah kitab Shahih Bukhari dengan ketebalan sekitar 6000 halaman. Karya lainnya yang terkenal diantaranya; al-Ishabah fi Tamyuzis Shahabah yang berisi biografi para sahabat nabi Muhammad saw, Tahdzibut Tahdzib dan Lisanul Mizan, yang berisi biografi para rijalul hadits, Bulughul Maram yang berisi hadits-hadits hukum, Athrafus Shahihain, Nukhbatul Fikar fi Musthalah Ahlul Bukhari, dan lain-lain.

Ibnu Hajar wafat di Mesir pada bulan Dzulhijjah 852 H/Juni 1449 M dalam usia 79 atau 77 tahun.

KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa adalah seorang ulama asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang gugur ketika melakukan pemberontakan pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah RI mengangkatnya sebagai pahlawan nasional pada 6 Nopember 1972 melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

KH Zainal Mustafa lahir di Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya pada tahun 1899 (pendapat lain menyebut ia lahir tahun 1901 dan 1907) dari pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah. Sewaktu masih kecil ia bernama Umri dan sepulang dari pesantren berganti nama menjadi Hudaemi. Selain memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat, ia belajar agama dari berbagai pesantren di Jawa Barat yang membuatnya memiliki pengetahuan agama yang luas dan mahir berbahasa Arab. Diantaranya Pesantren Gunung Pari selama 7 tahun, Pesantren Cilenga, Singaparna selama 3 tahun, Pesantren Sukaraja, Garut selama 3 tahun, Pesantren Sukamiskin, Bandung selama 3 tahun, dan Pesantren Jamanis selama 1 tahun

Pada 1927 KH Zainal Mustafa mendirikan pesantren yang merupakan cita-citanya. Pesantren yaang ia dirikan dinamai Persantren Sukamanah, bertempat di Kampung Cikembang Girang Desa Cimerah (sekarang Kampung Sukamanah Desa Sukarapih), Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya. Nama Sukamanah merupakan nama pemberian dari orang yang mewakafkan tanah pesantren tersebut. Beberapa tahun kemudian, tahun 1933 KH Zainal Mustafa bergabung dengan organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari, Nahdhatul Ulama (NU), dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.

Zainal Mustafa merupakan kiai muda yang berjiwa revolusioner. Ia menganut paham pendidikan yang sifatnya "Non Cooperation", tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Secara terang-terangan ia mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Melalui khutbah-khutbahnya ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda.

Akibatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustafa bersama Kiai Rukhiyat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap pemerintah dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Baru bebas pada 10 Januari 1942, namun sebulan kemudian ditangkap lagi bersama Kiai Rukhiyat atas tuduhan yang sama dan dimasukkan ke penjara Ciamis.

Pemerintah Jepang yang menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia Maret 1942 membebaskan Zainal Mustafa dengan harapan ia dapat membantu Jepang. Namun ia malah memperingatkan para pengikut dan santrinya bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda. Ia juga menolak melakukan seikerei, yaitu memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan membungkukkan diri 90 derajat (seperti ruku dalam shalat) kearah matahari terbit. Perbuatan tersebut dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Pernah dalam suatu upacara di lapangan Singaparna, para peserta yang diundang termasuk KH Zainal Mustafa dipaksa untuk melakukan seikerei dibawah todongan senjata Jepang. Semua peserta upacara tidak kuasa menolak karena nyawa yang terancam. Namun K.H. Zainal Mustafa dengan tegas menolak dan tetap duduk dengan tenang. Akibat perbuatan tersebut telah menimbulkan ketegangan antara penguasa Jepang dengan K.H. Zainal Mustafa serta para pengikutnya.

Dalam setiap dakwahnya KH Zainal Mustafa selalu menekankan pentingnya berjuang melawan penjajah kafir Jepang yang lebih kejam dari Belanda dengan mendengungkan perang jihad. K.H. Zaenal Mustafa juga menggiatkan santrinya untuk melakukan latihan fisik dengan melakukan latihan beladiri pencak silat. Setiap hari di pesantren Sukamanah sibuk dengan latihan perang-perangan dan pengajian untuk mempertebal semangat berjuang.

Secara diam-diam santri Sukamanah telah merencanakan untuk melakukan tindakan sabotase terhadap pemerintah Jepang. Sekelompok kecil santri yang terlatih akan dikirim ke kota Tasikmalaya untuk melakukan gerakan yang merugikan pemerintah Jepang. Misalnya, penculikan para pembesar Jepang, membebaskan tahanan politik, merusak dan menghancurkan sarana-sarana umum seperti kawat telepon dan sarana penting yang kemungkinan dapat dipergunakan oleh tentara Jepang.

Persiapan para santri ini tercium Jepang hingga mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil, bahkan mereka ditahan di rumah KH Zainal Mustafa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Peristiwa ini merupakan awal dari peristiwa bersejarah yaitu perlawanan terbuka santri Pesantren Sukamanah yang mengakibatkan gugurnya puluhan santri Sukamanah. Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.

Selain itu sekitar 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. KH. Zainal Mustafa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zainal Mustafa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zainal Mustafa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.

Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zainal Mustafa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.



dari berbagai sumber
Haji Hasan Mustapa

Haji Hasan Mustapa

Haji Hasan Mustapa (1852-1930) adalah seorang ulama, penghulu, dan pujangga besar Sunda. Ia pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda dan banyak menulis tentang masalah agama Islam dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda).

Hasan Mustafa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. Ayahnya bernama Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, seorang camat perkebunan. Meski demikian sejak kecil Hasan Mustapa tidak dididik di sekolah, melainkan disuruh belajar di pesantren. Setelah belajar mengaji dari orangtuanya, belajar qiraah dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.

Dalam usia 8 tahun ia dibawa ke Mekah oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah haji, dan tinggal disana selama setahun untuk belajar bahasa Arab dan membaca al-Quran. Sepulangnya dari Mekah kemudian belajar di berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu nahwu dan shorf (tata bahasa Arab) dari Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian belajar dari Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Setelah itu ia belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura.

Pada tahun 1874, ia kembali berangkat ke Mekah dan menetap disana selama kira-kira 8 tahun untuk memperdalam agama Islam. Disana ia belajar kepada Syekh Muhamad, Syekh Abdulhamid Dagastani atau Sarawani, Syekh Ali Rahbani, Syekh Umar Syami, Syekh Mustafa al-Afifi, Sayid Abubakar al-Sathahasbulah, Syekh Nawawi Al-Bantani, Abdullah Al-Zawawi, dan lain lain. Pada waktu itu Hasan Mustapa sendiri sudah mengajar di Masjidil Haram. Di Mekah juga ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje dan hubungan keduanya menjadi akrab.

Hasan Mustafa kemudian meninggalkan Mekah pada tahun 1882. Ia dipanggil pulang oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu, untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Setelah berhasil memadamkan pertikaian paham itu, ia lalu mendirikan pesantren di Sindangbarang, Garut.

Pada tahun 1889 ia diminta oleh Snouck Hurgronje untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura menemui para kiai terkenal sambil menyelidiki kehidupan agama Islam dan folklor. Waktu itu Snouck Hurgronje menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab.

Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda kemudian mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893. Pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung sampai pensiun pada 1918.

Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait Dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah Suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengan caruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab Wihdatul Wujud. Sebagai bantahan terhadap tuduhan itu, ia menulis Injazu'l-Wa'd, fi ithfa-I- r-Ra'd (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.

Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958). Ia pun menulis buku yang diedarkan untuk kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, dan Kasauran Panungtungan.

Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Selai itu masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.

Pada tahun 1977, haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia secara anumerta.

sumber:
sundaislam.wordpress.com
wikipedia