Tampilkan postingan dengan label Sejarawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarawan. Tampilkan semua postingan
Benedetto Croce

Benedetto Croce


Benedetto Croce  (1866-1952)  adalah seorang filosof dan sejarawan Italia. Ia lahir di Pescasseroli  pada 25 Februari 1866 dan meninggal di Naples tangggal 20 November 1952. Ia berasal dari keluarga kaya (tuan tanah) di daerah Abruzzi  di wilayah Italia Tengah dan memperoleh pendidikannya di sekolah Katolik di mana kedua orang tuanya merupakan penganut Katholik yang fanatik. 

Pada tahun 1883, Croce kehilangan keluarganya akibat dari bencana alam yaitu gempa bumi yang menewaskan orang tuanya dan mengakibatkan Croce menjadi orang yang tertutup dari lingkungan sekitarnya. Kemudian ia hidup bersama pamannya di Roma dan di sana ia belajar hukum di sebuah universitas. Namun, ia tidak pernah meraih posisi yang berarti dalam bidang ini.

Selam tahun-tahun berikutnya, Croce melakukan perjalanan ke Spanyol, Jerman, Prancis, dan Inggris. Ia menjadi tertarik terhadap sejarah setelah membaca literatur sejarah karya Francesco De Sanctis. Di bawah pengaruh pemikiran Gianbattista Vico's (1668-1744) tentang seni dan sejarah, ia pindah ke jurusan Filsafat pada tahun 1893. 

Seorang temannya, filosof Giovanni Gentile menganjurkannya untuk membaca karya Hegel. Komentar Croce yang cukup terkenal tentang Hegel adalah What is Living and What is Dead in the Philosophy of Hegel, yang diterbitkan tahun 1907. Croce mempunyai wawasan dan pengetahuan yang cukup luas dalam bidang sejarah, aestetika, moral dan filsafat.

Akibat dari pengaruh dari aliran-aliran kontemporer tersebut, Croce yang hidup pada masa fasisme Italia dan pasca fasisme Italia, menganggap dan menyatakan bahwa kebenaran sejarah yang sebenarnya merupakan sejarah kontemporer (every true history is contemporary history). Hal ini maksudnya bahwa fakta-fakta sejarah yang sebenarnya merupakan fakta-fakta sejarah yang dikemukakan oleh para penganut aliran kontemporer, termasuk Croce. Karena dipandang lebih objektif daripada tulisan sejarah yang dihasilkan oleh para penganut aliran Positivisme yang pada saat itu lebih cenderung kepada tulisan yang cenderung kepada penelitian atau tulisan yang bersifat kepurbakalaan (Antiquarianisme) yang kaku dan adanya unsur-unsur subjektif dan irasional pada tulisan atau karya sejarah dan karya-karya tulis yang lain yang dihasilkan oleh penganut Positivisme.
Croce menghasilkan banyak karya, yaitu Filosofia come scienza dello spirito, History as the Story of Liberty, Theory and History of Historiography, A History of Italy; 1811-1915, dan The Poetry of Dante. Dalam bidang sosial politik dan filsafat, ia menulis My philosophy and other Essays on the Moral and Political Problems of our Time, Politics and Morals, dan Philosophy of the Practical; Economic and Ethic.  






Karel A Steenbrink

Karel A Steenbrink

Karel A Steenbrink (lahir di Breda, Belanda pada 16 Januari 1942) adalah seorang Professor Emeritus Intercultural theology di Universitas Utrecht dan sudah banyak menulis buku tentang sejarah Islam di Indonesia. Meski demikian latar belakang pendidikannya bukan sejarah, tetapi teologi. Ia menyelesaikan studinya pada 1970 di fakultas teologi Universitas Katolik Nijmegen, Belanda, jurusan studi Agama Islam dari segi Perbandingan Agama. Karena merasa belum lengkap dengan hanya mencapai gelar Drs., dan tidak merasa cukup dengan hanya mempelajari bahan kuliah dari buku saja, ia mencoba untuk mendapat pengalaman lapangan. Maka ia kemudian pergi ke Indonesia dalam rangka melakukan penelitian.

Pada mulanya ia bermaksud meneliti tafsir al-Quran yang ditulis oleh orang Indonesia, seperti tafsir al-Azhar karya HAMKA, tafsir an-Nur karya Hasbi as-Shiddiqy, dan tafsir yang disusun oleh Zainal Arifin Abbas dkk. Namun kesulitan segera muncul. Menurutnya, di Indonesia belum dikembangkan studi yang mendalam tentang metodik tafsir modern. Bahkan tafsir Hasbi as-Shiddiqy sebagian besar merupakan terjemahan dari tafsir Arab, khususnya tafsir al-Maraghi. Ia mengalami kesulitan untuk melakukan pembuktian, apalagi tafsir al-Maraghi yang terbit di Mesir itu meliputi sekitar 9000 halaman. Disamping itu ia datang ke Indonesia untuk mencari pengalaman kehidupan Islam secara praktis, bukan untuk masuk perpustakaan saja. Oleh karena itu Ia mengganti tema penelitiannya dengan yang baru, yaitu tentang perkembangan kehidupan pesantren.

Untuk memulai penelitiannya, ia menjadi siswa dan peneliti di Pesantren Gontor, salah satu perguruan Islam yang sangat modern. Pesantren ini merupakan sekolah Islam yang tetap mengajarkan tradisi lama tetapi disaat yang sama mengikuti perkembangan modern. Steenbrink menyelesaikan studinya disana dan menulis disertasi mengenai sekolah tersebut.

Hasil penelitiannya berjudul Recente Ontwikkelingen in Indonesisch Islamonderricht. Terjemahan Indonesianya berjudul Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Disertasinya ini yang menjelaskan tentang proses perkembangan pendidikan Islam sejak awal abad ke-20.
Pada 1978-1979 di Universitas Leiden ia menjadi pemimpin proyek studi dan penelitian untuk sembilan dosen dari beberapa dosen IAIN di Indonesia. Antara 1981-1988 mengajar di IAIN Jakarta dan Yogyakarta dalam rangka kerjasama Indonesia dan Belanda. Ia mengajar “Perkembangan Teologi Kristen Modern” di fakultas Ushuluddin serta “Sejarah Islam di Indonesia” dan “Orientalisme” pada program Pasca Sarjana. Pada 1992-1993 diundang sebagai visiting Profesor di McGill University, Canada. Kemudian bekerja di IIMO, Interuniversitair Instituut voor Missiologie en Oecumenica. Lembaga penelitian di Universitas Utrecht, Belanda, untuk mengembangkan profil pemikiran ekumenis Kristen yang juga menyangkut hubungan yang harmonis dengan agama lain, khususnya dengan umat Islam. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi jurnal Begrip (saling pengertian), dan redaktur pelaksana jurnal Exchange, yang bertujuan meningkatkan hubungan antar agama, khususnya Islam dan Kristen.

Karel Steenbrink sudah banyak menulis banyak buku mengenai sejarah Islam di Indonesia. Diantara bukunya adalah: Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern; Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19; Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern, Kitab Suci atau Kertas Toilet: Nuruddin ar-Raniri dan Agama Kristen; Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat Vol. I: Penelitian Agama di Indonesia, Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belandan dan Islam di Indonesia (1596-1942).
Abdurrachman Surjomihardjo

Abdurrachman Surjomihardjo

Abdurrachman Surjomihardjo (lahir pada 19 September 1929 dan wafat pada 14 Desember 1995) adalah seorang sejarawan, juga menjadi pejuang pada masa kemerdekaan. Beliau lahir di Tegal dari keluarga priyayi, sebagai anak ke-6 dari 10 bersaudara dari pasangan Raden Ismail dan Sutjinah. Ayahnya adalah seorang ambtenaar dengan jabatan Mantri Ukur.

Pada usia tujuh tahun Abdurrachman masuk Hollandsch Inlandsch School (HIS), sekolah dasar Belanda untuk anak pribumi sampai tahun 1942. Setelah itu ia masuk Sekolah Teknik namun tidak selesai, dan melanjutkan ke SMP hingga tamat di tahuin 1947.

Pada tahun 1946 Abdurrachman bersama teman-teman SMP-nya mendirikan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Tegal, sebuah organisasi pelajar di kota itu. Bersama IPI Tegal juga kemudian membentuk Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Tegal pada akhir januari 1947, dan Abdurrachman menjadi kepala staffnya. Pada masa Agresi Militer Belanda TRIP bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat dan ikut perang gerilya. Abdurrachman pun dipercaya menjadi Komandan Tentara Batalion 500, seksi 522.

Ketika menjadi Tentara Pelajar Abdurrachman dikirim ke Magelang. Di kota ini ia melanjutkan pendidikannya di SMA antara tahun 1948-1949. Semangat belajarnya tinggi, karena itu ia hijrah ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di SMA Taman Siswa hingga tamat tahun 1951. Karena prestasinya sangat baik ia diangkat menjadi tenaga pengajar di sekolah itu.

Sambil mengajar Abdurrachman belajar di Fakultas Sastra, Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Universitas Indonesia. Tahun 1956 ia memperoleh diploma, kemudian melanjutkan ke tingkat doktoral dengan mengambil jurusan Sejarah hingga mendapat gelar Doktorandus dalam bidang sejarah pada tahun 1961 dan kemudian menjadi dosen disana.

Pada 1964 Abdurrachman memperoleh pekerjaan baru sebagai peneliti di Lembaga Riset Kebudayaan Nasional, Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (yang kemudian berubah menjadi LIPI) disaat yang bersamaan keluar dari pekerjaannya sebagai guru SMA. Di sinilah ia banyak menghasilkan karya-karya penelitian sejarahnya. Ia juga menjadi konsultan di proyek-proyek penulisan sejarah di berbagai lembaga pemerintah.

Sebagai peneliti dan penulis sejarah Abdurrachman Surjomihardjo sudah menghasilkan banyak sekali tulisan, baik buku maupun makalah yang diterbitkan di berbagai jurnal. Karya-karyanya antara lain: Sumber-sumber Sejarah Budi Utomo (1973), Beberapa segi Sejarah Masyarakat Budaya Jakarta (1975), Budi Utomo Cabang Betawi (1980), Beberapa segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (1980), Laporan Kongres pemuda Indonesia pertama di Jakarta 1928 (1981), Ki Hadjar Dewantara, Taman Siswa dan Sejarah Indonesia (1985).


Kuntowijoyo

Kuntowijoyo

Prof. Dr. Kuntowijoyo (1943-2005) dikenal sebagai seorang sejarawan, budayawan, maupun sastrawan yang sangat produktif. Ia banyak menulis tentang sejarah, sastra, budaya, maupun agama, juga cerpen, puisi dan novel, dan drama. Bahkan Ia masih produktif menulis buku ketika dalam keadaan sakit selama bertahun-tahun. Dalam keadaan sakitnya juga, yaitu ketidakmampuan bicara akibat penyakit yang menyerang otaknya, Ia masih diundang untuk mengisi seminar, dengan dibantu istrinya, Susilaningsih, yang membacakan makalah ketika presentasi.

Kuntowijoyo lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943. Ia mendapatkan pendidikan formal keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten. Setelah itu melanjutkan sekolah di Klaten (SMP) dan Solo (SMA), melanjutkan kulah di Universitas Gadjah Mada dan lulus menjadi sarjana sejarah pada tahun 1969. Gelar MA diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974, yang disusul dengan gelar Ph.D Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980, dengan disertasi tentang sejarah Madura yang berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940. Disertasinya sudah diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940.

Sejak SMA Ia sudah banyak membaca karya sastra baik karya penulis Indonesia maupun luar negeri seperti Karl May, Charles Dickens, dan Anton Chekov. Pada 1964 ia menulis novel pertamanya yang berjudul Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari, yang kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di harian Djihad tahun 1966. Pada 1968, cerpennya yang berjudul Dilarang mencintai Bunga-bunga memperoleh hadiah pertama dari majalah Sastra.

Berbagai hadiah dan penghargaan atas karya-karyanya sudah Ia terima. Diantaranya, naskah dramanya yang berjudul Rumput-rumput Danau Bento memenangkan hadiah harapan dari BPTNI. Naskah drama lainnya, Topeng Kayu, pernah pula mendapatkan hadiah dari Dewan kesenian Jakarta pada 1973. Buku kumpulan cerita pendeknya yang juga diberi judul Dilarang Mencintai Bunga-bunga mendapat Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Cerpennya yang dimuat di Kompas juga mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik versi Harian Kompas pada 1995, 1996, 1997.

Kuntowijoyo mengabdi pada almamaternya, Universitas Gadjah Mada sebagai pengajar di Fakultas Sastra dan menjadi Guru Besar. Sebagai seorang akademisi Ia juga aktif menjadi pembicara, menulis, dan meneliti. Kumpulan tulisan tentang pemikirannya baik mengenai baik sejarah, ilmu sejarah, sosial, maupun budaya yang sudah diterbitkan Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (1991), Budaya dan Masyarakat, Pengantar Ilmu Sejarah, Metodologi Sejarah, Dinamika Sejarah Umat Islam, Muslim Tanpa Masjid, Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas: Esai-esai Budaya dan Politik, Radikalisasi Petani: Esei-esei Sejarah, dan lain-lain.

Kuntowijoyo meninggal dunia pada 22 Februari 2005 di Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta akibat komplikasi penyakit sesak nafas, diare, dan ginjal setelah untuk beberapa tahun mengalami serangan virus meningo enchephalitis.


dari berbagai sumber



Rosihan Anwar

Rosihan Anwar

Rosihan Anwar (1922-2011) merupakan wartawan senior, juga sejarawan dan sastrawan yang produktif. Ia telah menulis puluhan buku dan ratusan tulisan di berbagai media utama di Indonesia dan di beberapa penerbitan asing. Bahkan menjelang akhir hayatnya Ia masih menyiapkan memoar kehidupan cintanya dengan sang istri yang lebih dulu meninggal dunia, dengan judul yang sudah disiapkan Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida.
Rosihan Anwar lahir di Kubang Nan Duo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 10 Mei 1922 dan meninggal di Jakarta pada 14 April 2011. Anak keempat dari sepuluh bersaudara putra Anwar Maharaja Sutan, seorang demang di Padang, Sumatera Barat, ini menyelesaikan sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke AMS di Yogyakarta sampai tahun 1942. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Selama enam tahun, sejak 1968, ia menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Bersama Usmar Ismail, pada 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Dalam film pertamanya, Darah dan Doa, ia sekaligus menjadi figuran. Dilanjutkan sebagai produser film Terimalah Laguku. Sejak akhir 1981, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang.

Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 1946 mendapat penghargaan 'Life Time Achievement' atau 'Prestasi Sepanjang Hayat' dari PWI Pusat.

Pada 9 Februari 2010, komunitas Hari Pers Nasional (HPN) yang terdiri atas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Dewan Pers, Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), Ikatan Juranlis Televisi Indonesia (IJTI), Serikat Grafika Pers (SGP), Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional (PRSSNI), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), dan Asossiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) sepakat menganugerahi Spirit Jurnalisme bagi Rosihan Anwar.

Di masa perjuangan, Rosihan pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukitduri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu. Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Sayangnya, kurang dari setahun setelah itu, pemerintah pun menutup lagi Pedoman pada tahun 1974.

Tulisan-tulisan Rosihan Anwar bertemakan jurnalistik, agama, sejarah, novel, dan politik, hingga tulisan yang menyangkut kisah perjalanan serta kisah hidup orang-orang yang pernah dikenal atau dikaguminya.. Diantaranya berjudul: India dari Dekat (1954); Dapat Panggilan Nabi Ibrahim (1959); Islam dan Anda (1962); novel Raja Kecil (1967); Ihwal Jurnalistik (1974); Kisah-kisah Zaman Revolusi (1975); Profil Wartawan Indonesia (1977); Kisah-kisah Jakarta Setelah Proklamasi (1977); Jakarta Menjelang Clash ke-I (1978); Sukarno, Tentara, PKI : Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965 (1981), Menulis Dalam Air, Sebuah Autobiografi (1983); Musim Berganti (1985); Perkisahan Nusa (1986); Singa dan Banteng: Sejarah Hubungan Belanda-Indonesia 1945-1950 (1997), Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia (2004), dan masih banyak lagi.

S. Tasrif, S.H menjuluki Rosihan Anwar sebagai “A footnote of history” (sebuah catatan kaki dalam sejarah). Dimasa tuanya, setiap pagi Rosihan berjalan 40 menit. Ia juga tidak bisa melepaskan kebiasaannya menghisap cerutu bermerek Schimmel Penning, “Saya isap lima batang satu hari,” katanya. “Pagi, siang, waktu minum teh di sore hari, malam dan ketika menjelang tidur,” Ia menikah dengan Siti Zuraidah Binti Moh. Sanawi dan dikaruniai tiga orang anak.