Tampilkan postingan dengan label Sastrawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastrawan. Tampilkan semua postingan
HAMKA

HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih sering disebut dengan Buya Hamka adalah seorang ulama besar dalam sejarah Indonesia dan juga penulis produktif. Salah satu karyanya ditulis saat berada dalam penjara, yaitu tafsir al-Quran yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Beliau juga merupakan ulama sastrawan, karena banyak menghasilkan karya sastra. Diantaranya yang paling terkenal adalah novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Hamka lahir di daerah pinggiran danau Maninjau, Sumatra Barat. pada 17 Februari 1908. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah atau biasa dipanggil Haji Rasul, yang merupakan tokoh pembaharuan Islam di ranah Minang. Ia pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung. 

Pada saat berusia sekitar 10 tahun Hamka meninggalkan kampungnya, untuk belajar di perguruan Islam modern Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Disana ia mempelajari ilmu agama Islam dan mendalami bahasa Arab. Kemampuannya dalam berbahasa Arab menjadi modal  baginya untuk mendalami ilmu Islam dan sastra, dengan membaca secara luas literatur-literatur Arab.

Hamka dikenal sebagai petualang sehingga ayahnya menyebutnya “Si Bujang Jauh”. Pada tahun 1926, saat berusia 16 tahun Hamka merantau ke tanah jawa. Ia memang tidak betah tinggal bersama orang tuanya yang bercerai, yang membuat Hamka memiliki ayah tiri dan ibu tiri.

Di Jawa Hamka belajar dan berdekatan dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam, seperti HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin (ayah KH AR Fakhruddin). Ia juga menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur yang waktu itu menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Hamka berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan mulai berkiprah dalam organisasi tersebut. Hamka kembali ke rumah ayahnya di Padangpanjang pada Juli 1925.

Pada Februari 1927 Hamka yang saat itu tidak rukun dengan ayahnya berangkat ke Mekah secara diam-diam untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim disana. Sepulang dari Mekah, pada 5 April 1929 Hamka dinikahkan dengan Siti Raham. 

Sejak itu Hamka bersama ayahnya mengembangkan Muhammadiyah di Sumatra. Hamka memangku berbagai jabatan hingga menjadi ketua Muhammadiyah cabang Padangpanjang. Pada 1931 Hamka diutus oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi mubaligh Muhammadiyah di Ujungpandang. Pada 1934 Hamka kembali ke Padangpanjang dan diangkat menjadi Majelis Konsul Muhammadiyah Sumatra Tengah.

Pada tahun 1936 Hamka hijrah ke Medan dan meneruskan kiprahnya di Muhammadiyah Sumatra Timur. Di kota itu Hamka memimpin majalah Pedoman Masyarakat. Hamka pun kembali menekuni ilmu sastra. Dua karyanya dalam bidang sastra, yaitu roman percintaan berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sangat laris terjual pada saat itu. Namanya kemudian melambung dan mendapat predikat sebagai Ulama Roman.

Pada 1949 Hamka pindah ke Jakarta. Di Jakarta Hamka bekerja di Kementrian Agama. Hamka pun menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada 1955 Hamka menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu tahun 1955. Ia dicalonkan oleh Muhammadiyah untuk mewakili daerah pemilihan Masyumi, Jawa Tengah. Konsituante ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1959.

Hamka kemudian menerbitkan majalah tengah bulanan, Panji Masyarakat. Majalah ini sempat membuat Soekarno marah dan Panji Masyarakat akhirnya dibreidel pada 17 Agustus 1960 karena memuat tulisan mantan Wakil Presiden Muhammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Tulisan itu berisi kritik tajam terhadap Soekarno atas konsepsi Demokarsi Terpimpin. Majalah ini terbit kembali pada 1967.

Hamka menjadi musuh bagi pendukung Demokrasi Terpimpin. Banyak tuduhan dialamatkan kepada Hamka dan tokoh Masyumi lainnya, seperti kontra revolusioner hingga tuduhan merencanakan gerakan subversif. Karya Hamka banyak digugat sampai muncul tuduhan bahwa karyanya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan plagiat.

Pada Januari 1964 Hamka ditangkap dan dikirim ke rumah tahanan di Sukabumi. Selama lima belas hari Hamka mengalami  berbagai siksaan saat di introgasi siang dan malam. Setelah tiga bulan di Sukabumi, Hamka dipindahkan ke rumah tahanan di Cimacan, Puncak. Karena sakit, Hamka kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit sampai dibebaskan pada 1966. Selama di dalam tahanan inilah Hamka menyelesaikan Tafsir Al-Azhar, tafsir al-Quran yang merupakan kajian Hamka dalam kuliah subuh yang disampaikan di masjid Al-Azhar.

Pada masa awal Orde Baru Hamka cukup dekat dengan pemerintah. Hamka sering diminta ceramah di istana negara selain diberikan ruang untuk ceramah di RRI dan TVRI. Pada tahun 1975 pemerintah mendirikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Hamka terpilih menjadi ketua. Tetapi Hamka menolak gaji dari jabatannya sebagai ketua MUI.

Pada April 1981 Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa larangan mengikuti acara perayaan natal bersama bagi orang Islam. Fatwa tersebut muncul karena pemerintah saat itu gencar berkampanye tentang kerukunan hidup beragama dan menganjurkan masyarakat untuk saling menghadiri acara keagamaan, hingga populerlah acara natal bersama. Tetapi fatwa itu mendapat kritikan dari Menteri Agama saat itu. Hamka yang menolak untuk mencabut fatwa itu memilih untuk meletakkan jabatannya sebagai ketua MUI pada 21 Mei 1981. 

Pada 24 Juli 1981 Hamka meninggal dunia dalam usia 73 tahun. Hamka dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta dengan diantar ribuan masyarakat, termasuk Menteri Agama.


Ahmad Tohari

Ahmad Tohari

Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981. Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.

Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948, Ahmad Tohari menamatkan SMA nya di Purwokerto. Setelah itu ia menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).

Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika. Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Novel Ronggeng Dukuh Paruk bahkan pernah ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan, yang kemudian mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung pada tahun 2007.

Cerpennya yang berjudul "Jasa-jasa buat Sanwirya" pernah mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Sedangkan novelnya Kubah yang terbit pada tahun 1980 berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1980.

Beberapa waktu lalu novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Menurutnya di film ini sang sutradara di beberapa bagian lebih berani menggambarkan apa yang ia sendiri tidak berani menggambarkannya. Ia pun ikut larut dalam emosi film ini meski endingnya tidak setragis versi novel.

Beberapa karyanya:
* Kubah (novel) (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006)
Chairil Anwar (1922-1949)

Chairil Anwar (1922-1949)

Chairil Anwar (1922-1949) adalah tokoh penyair Indonesia yang terkenal dengan karyanya yang berjudul Aku. Oleh HB Jassin ia dinobatkan sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Ia terkenal sebagai "Si Binatang Jalang", yang diambil dari salah satu kalimat dalam sajaknya Aku.

Chairil Anwar dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922 sebagai anak tunggal. Ayahnya seorang mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau bernama Toeloes. Sedangkan ibunya bernama Saleha. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, tokoh PSI dan Perdana Menteri pertama Indonesia.

Masa kecil ia habiskan di Medan dan mengenyam pendidikan dasar di HIS kemudian di MULO meski tidak sampai selesai. Sejak di HIS ia sudah menampakkan bakatnya sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis.

Ketika orangtuanya bercerai ia lalu hijrah ke Jakarta dalam usia 19 tahun. Tak lama kemudian ibunya menyusul ke Jakarta. Disanalah ia mulai mengenal dunia sastra. Dia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Sebagai orang yang menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), ia tidak kesulitan untuk membaca dan memahami semua karya sastra asing yang ia jumpai. Jika sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi. Ia pun banyak menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia itu ke bahasa Indonesia dengan baik.

Chairil mulai terkenal di dunia sastra setelah tulisannya dimuat di majalah Nisan pada 1942. Dia sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi. Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya.

Dalam kehidupan pribadinya ia sempat berkeluarga, menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.

Chairil Anwar meninggal dunia dalam usia muda, pada tanggal 28 April 1949. Ia menderita penyakit TBC sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM). Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Karya-karyanya yang diterbitkan:
Deru Campur Debu (1949)
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
"Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
Derai-derai Cemara (1998)
Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Karya-karyanya yang diterbitkan kedalam bahasa asing:
"Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
"Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
"Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Haji Hasan Mustapa

Haji Hasan Mustapa

Haji Hasan Mustapa (1852-1930) adalah seorang ulama, penghulu, dan pujangga besar Sunda. Ia pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda dan banyak menulis tentang masalah agama Islam dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda).

Hasan Mustafa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. Ayahnya bernama Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, seorang camat perkebunan. Meski demikian sejak kecil Hasan Mustapa tidak dididik di sekolah, melainkan disuruh belajar di pesantren. Setelah belajar mengaji dari orangtuanya, belajar qiraah dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.

Dalam usia 8 tahun ia dibawa ke Mekah oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah haji, dan tinggal disana selama setahun untuk belajar bahasa Arab dan membaca al-Quran. Sepulangnya dari Mekah kemudian belajar di berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu nahwu dan shorf (tata bahasa Arab) dari Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian belajar dari Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Setelah itu ia belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura.

Pada tahun 1874, ia kembali berangkat ke Mekah dan menetap disana selama kira-kira 8 tahun untuk memperdalam agama Islam. Disana ia belajar kepada Syekh Muhamad, Syekh Abdulhamid Dagastani atau Sarawani, Syekh Ali Rahbani, Syekh Umar Syami, Syekh Mustafa al-Afifi, Sayid Abubakar al-Sathahasbulah, Syekh Nawawi Al-Bantani, Abdullah Al-Zawawi, dan lain lain. Pada waktu itu Hasan Mustapa sendiri sudah mengajar di Masjidil Haram. Di Mekah juga ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje dan hubungan keduanya menjadi akrab.

Hasan Mustafa kemudian meninggalkan Mekah pada tahun 1882. Ia dipanggil pulang oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu, untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Setelah berhasil memadamkan pertikaian paham itu, ia lalu mendirikan pesantren di Sindangbarang, Garut.

Pada tahun 1889 ia diminta oleh Snouck Hurgronje untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura menemui para kiai terkenal sambil menyelidiki kehidupan agama Islam dan folklor. Waktu itu Snouck Hurgronje menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab.

Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda kemudian mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893. Pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung sampai pensiun pada 1918.

Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait Dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah Suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengan caruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab Wihdatul Wujud. Sebagai bantahan terhadap tuduhan itu, ia menulis Injazu'l-Wa'd, fi ithfa-I- r-Ra'd (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.

Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958). Ia pun menulis buku yang diedarkan untuk kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, dan Kasauran Panungtungan.

Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Selai itu masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.

Pada tahun 1977, haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia secara anumerta.

sumber:
sundaislam.wordpress.com
wikipedia


Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisyahbana dilahirkan di Natal, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 dalam usia 86 tahun. Dinamai Takdir karena jari tanganna hanya ada 4. Ibunya seorang Minangkabau yang telah turun temurun menetap di Natal, Sumatera Utara sementara ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru. Kakeknya, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas.

Mula-mula STA sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Bengkulu (1915-1921) kemudian melanjutkan sekolahnya di Kweekschool, Bukit Tinggi, Lahat, Muara Enim (1921-1925) dan Hogere Kweekschool, Bandung ( 1925-1928) serta Hoofdacte Cursus di Jakarta (1931-1933), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Kemudian di Rechtschogeschool, Jakarta. Pada tahun 1942 Sutan Takdir Alisyahbana mendapat gelar Meester in de rechten (Sarjana Hukum). Sutan Takdir juga mengikuti kuliah-kuliah tentang ilmu bahasa umum, kebudayaan Asia, dan filsafat. Ia menerima gelar Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987).

Sutan Takdir pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).

Sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia, Sutan Takdir menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Societe de linguitique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (-1994).

Sutan Takdir merupakan tokoh terkemuka dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia banyak menulis puisi, novel, esai-esai sastra, bahasa serta tulisan ilmiah mengenai filsafat, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dia juga menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal.

Kiprahnya di dunia sastra dimulai dengan tulisannya Tak Putus Dirundung Malang (1929). Disusul dengan karyanya yang lain, yaitu Diam Tak Kunjung padam (1932), Layar Terkembang 1936, Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941l), Grotta Azzura (1970), Tebaran Mega, Kalah dan Menang (1978), Puisi Lama (1941), dan puisi Baru (1946).

Dalam novel Layar Terkembang yang sudah beberapa kali di cetak ulang STA merenuangkan gagasannya dalam memajukan masyarakat, terutama gagasan memajukan peranan kaum wanita melalui tokoh Tuti sebagai wanita Indonesia yang berpikiran maju yang aktif dalam pergerakan wanita.

Diantara Karya-karyanya:
Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
Layar Terkembang (novel, 1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
Pelangi (bunga rampai, 1946)
Pembimbing ke Filsafat (1946)
Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
The Indonesian language and literature (1962)
Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
The failure of modern linguistics (1976)
Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
Kalah dan Menang (novel, 1978)
Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
Sajak-Sajak dan Renungan (1987).
Achdiat Karta Mihardja

Achdiat Karta Mihardja

Achdiat Karta Mihardja lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911 dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010 pada umur 99 tahun. Pendidikannya Ia lalui di AMS (Algemene Middelbare School) bagian A1 (Sastra dan Kebudayaan Timur) di Solo pada 1932 kemudian di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia (1948-1950). Ia juga mempelajari ajaran mistik (tarekat) aliran Qadariyah Naqsabandiyah dari Kiyai Abdullah Mubarak yang terkenal juga dengan nama Ajengan Gedebag. Selain itu belajar filsafat pada pater Dr. Jacobs S.J., dosen pada Universitas Indonesia, dalam Filsafat Thomisme.

Ia pernah menjadi anggota redaksi Bintang Timur merangkap redaktur mingguan Peninjauan (bersama Sanusi Pane, Armin Pane, PF Dahler, Dr. Amir dan Dr. Ratulangi). Tahun 1937 menjadi pembantu harian Indie Bode dan Mingguan Tijdbeeld dan Zaterdag, juga sebentar bekerja di Aneta. Tahun 1938 jadi pimpinan redaksi tengah-bulanan Penuntun Kemajuan. Tahun 1941 jadi redaksi Balai Pustaka, sejak saat itu tumbuh minatnya kepada kesusastraan. Tahun 1943 menjadi redaksi dan penyalin di kantor pekabaran radio, Jakarta. Tahun 1946 jadi pimpinan umum mingguan Gelombang Zaman dan setengah mingguan berbahasa Sunda Kemajuan Rakyat. Tahun 1948 kembali jadi redaksi di Balai Pustaka. Tahun 1951 bersama-sama Sutan Takdir Alisjahbana dan Dr. Ir. Sam Udin mewakili PEN Club Indonesia menghadiri Konperensi PEN Club International di Lausanne, Switserland. Saat itu ia juga mengunjungi Negeri Belanda, Inggris, Prancis, Jerman Barat, dan Roma.

Tahun 1952 berkunjung ke Amerika dan Eropa Barat dengan tugas dari Dep. PP&K untuk mempelajari soal-soal pendidikan orang dewasa (termasuk penerbitan bacaan-bacaannya) dan 'university extension courses'. Kesempatan ini digunakan juga untuk mempelajari seni drama di Amerika Serikat. Tahun 1956 selama setahun memperdalam bahasa Inggris serta sastranya di Sydney University dalam rangka Colombo Plan. Tahun 1960 menjabat Kepala Inspeksi Kebudayaan Djakarta Raya dan memberi kuliah pada FS-UI tentang Kesusastraan Indonesia Modern. Tahun 1961 menjabat sebagai Lektor Kepala pada Australian National University di Canberra dan mengajar sastra Indonesia Modern dan bahasa Sunda.

atheis, Achdiat K. Mihardja

Salah satu karya terpenting yang lahir dari tangan Achdiat K. Mihardja adalah novel Atheis, yang diterbitkan tahun 1949. Novel ini mengisahkan kegelisahan manusia dalam mencari pegangan hidup di tengah pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat yang terus berubah. Tema tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini meski Atheis ditulis puluhan tahun lalu. Novel yang merupakan salah satu puncak karya sastra Indonesia modern ini telah berulang kali dicetak dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Novel ini juga diangkat ke film layar lebar dengan judul yang sama tahun 1974.

Berdasarkan novel ini (Atheis) pengarangnya dianugerahi Hadiah Tahunan Pemerintah RI pada tahun 1969. Sebelumnya, pada 1959, kumpulan cerpennya yang diberi judul Keretakan dan Ketegangan mendapat hadiah Sastra Nasional Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Selain kedua buku tersebut, Karya-karya Achdiat yang lainnya adalah Polemik Kebudayaan (editor, 1948) Bentrokan dalam Asrama (drama, 1952), Kesan dan Kenangan (1960), Debu Cinta Berterbangan (novel, Singapura, 1973), Belitan Nasib (kumpulan cerpen, 1975), Pembunuhan dan Anjing Hitam (kumpulan cerpen, 1975), Pak Dullah in Extrimis (drama, 1977), Si Kabayan, Manusia Lucu (1997), dan Manifesto Khalifatullah (novel, 2006).

Rahmatullah Ading Affandie (RAF)

Rahmatullah Ading Affandie (RAF)

RAF atau Rahmatullah Ading Affandie (1929-2008) merupakan seorang tokoh Jawa Barat. Ia adalah sastrawan Sunda, budayawan, juga pengamat sepakbola. Ia banyak melahirkan banyak karya baik novel sunda, carpon, maupun naskah drama. Salah satu garapannya yaitu sinetron Sunda Inohong di Bojong Rangkong pernah populer di TVRI Bandung.

RAF lahir di Banjarsari, Ciamis, 2 Oktober tahun 1929 (meski tentang hari kelahirannya, RAF sendiri masih menyangsikan), putra dari Bapak Udin Tampura dan Ibu Ratna Permana. Mengenai RAF memulai sekolah di HIS Pasundan Tasikmalaya. Pada zaman Jepang, RAF melanjutkan pendidikannya di pesantren, tepatnya di Pesantren Miftahul Huda Ciamis. Pada masa revolusi, RAF kemudian melanjutkan sekolah Pertanian di Tasikmalaya dan Sekolah Menengah Atas di Bandung. Jenjang pendidikan tingginya dilalui di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sampai tingkat Sarjana Muda. Pada tahun 1963, RAF diangkat sebagai pegawai Perkebunan Negara IX sampai dengan pensiun dari PTP XII pada tahun 1983.

Sejak masih belum bisa membaca dia sering dibacakan oleh eyangnya, R. Hasan Nurwawi, karya-karya pengarang Sunda ternama seperti M.A. Salmun, Sacadibrata, Kadir Tisna Sujana, Syarif Amin, dan pengarang-pengarang lainnya. Minatnya terhadap kesusastraan juga tidak lepas dari pengaruh kakak ibunya yang mengasuh RAF sejak kecil, E. Soewitaatmadja. Diantara karangan RAF yang terkenal antara lain Nu Kaul Lagu Kaleon (1989), Bentang Lapang, serta Dongeng Enteng ti Pasantren (1961). Untuk buku Dongeng Enteng ti Pasantren RAF mendapat anugerah hadiah sastra LBSS pada tahun 1961. Berkaitan dengan banyaknya jasa yang dihasilkannya dalam mengembangkan Bahasa dan Sastra Sunda, pada tahun 1998 dianugerahi lagi hadiah Rancage dalam bidang jasa setelah pada tahun 1990 Ia dianugerahi hadiah Sastra Rancage untuk karyanya Nu Kaul Lagu Kaleon.

Selain menulis buku RAF juga produktif menulis naskah drama. Diantaranya drama Dakwaan dan Yaomal Qiyamah yang ditulis tahun 1950-an dan telah dipergelarkan puluhan kali. Selain itu RAF menulis skenario film, diantaranya Si Kabayan dan Ratu Ular yang ditayangkan oleh TVRI pusat. Sementara naskah serial Inohong di Bojong Rangkong yang ditayangkan di TVRI Bandung ditulis tidak kurang dari 110 judul.

Tahun 1963 RAF merintis kasidah modern yaitu Lingga Binangkit yang kemudian mengembangkan diri menjadi grup lainnya yaitu Patria. Lingga Binangkit merupakan lingkung seni yang memelopori pembaruan tidak saja di bidang seni tembang, tapi merambah ke seni kasidah. Dalam tembang Cianjuran, RAF menghadirkan konsep yang sama sekali baru. RAF menghadirkan konsep tembang berbasis puisi, padahal kala itu semua paguyuban tembang Cianjuran bersandar pada mamaos. Selain memajukan seni Cianjuran, terobosan penting Lingga Binangkit adalah penggunaan alat-alat musik barat seperti gitar dan keyboard dalam seni kasidah.

April 2005, RAF masih sempat menulis naskah gending yang dijudulinya Wiwitan Indit-inditan. Naskah ini dipentaskan pada perayaan 42 tahun Lingga Binangkit di Gedung Asia Africa Culture Center (gedung Majestic), di Jalan Braga Bandung.

RAF juga memiliki minat yang besar terhadap sepakbola. Sejak di HIS dia sudah pintar mengolah si kulit bundar dan sering dipinjam sekolah lain untuk memperkuat tim sepak bola sekolah tersebut. Ketika mengetahui RAF akan memperkuat tim sekolah tersebut, sekolah yang akan menjadi musuhnya banyak yang menolak bermain. Karena kepintarannya bermain bola, oleh masyarakat Tasik saat itu RAF dijuluki “Oyon van Gang Loji”. Oyon adalah salah seorang pemain PSTS (cikal bakal Persitas) yang sangat terkenal. Sedangkan Gang Loji adalah alamat rumah Emo Suwitaatmaja, bapak asuh RAF.

Antara tahun 1951-1954, RAF pernah menjadi komentator sepakbola di RRI Jakarta dan Bandung. RAF juga berjasa besar dalam mengembangkan pamor Persib. Tahun 1954-1955, RAF menjadi Ketua komisi teknik di Persib. Pemain Persib terkenal waktu itu yang pernah menjadi asuhannya diantaranya Rukman, Komar, Rukma dan Parhim.

Pengalaman hidupnya dia kisahkan dalam buku biografinya berjudul RAF Urang Banjarsari jadi Inohong di Bojongrangkong yang diterbitkan oleh Geger Sunten tahun 1998. Demikian pula perjalanan RAF menunaikan ibadah haji, dibukukan dengan judul Akina Puri ka Tanah Suci.

Sejak Juli 2007. RAF menderita kanker kelenjar dan sempat beberapa kali dirawat di RS Hasan Sadikin. Pada 6 Februaru 2008, RAF wafat di usia 79 di RS Advent Bandung. Ia meninggalkan seorang istri, Ineu Priatnakusumah (78) serta lima anak dan sembilan orang cucu.

Referensi:
http://www.sundanet.com/?p=196
http://yusranpare.wordpress.com/2008/02/07/pileuleuyan-pa-ading/