Tampilkan postingan dengan label Manajemen konflik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen konflik. Tampilkan semua postingan
Manajemen Konflik

Manajemen Konflik

Konflik organisasi adalah perbedaan pendapat antara dua atau lebih anggota organisasi atau kelompok, karena harus membagi sumber daya yang angka, atau aktifitas kerja dan atau karena mereka mempunyai status, tujuan, penilaian atau pandangan yang berbeda. 

Perbedaan  antara konflik dengan persaingan (kompetisi) terletak pada apakah salah satu pihak dapat mencegah pihak lain dapat mencegah pihak lain dalam pencapaian tujuannya, kompetisi terjadi, apabila tujuan kedua belah pihak tidak sesuai, akan tetapi kedua belah pihak tidak dapat saling mengganggu. Sebagai contoh dua bagian pemasaran komputer yang saling bersaing dalam satu organisasi, dimana kedua bagian tersebut siapakah yang pertama-tama mencapai atau memenuhi kouta penjulan yang paling banyak. Jika dalam hal ini tidak ada kemungkinan untuk mencampuri usaha pihak lain dalam mencapai tujuannya, maka terjadilah kompetisi, akan tetapi apabila ada kemungkinan untuk mencampuri itu dan memang dilakukan, terjadinya konflik.

Sedang kerjasama (kooperasi) terjadi bila dua atau lebih pihak yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Ada kemungkinan konflik dan kerjasama berdampingan, lawan kerjasama ialah bukan konflik, tetapi tidak ada kerjasama. Sebagai contoh anda setuju pada suatu tujuan, tetapi anda tidak setuju dengan cara pencapaian tujuan tersebut. Manajemen konflik (pengelolaan konflik) berarti bahwa para manajer harus berusaha menemukan cara untuk mengembangkan konflikdan koperasi.

Perubahan pandangan
Sikap terhadap konflik demi organisasi  telah mengalami perubahan dari waktu kewaktu. Stephen P. Robbins telah meneliti evolusi ini dan menjelaskan tentang adanya perbedaan antara pandangan tradisional dengan pandangan interaksi. Konflik dapat fungsional ataupun berperan salah (dyfunctional). Secara sederhana bahwa konflik mempunyai potensi bagi pengembangan atau pengganggu pelaksanaan kegiatan organisasi tergantung kepada cara pengelolaanya. Segi fungsional konflik antara lain :
  • Manajer menemukan cara penggunaan dana yang lebih baik.
  • Lebih mempersatukan para anggota
  • Menemukan cara perbaikan prestasi organisasi dan
  • Penggantian manajer baru yang lebih cakap dan bersemangat.

Pandangan lama                                                               Pandangan baru

  • Konflik dapat dihindarkan.                            
  • Konflik disebabkan oleh kesalahan-kesalahan manajemen dalam perancangan dan pengelolaan organisasi atau oleh pengacau.
  • Konflik mengganggu organisasi dan menghalangi pelaksanaan optimal.
  • Tugas manajemen adalah menghilangkan konflik.
  • Pelaksanaan kegiatan organisasi yang optimal membutuhkan  penghapusan konflik.
  • Konflik tidak dapat dihindarkan.
  • Konflik timbul karena banyak sebab, termasuk struktur organisasi, perbedaan tujuan  yang  tidak dapat dihindarkan, perbedaan dalam  resepsi dan nilai-nilai pribadi dan sebagainya.
  • Konflik dapat membantu atau menghambat pelaksanaan kegiatan organisasi dalam berbagai derajat.
  • Tugas manajemen adalah mengelola tingkat konflik dan penyelesaian.
  • Pelaksanaan kegiatan organisasi yang optimal membutuhkan tingkat konflik yang moderat.

Jenis-jenis konflik
Ada lima jenis konflik dalam kehidupan organisasi :
  • Konflik didalam individu :Konflik ini timbul apabila individu merasa bimbang terhadap pekerjaan mana yang harus dilakukannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
  • Konflik antar individu organisasi yang sama :Konflik ini timbul dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari adanya konflik antara peranan (seperti antara manajer dan bawahannya).
  • Konflik antara individu dan kelompok :Konflik ini berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksa oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh, seorang individu mungkin dihukum atau di asingkan oleh kelompok  kerjanya karena melanggar norma-norma kelompok.
  • Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama :Konflik ini terjadi karena adanya pertentangan kepentingan antara kelompok.
  • Konflik antar organisasi :Yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara, konflik ini telah mengarahkan timbulnya pengembangan produk baru, teknologi, dan jasa, harga-harga lebih rendah, dan penggunaan sumber daya lebih efisien.
Metode pengelolaan konflik :

1. Metode Stimulasi Konflik 
Seperti telah disebutkan dimuka, konflik dapat menimbulkan dinamika dan pencapaian cara-cara yang lebih dalam pelaksanaan kegiatan kerja suatu kelompok. Situasi dimana konflik terlalu rendah akan menyebabkan para karyawan takut berinisiatif dan menjadi pasif. Kejadian-kejadian, perilaku dan informasi yang dapat mengarahkan orang-orang bekerja lebih baik diabaikan; para anggota kelompok saling bertoleransi terhadap kelemahan dan kejelekan pelaksanaan kerja. Manajer dari kelompok seperti ini perlu merangsang timbulnya persaingan dan konflik yang dapat mempunyai efek penggemblengan.
Metode stimulasi konflik meliputi :
a)      Pemasukan atau penempatan orang luarvke dalam kelompok.
b)      Penyusunan kembali organisasi
c)      Penawaran bonus, pembayaran intensif dan penghargaan untuk mendorong persaingan.
d)     Pemilihan manajer-manajer yang tepat.
e)      Perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan.

2. Metode Pengurangan Konflik :
Manajer biasanya lebih terlibat dengan pengurangan konflik daripada stimulasi konflik. Metoda pengurangan konflik menekan terjadinya antogonisme yang ditimbulkan oleh konflik. Jadi, metoda ini mengelola tingkat konflik melalui “pendinginan suasana” tetapi tidak menangani masalah-masalah yang semula menimbulkan konflik. 

Dua metoda dapat digunakan untuk mengurangi konflik. Pendekatan efektif pertama adalah mengganti tujuan yang menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih bisa diterima kedua kelompok. Metoda efektif kedua adalah mempersatukan kedua kelompok yang bertentangan untuk menghadapi “ancaman” aatau “musuh” yang sama.

3. Metode Penyelesaian Konflik :
Metode penyelesaian konflik yang akan dibahas berikut berkenaan dengan kegiatan-kegiatan para manajer yang dapat secara langsung mempengaruhi yang bertentangan. Metode-metode penyelesaian konflik lainya yang dapat digunakan, mencakup perubahan dalam struktur organisasi, mekanisme koordinasi, dan sebagainya, telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya.

Ada tiga metode penyelesaian yang sering digunakan yaitu :

1. Dominasi dan penekanan :
Metode ini dapat terjadi melalui cara-cara :
  • Kekerasan (forcing) yang bersifat penekanan otokratik
  • Penenangan (smoolling) yaitu cara yang lebih diplomatis
  • Penghindaran (avoidance) dimana manajer menghindar untuk mengambil posisi yang tegas.
  • Penentuan melalui suara terbanyak (majority rule) mencoba untuk menyelesaikan konflik antar kelompok dengan melakukan pemungutan suara (voting) melalui prosedur yang adil.
2. Kompromi (compromise)
Manajer mencari jalan keluar yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang saling berselisih untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, keputusan dicapai melalui kompromi bukanya membiarkan pihak-pihak yang berkonflik merasa tenggelam dalam frustasi dan bermusuhan. Akan tetapi kompromi merupakan metode yang lemah untuk menyelesaikan konflik, karena biasanya tidak menghasilkan penyelesaikan yang dapat membantu untuk tercapainya tujuan organisasi. Bentuk bentuk kompromi meliputi :
  • Pemisahan (separation), dimana pihak-pihak yang sedang bertentangan dipisahkan sampai mereka menyetujui.
  • Arbitrasi (perwasitan), dimana pihak-pihak yang berkonflik tunduk kepada pihak ketiga.
  • Kembali ke peraturan yang berlaku, penyelesaian berpedoman kepaada peraturan (resort to rules) dimana kemacetan dikembalikan pada ketentuan yang tertulis yang berlaku dan membiarkan peraturan memutuskan penyelesaian konflik.
  • Penyuapan (bribing), dimana slah satu pihak menerima beberapa kompentensi sebagai imbalan untuk mengakhiri konflik.
Pemecahan masalah secara menyeluruh :
Dengan metode ini konflik antar kelompok diubah menjadi situasi dimana kelompok-kelompok yang sedang berselisih bersama-sama berusaha mencari penyelesaian bagi masalah yang timbul yang dapat diterima semua pihak. Hal ini manajer perlu mendorong bawahannya, agar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melakukan pertukaran gagasan secara bebas, dan menekankan usaha-usaha pebcarian penyelesaian integratif.

Ada tiga metode untuk penyelesaian konflik yaitu :
  1. Konsensus, dimana pihak-pihak mengadakan pertemuan untuk mencari pemecahan-pemecahan yang terbaik, bukan kemenangan  bagi masing-masing pihak.
  2. Metode konfrontasi, dimana pihak-pihak yang saling berhadapan menyatakan pandangannya secara langsung satu sma lain, dengan kepemimpinan yang trampil dan kesediaan semua pihak untuk mendahulukan kepentingan bersama, kerap-kali dapat ditemukan penyelesaian yang rasional.
  3.  Penggunaan tujuan-tujuan yang lebih tinggi, dapat juga terjadi metode penyelesaian konflik bila tujuan tersebut disetujui bersama.
Konflik struktural :
  1. Konflik Hirarki , Konflik yang terjadi di berbagai tingkatan organisasi. Contoh konflik manajemen puncak dengan manajemen menegah, konflik antar manajer dengan karyawan.
  2.  Konflik fungsional, Konflik yang terjadi antar departemen fungsional organisasi, contoh : konflik antar bagian produksi dengan bagian pemasaran, bagian personalia dengan bagian produksi dan sebagainya.
  3. Konflik lini-staf, Konflik yang terjadi antara lini dan staf, karena ada perbedaan-perbedaan diantara keduanya.
  4. Konflik formal informal, Konflik yang terjadi antara organisasi formal dan informal.
Konflik lini dan staf
Bentuk umum dari konflik organisasi adalah konflik antara para anggota lini dan staf. Perbedaan ini memungkinkan para anggota lini dan staf untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing secara efektif.

Pandangan lini :
Para anggota lini berpendapat bahwa para anggota staf mempunyai empat keluarga:
  •  Staf melampaui wewenangnya.
  • Staf tidak memberikan advis yang sehat.
  • Staf menumpang keberhasilan lini.
  • Staf mempunyai prespektif yang sempit.
Pandangan staf :
  •  Lini tidak mau meminta bantuan staf pada waktu yang tepat.
  • Lini menolak gagasan baru
  • Memberi wewenang yang terlalu kecil kepada staf.
Penangulangan konflik lini dan staf :
  • Penegasan tentang tanggung jawabanya.
  • Pengintegrasian kegiatan-kegiatan.
  • Memberi wewenang yang terlalu kecil kepada staf.
Referensi

T.Hani Handoko, op cit. Hal.346,349,352,353-354
Stephent P. Robbins. Managing Organizational Conflict, Prectice Hall, Englewood Cliff,  New York, 1974.
Fred Luthans, Organization Behavior, McGraw-Hill, Inc.,1977, halaman 398-399.



STRATEGI KONFLIK

STRATEGI KONFLIK

Pengertian Konflik
Menurut kamus besar bahasa Indonesia konflik adalah percekcokkan, perselisihan, pertentangan. Konflik berasal dari kata kerja bahasa latin yaitu configure yang berarti saling memukul. Secara Sosiologis konflik diartikan sebagai proses social antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Jika dilihat definisi secara sosiologis, konflik senantiasa ada dalam kehidupan masyarakat sehingga konflik tidak dapat dihilangkan tetapi hanya dapat diminimalkan.

Beberapa Faktor Penyebab Konflik
Perbedaan individu yang didasari oleh perbedaan pendirian dan perbedaan perasaan. Setiap manusia memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda, sehingga dalam menilai sesuatu tentu memiliki penilaian yang berbeda-beda. Misalnya masyarakat menilai kebijakan pemerintah mengenai menaikkan harga BBM karena harga bahan mentah naik. Tentu setiap masyarakat akan menilai dengan pemikirannya masing-masing yang mungkin secara umum terbagi menjadi kelompok yang pro dan kontra.

Perbedaan kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda
Orang dari kebudayaan berbeda, misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.

Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
Manusia merupakan mahkluk yang unik karena satu dengan yang lain relative berbeda. Berbeda pendirian, pemikiran, perilaku, kebiasaan, dsb. Dari perbedaan itu tentu timbul perbedaan kepentingan yang latar belakangnya juga berbeda. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak – pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik.

Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan merupakan suatu hal yang wajar didalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi perubahan yang sangat cepat akan memicu timbulnya konflik. Misalnya masyarakat pedesaan yang secara umum matapencariannya bertani yang hidupnya bergotong-royong dengan jadwal waktu yang relative tidak mengikat, kemudian tumbuh suatu industry dengan waktu yang relative cepat dengan kebiasaan cenderung individualis, disiplin kerja dan waktu kerja ditentukan, yang secara umum mengubah nilai-nilai masyarakat desa tadi, tentu  akan menimbulkan konflik berupa penolakan diadakannya industry di wilayah itu.

Akibat-akibat dari konflik.
Konflik dapat baik dan tidak baik. Konflik berakibat tidak baik seperti :
  1. Menghambat komunikasi, karena pihak-pihak yang berkonflik cenderung tidak berkomunikasi.
  2. Menghambat keeratan hubungan.
  3. Karena komunikasi relative tidak ada, maka akan mengancam hubungan pihak-pihak yang berkonflik.
  4. Mengganggu kerja sama.
  5. Hubungan yang tidak terjalin baik, bagaimana mungkin terjadi kerjasama yang baik.
  6. Mengganggu proses produksi,bahkan menurunkan produksi.
  7. Kerja sama yang kurang baik, maka produktifitas pun rendah.
  8. Menimbulkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
  9. Karena produktifitas rendah, timbullah ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
  10. Yang kemudian berakibat pada individu mengalami tekanan, mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustasi dan apatisme.

Konflik berakibat baik seperti:
  1. Membuat suatu organisasi hidup, bila pihak-pihak yang berkonflik memiliki kesepakatan untuk mencari jalan keluarnya.
  2. Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan salah satu akibat dari konflik, yang tujuannya tentu meminimalkan konflik yang akan terjadi dikemudian hari.
  3. Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan perbaikan dalam system serta prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
  4. Memunculkan keputusan-keputusan yang inovatif.
  5. Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

Sedangkan menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel jenis-jenis konflik terbagi atas :
  1. Konflik intrapersonal.
    • Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik ini terjadi pada saat yang bersamaan memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
  2. Konflik interpersonal.
    • Konflik ini adalah konflik seseorang dengan orang lainnya karena memiliki perbedaan keinginan dan tujuan.
    • Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok, Hal ini sering kali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas yang ditekankan pada kelompok kerja mereka . Sebagai contoh seorang individu dapat dikenai hukuman karena tidak memenuhi norma-norma yang ada.Konflik interorganisasi.
  3. Konflik antar grup dalam suatu organisasi adalah suatu yang biasa terjadi, yang tentu menimbulkan kesulitan dalam koordinasi dan integrasi dalam kegiatan yang menyangkut tugas-tugas dan pekerjaan. Karena hal ini tak selalu bisa dihindari maka perlu adanya pengaturan agar kolaborasi tetap terjaga dan menghindari disfungsional.

Cara-Cara Mengatasi Konflik
Mengatasi konflik antara pihak-pihak yang bertikai tergantung pada kemauan pihak-pihak yang berkonflik untuk menyelesaikan masalah. Selain itu juga peran aktif dari pihak luar yang menginginkan redanya konflik. Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi konflik yang telah terjadi :
  1. Rujuk
    • merupakan usaha pendekatan demi terjalinnya hubungan kerjasama yang lebih baik demi kepentingan bersama pula.
  2. Persuasi
    • mengubah posisi pihak lain, dengan menunjukan kerugian yang mungkin timbul, dan bukti factual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.
  3. Tawar-menawar
    • Suatu penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dengan mempertukarkan kesepakatan yang dapat diterima.
  4. Pemecahan masalah terpadu
    • Usaha pemecahan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua belah pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternative pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
  5. Penarikan diri
    • Cara menyelesaikan masalah dengan cara salah satu pihak yang bertikai menarik diri dari hubungan dengan pihak lawan konflik. Penyelesaian ini sangat efisien bila pihak-pihak yang bertikai tidak ada hubungan. Bila pihak-pihak yang bertikai saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain, tentu cara ini tidak dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik.
  6. Pemaksaan dan penekanan
    • Cara menyelesaikan konflik dengan cara memaksa pihak lain untuk menyerah. Cara ini dapat dilakukan apabila pihak yang berkonflik memiliki wewenang  yang lebih tinggi dari pihak lainnya. Tetapi bila tidak begitu cara-cara seperti intimidasi, ancaman, dsb yang akan dilakukan dan tentu pihak yang lain akan mengalah secara terpaksa.

Berikut contoh kasus konflik yang pernah terjadi :
  1. Konflik Vietnam berubah menjadi perang.
  2. Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol, sehingga timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina.
  3. Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya.
  4. Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. Ini termasuk konflik Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo), konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan.
Dinamika Organisasi
Manusia melakukan kegiatan dan bereaksi terhadap kegiatan orang lain dalam organisasi baik pimpinan atau sesama anggota, menimbulkan bermacam-macam dinamika perilaku dalam berorganisasi. Dalam dinamika organisasi ini akan dibahas beberapa hal penting antara lain :
  1. Dinamika Konflik
    • Konflik adalah segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak. Timbulnya konflik atau pertentangan dalam organisasi, merupakan suatu kelanjutan dari adanya komunikasi dan informasi yang tidak menemui sasarannya. Konflik dilatar belakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang di bawa individu dalam suatu interaksi.
  2. Jenis-Jenis Konflik, adapun mengenai jenis-jenis konflik, dikelompokkan sebagai berikut :
    • Person rile conflict : konflik peranan yang terjadi didalam diri seseorang.
    • Inter rule conflict : konflik antar peranan, yaitu persoalan timbul karena satu orang menjabat satu atau lebih fungsi yang saling bertentangan.
    • Intersender conflict : konflik yang timbuk karena seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang.
    • Intrasender conflict : konflik yang timbul karena disampaikannya informasi yang saling bertentangan
    • Selain pembagian jenis konflik di atas masih ada pembagian jenis konflik yang dibedakan menurut pihak-pihak yang saling bertentangan, yaitu :
      1. Konflik dalam diri individu
      2. Konflik antar individu
      3. Konflik antar individu dan kelompok
      4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama
      5. Konflik antar organisasi
    • Individu-individu dalam organisasi mempunyai banyak tekanan pengoperasian organisasional yang menyebabkan konflik. Secara lebih konseptual litteral mengemukakan empat penyebab konflik organisasional, yaitu :
      1. Suatu situasi dimana tujuan-tujuan tidak sesuai
      2. Keberadaan peralatan-peralatan yang tidak cocok atau alokasi-alokasi sumber daya yang tidak sesuai
      3. Suatu masalah yang tidak tepatan status
      4. Perbedaan presepsi
    • Didalam organisasi terdapat empat bidang structural, dan dibidang itulah konflik sering terjadi, yaitu :
      1. Konflik hirarkis adalah konflik antar berbagai tingkatan organisasi
      2. Konflik fungsionala adalah konflik antar berbagai departemen fungsional organisasi
      3. Konflik lini-staf adalah konflik antara lini dan staf
      4. Konflik formal informal adalah konflik antara organisasi formal dan organisasi informal.
    • Secara tradisional pendekatan terhadap konflik organisasional adalah sangat sederhana dan optimistik. Pendekatan tersebut didasarkan atas tiga anggapan, yaitu :
      1. Konflik dapat di hindarkan
      2. Konflik diakibatkan oleh para pembuat masalah, pengacau dan primadona
      3. Bentuk-bentuk wewenang legalistic
      4. Korban diterima sebagai hal yang tak dapat dielakkan
    • Apabila keadaan tidak saling mengerti serta situasi penilaian terhadap perbedaan antar anggota organisasi itu makin parah sehingga konsesus sulit dicapai, sehingga konflik tak terelakkan. Dalam hal ini pimpinan dapat melakukan berbagai tindakan tetapi harus melihat situasi dan kondisinya, yaitu :
      1. Menggunakan kekuasaan
      2. Konfrontasi
      3. Kompromi
      4. Menghaluskan situasi
      5. Mengundurkan diri
    • Bila dilihat sekilas sepertinya konflik itu sangat sulit untuk dihindari dan diselesaikan, tetapi dalam hal ini jangan beranggapan bahwa dengan adanya konflik berarti organisasi tersebut telah gagal. Karena bagaimanapun sulitnya suatu konflik pasti dapat diselesaikan oleh para anggota dengan melihat persoalan serta mendudukannya pada proporsi yang wajar.
  3. Sumber-Sumber Konflik
    • Kebutuhan untuk membagi (sumber daya-sumber daya) yang terbatas
    • Perbedaan-perbedaan dalam berbagai tujuan
    • Saling ketergantungan dalam kegiata-kegiatan kerja
    • Perbedaan nilai-nilai atau presepsi
    • Kemandirian organisasional
    • Gaya-gaya individual
  4. Strategi Penyelesaian Konflik
    • Mengendalikan konflik berarti menjaga tingakat konflik yang kondusif bagi perkembangan organisasi sehingga dapat berfungsi untuk menjamin efektivitas dan dinamika organisasi yang optimal. Namun bila konflik telah terlalu besar dan disfungsional, maka konflik perlu diturunkan intensitasnya, antara lain dengan cara :
      • Mempertegas atau menciptakan tujuan bersama. Perlunya dikembangkan tujuan kolektif di antara dua atau lebih unit kerja yang dirasakan bersama dan tidak bisa dicapai suatu unit kerja saja.
      • Meminimalkan kondisi ketidak-tergantungan. Menghindari terjadinya eksklusivisme diatara unit-unit kerja melalui kerjasama yang sinergis serta membentuk koordinator dari dua atau lebih unit kerja.
      • Memperbesar sumber-sumber organisasi seperti : menambah fasilitas kerja, tenaga serta anggaran sehingga mencukupi kebutuhan semua unit kerja.
      • Membentuk forum bersama untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah bersama. Pihak-pihak yang berselisih membahas sebab-sebab konflik dan memecahkan permasalahannya atas dasar kepentingan yang sama.
      • Membentuk sistem banding, dimana konflik diselesaikan melalui saluran banding yang akan mendengarkan dan membuat keputusan.
      • Pelembagaan kewenangan formal, sehingga wewenang yang dimiliki oleh atasan atas pihak-pihak yang berkonflik dapat mengambil keputusan untuk menyelesaikan perselisihan.
      • Meningkatkan intensitas interaksi antar unit-unit kerja, dengan demikian diharapkan makin sering pihak-pihak berkomunikasi dan berinteraksi, makin besar pula kemungkinan untuk memahami kepentingan satu sama lain sehingga dapat mempermudah kerjasama.
      • Me-redesign kriteria evaluasi dengan cara mengembangkan ukuran-ukuran prestasi yang dianggap adil dan acceptable dalam menilai kemampuan, promosi dan balas jasa.
  5. Motivasi
    • Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi merupakan hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu perilaku yang tampak.
    • Motivasi merupakan masalah yang kompleks dalam organisasi karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi adalah berbeda-beda. Dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula.
    • Motivasi dapat ditimbulkan baik oleh faktor internal maupun eksternal tergantung darimana suatu kegiatan dimulai.
    • Kebutuhan dan keinginan yang ada dalam diri seseorang akan menimbulkan motivasi internal. Begitu juga dalam suatu organisasi, setiap individu akan mempunyai kebutuhan dan keinginan yang berbeda dan unik. Penggolongan motivasi internal yang dapat diterima secara umum belum mendapat kesepakatan para ahli, namun demikian para psikolog menyetujui bahwa motivasi internal dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu :
      1. motivasi fisiologis, yang merupakan motivasi alamiah (biologis) seperti lapar, haus, seks.
      2. motivasi psikhologis yang dapat dikelompokan dalam 3 kategori dasar, yaitu :
      3. motivasi kasih sayang (affectional motivation) yaitu motivasi untuk menciptakan dan memelihara kehangatan keharmonisan, dll.
      4. motivasi mempertahankan diri (ego-defensive motivation) yaitu motivasi untuk melindungi kepribadian dan mendapatkan kebanggaan diri.
      5. motivasi memperkuat diri (ego-bolstering motivation) yaitu motivasi untuk mengembangkan kepribadian, berprestasi dll.

Teori motivasi eksternal menjelaskan kekuatan-kekeuatan yang ada di dalam individu yang di pengaruhi faktor-faktor intern. Untuk itu,teori motivasi eksternal tidak mengabaikan teori motivasi internal, tetapi justru mengembangkannnya. Teori motivasi eksternal ada yang positif dan ada pula yang negatif. Dalam hal ini ada beberapa teori yang menjelaskan teori motivasi eksternal, yaitu :
  1. Teori X dan Teori Y Mc Gregor
    • Anggapan-anggapan yang mendasari teori X :
      1. Rata-rata para pekerja itu malas, tidak suka bekerja dan akan menghindarinya bila dapat.
      2. Karena pada dasarnya pekerja tidak suka bekerja, maka harus dipaksa, dikendalikan, dipelakukan dengan hukuman, dan diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi.
      3. Rata-rata para pekerja lebih senang dibimbing, berusaha menghindari tanggung-jawab, mempunyai ambisi yang kecil, keamanan drinya di atas segala-galanya.
    • Anggapan-anggapan yang mendasari teori Y :
      1. Usaha phisik dan mental yang dilakukan manusia dalam bekerja adalah kodrat manusia, sama halnya dengan bermain atau beristirahat.
      2. Rata-rata manusia bersedia belajar, dalam kondisi yang layak, tidak hanya menerima tetapi mencari tanggung-jawab.
      3. Ada kemampuan yang besar dalam kecerdikan, kreativitas dan daya imajinasi untuk memecahkan masalah-masalah organisasi yang secara luas tersebar pada seluruh karyawan.
      4. Pengendalian ekstern dan hukuman bukan satu-satunya cara untuk mengarahkan usaha pencapaian tujuan organiasasi.
      5. Keterikatan pada tujuan organisasi adalah fungsi penghargaan yang diterima karena prestasinya dalam pencapaian tujuan itu.
      6. Organisasi seharusnya memberikan kemungkinan orang untuk mewujudkan potensinya, dan tidak hanya digunakan sebagian.
  2. Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, menurut Maslow ada 5 kebutuhan dasar manusia yang membentuk hirarki kebutuhan, yaitu :
    • Kebutuhan Fisiologis
    • Kebutuhan Keamanan
    • Kebutuhan Sosial
    • Kebutuhan Penghargaan
    • Kebutuhan Aktualisasi Diri
  3. Teori Motivasi Berprestasi Mc Clelland
    • Menurut Mc Clelland, seseorang dianggap mempunyai motivasi prestasi yang tinggi, apabila dia mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik dari pada yang lain dalam banyak situasi. Mc Clelland memusatkan perhatiannya pada tiga kebutuhan manusia yaitu :
      1. Kebutuhan Prestasi
      2. Kebutuhan Afiliasi
      3. Kebutuhan Kekuasaan
  4. Teori Motivasi Dua faktor Herzberg
    • Menurut Herzberg ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang dalam organisasi, yaitu :
      1. pemuas kerja (job satisfier) yang berkaitan dengan isi pekerjaan.
      2. penyebab ketidakpuasan kerja (job dissafisfiers) yang bersangkutan dengan suasana pekerjaan Satisfiers disebar motivators. (dissatifiers disebut faktor-faktor yang higienis).

Manajemen resiko

Manajemen resiko


“Sukses hanya akan dicapai oleh orang yang berani mengmbil risiko karena itu mau tidak mau, setiap orang harus mengambil resiko yang ada dalam hidupnya. Hanya mereka yang berani menghadapi resiko yang akan bertahan hidup”. Henry W. Longfellow (1807-1882),

Risiko telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sejak hidup di muka bumi, manusia dihadapkan pada berbagau resiko. Manusia purba misalnya, menghadapi resiko yang berasal dari alam, seperti ancaman binatang buas, kondisi lingkungan alam yang ganas dan bencana yang mengancam.

Manajemen resiko adalah bagian semtral dalam setiap aspek kehidupan. Banyak orang yang tidak menyadari dalam kehidupan sehari-hari mereka telah menjalankan konsep manajemen risiko Dengan melaksanakan manajemen risiko diperoleh berbagai manfaat antara lain:
·         Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang mengandung bahaya.
·         Menekan biaya untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan.
·         Menimbilkan rasa aman dikalangan pemegang saham mengenai kelangsungan dan keamanan investasinya.
·         Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsure dalm organisasi/perusahaan.
·         Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku.


Menurut Peter Drucker, prinsip bisnis yang baik adalah dengan membuat perencanaan sebaik mungkin, namun juga bersiap menghadapi kondisi terburuk. “Prepare for the best, but prepare for the worst”. Setiap pengusaha pasti menginginkan keuntungan, apapun usaha yang dilakukannya. Namun demikian, mereka juga harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.

Lingkup Manajemen Risiko
Manajemen risiko dapat diaplikasikan dalam setiap tahapan aktivitas atau daur hidup suatu proyek yaitu:
a)      Tahap konsepsional
b)      Tahap rancang bangun
c)      Tahap konstruksi
d)     Tahap operasi
e)      Tahap pemeliharaan
f)       Tahap pasca operasi
Konsep manajemen risiko juga dapat diaplikasikan untuk berbagai aktivitas dan keperluan misalnya:
a)      Sector transportasi
b)      Bidang kesehatan
c)      Sector pertambangan
d)     Sector kehutanan
e)      Sector pertanian
f)       Bencana alam


KONSEP DASAR MANAJEMEN RISIKO

Setiap aktivitas mengandung risiko untuk berhasil atau gagal. Risiko adalah kombinasi dari kemungkinan dan keparahan dari suatu kejadian.

Semakin besar potensi terjadinya suatu kejadian dan semakin besar dampak yang ditimbulkannya, maka kejadian tersebut dinilai mengandung risiko tinggi.

Dalam aspek K3, risiko biasanya bersifat negative seperti cedera, kerusakn atau gangguan operasi. Risiko yang bersifat negative harus dihindarkan atau ditekan seminimal mungkin.

Menurut OHSAS 18001, risiko K3 adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya kejadian bahaya atau paparan dengan keparahan dari cedera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut. Sedangkan manajemen risiko adalah suatu proses untuk mengelola risiko yang ada dalam setiap kegiatan.

Perhitungan Risiko
Calculated Risk atau risiko yang diperhitungkan merupakan prinsip utama dalam mengelola suatu risiko. Dalam melakukan suatu aktivitas, manusia berada diantara titik aman (seratus persen aman) dan titik bahaya (seratus persen risiko). Jika bekerja atau melakukan kegiatan pada titik aman, kegiatan tersbut akan berjalan dengan selamat, sebaliknya jika berada pada titik risiko (seratus persen bahaya), dengan seketika terjadi kecelakaan atau kejadian lain yang tidak diinginkan.
Prinsip terbaik adalah calculated risk artinya seseorang melakukan sesuatu berdasarkan perhitungan untung rugi, perhitungan dan analisa risiko bahaya, perhitungan dampak dan setelah itu baru melakukan tindakan atau mengambil keputusan. Menghitung ridiko adalah kata kunci dalam manajemen risiko.

Persepsi Risiko
Ada orang yang sangat peduli terhadap risiko sebaliknya ada yang kurang peduli. Hal ini disebabkan karena perbedaan persepsi seseorang terhadap risiko yang dipengaruhi berbagai factor seperti latar belakang social, budaya, pengalaman dan pengetahuan.
Pada saat persepsi seseorang mengenai risiko berada di puncak, angka kecelakaan, kegagalan atau penyimpangan akan turun. Sebaliknya disaat persepsi risiko menurun, maka kewaspadaan juga akan menurun sehingga peluang terjadinya kecelakaan atau kegagalan akan meningkat.

Jenis Risiko
Risiko dalam organisasi sangat beragam sesuai dengan sifat, lingkup, skala dan jenis kegiatannya diantaranya sebagai berikut:
  • Risiko Finansial
  • Risiko Pasar
  • Risiko Alam
  • Risiko Operasional
Yang termasuk risiko operasional adalah:
    1. Ketenagakerjaan
    2. Teknologi
    3. Risiko K3
  • Risiko Ketenagakerjaan dan Sosial
  • Risiko Keamanan
  • Risiko Sosial

PROSES MANAJEMEN RISIKO

Standar Manajemen Risiko
Menurut standar AS/NZS 4360 tentang Standar Manajemen Risiko, proses manajemen risiko mencakup langkah sebagai berikut:
  1. Menentukan konteks
  2. Identifikasi Risiko
  3. Penilaian Risiko
    • Analisa Risiko
    • Evaluasi Risiko
  4. Pengendalian Risiko
  5. Komunikasi dan Konsulatasi
  6. Pemantauan dan Tinjau Ulang

Identifikasi risiko
Didalam bidang K3, identifikasi risiko disebut juga identifikasi bahaya, sedangkan di dalam bidang lingkungan disebut identifikasi dampak.
Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi semua kemungkinan bahaya atau risiko yang mungkin terjadi dilingkungan kegiatan dan bagaimana dampak atau keparahannya jika terjadi.

Penilaian Risiko
Hasil identifikasi bahaya selanjutnya dianalisa dan dievaluasi untuk menentukan besarnya risiko serta tingkat risiko serta menentukan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak.

Pengendalian Risiko
Semua risiko yang telah diidentifikasi dan dinilai tersebut harus dikendalikan, khususnya jika risiko tersebut dinilai memiliki dampak signifikan atau tidak dapat diterima.

Komunikasi dan Konsultasi
Langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan risiko atau bahaya kepada semua pihak yang berkepentingan dengan kegiatan organisasi atau perusahaan.

Pemantuan dan Tinjau Ulang
Proses manajemen risiko harus dipantau untuk menentukan atau mengetahui adanya penyimpangan atau kendala dalam pelaksanaannya. Pemantauan juga diperlukan untuk memastikan bahwa system manajemen risiko telah berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.  

MANAJEMEN RISIKO K3

Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komperhensif, terencana dan terstruktur dalam suatu kesisteman yang baik. Manajemen risiko K3 berkaitan dengan bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Manajemen risiko K3 telah berkembang sejak lama. Pada tahun 1970. british Safety Council di Inggris mendirikan Institut of Risk Management untuk mengembangkan dan melakukan pembinaan terhadap ahli-ahli K3 mangenai manajemen risiko.

Sebelumnya manajemen risiko K3 telah diaplikasikan di lingkungan asuransi untuk menentukan tingkat tanggungan dan premi asuransi. Karena itu, lembaga memiliki hubungan dengan perusahaan penilai risikok (Risk Survey) yang melakukan analisa risiko terhadap perusahaan-perusahaan yang akan mempertanggungkan asetnya.

Manajemen risiko sangat arat hubungannya dengan K3. Timbulnya aspek K3 disebabkan katena adanya risiko yang mengancam keselamatan pekerja, sarana dan lingkungan kerja sehingga harus dikelola dengan baik.

Sebaliknya , keberadaan risko dalam kegiatan perusahaan mendorong perlunya upaya keselamtan untuk mengendalikan semua risiko yang ada. Dengan demikian, risiko adalah bagian tidak terpisahkan dengan manajemen K3 yang diibaratkan mata uang dengan dua sisi.      

Implementasi K3 dimulai dengan perencanaan yang baik yang meliputi, identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko (HIRARC- Hazards identification, Risk assessment, dan Risk control). HIRARC inilah yang menentukan arah penerapan K3 dalam perusahaan. Penerapan system K3 dalam perusahaan dikaitkan dengan manajemen risiko dapat dikategorikan atas 4 jenis yaitu: virtual, salah arah, acak, dan komprehensif.


IDENTIFIKASI BAHAYA

Keberhasilan suatu proses manajemen risiko K3 sangat ditentukan oleh kemampuan dalam menentukan atau mengidentifikasi semua bahaya yang ada dalam kegiatan. Jika semua bahaya berhasil diidentifikasi dengan lengkap berarti perusahaan akan dapat melakukan pengelolaan secara komprehensif.

Tujuan Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya memberikan berbagai manfaat antara lain:
  1. Mengurangi peluang kecelakaan
  2. Memberikan pemahaman bagi semua pihak mengenai potensi bahaya dari aktifitas perusahaan.
  3. Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan pengamanan yang tepat dan efektif.
  4. Memberikan informasi yang terdokumantasi mengenai sumber bahaya dalam perusahaan kepada semua pihak khususnya pemangku kepentingan.

Persyaratan Identifikasi Bahaya
Ada beberapa hal yang mendukung keberhasilan program identifikasi bahaya antara lain:
  • Identifikasi baya harus sejalan dan relevan dengan aktivitas perusahaan sehingga dapat berfungsi dengan baik
  • Identifikasi bahaya harus dinamis dan selalu mempertimbangkan adanya teknologidan ilmu terbaru.
  • Keterlibatan semua pihak terkait dalam proses identifikasi bahaya.
  • Ketersediaan metoda, peralatan, referensi, data dan dokumen untuk menduhung kegiatan identifikasi bahaya..
  • Akses terhadap regulasi yang berkaitan dengan aktifitas perusahaan termasuk juga pedoman industri dan data seperti MSDS ( Material Safety Data Sheet ).

Konsep Bahaya
Bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya. Bahay merupakan sifat yang melekat dan menjadi bagian dari sutau zat, system, kondisi, atau peralatan.
Kesalahan pemahaman arti bahaya sering menimbulkan analissa yang kurang tepat dalam melaksanakan program K3 karena sumber bahaya yang sebenarnya justru tidak diperhatikan.

Bahaya adalah menjadi sumber terjadinya kecelakaan atau insiden baik yang menyangkut manusia, property dan lingkungan. Risiko menggambarkan besarnya kemungkinan suatu bahaya dapat menimbulkan kecelakaan serta besarnya keparahan yang dapat diakibatkanya.

Tiada kehidupan tanpa energi. Energi hadir dalam kehidupan kita dan terdapat disekitar kita. Energi merupakan unsure penting baik dalam lingkungan alam maupun lingkungan buatan seperti di industri atau pabrik.

Di dalam konsep energi, keberadaan energi inilah yang dinilai dapat menimbulkan risiko kecelakaan atau cedera.

Jenis Bahaya
Jenis bahaya dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
1.   Bahaya mekanis
Bersumber dari peralatan mekanis atau benda bergerak dengan gaya mekanika.
2.   Bahaya listrik
Sumber bahaya yang bersumber dari energi listrik.
3.   Bahaya kimiawi
4.   Bahaya fisis
5.   Bahaya biologis

Sumber informasi Bahaya
a. Kejadian kecelakaan
Dari kasus kecelakaan banyak informasi berguna untuk mengenal bahaya misalnya:
  • Lokasi kejadian
  • Peralatan atau alat kerja
  • Pekerja yang terlibat dalam kecelakaan
  • Data-data korban
  • Waktu kejadian
  • Bagian badan yang cedera
  • Keparahan kejadian
b. Kecenderungan kejadian
Identifikasi bahaya juga dapat dilakukan dengan mempelajari kecenderungan atau trend kejadian dalam perusahaan.

Teknik identifikasi bahaya
Identifikasi bahaya adalah suatu teknik komprehensif untuk mengetahui potensi bahaya dari suatu bahan, alat atau system.

a.   Teknik pasif
Metoda ini sangat rawan, karena tidak semua bahaya dapat menunjukan eksistensinya sehingga dapat terlihat. Sebagai contoh, di dalam pabrik kimia terdapat berbagai jenis bahan dan perlatan.

b.   Teknik semi proaktif
Teknik ini disebut juga belajar dari pengalaman orang lain karena tidak perlu mengalaminya sendiri setelah itu baru mengetahui adanya bahaya. Namun teknik ini juga kurang efektif.

c.       Metoda proaktif
Metoda terbaik untuk mengidebtifikasi bahaya adlah cara proaktif atau mencari bahaya sebelum bahaya terdebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan.

Pemilihan Teknik Identifikasi Bahaya
Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan teknik identifikasi bahaya yang tepat antara lain:
  • Sistematis dan terukur
  • Mendorong pemikiran kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum pernah dikenal sebelumnya.
  • Harus sesuai dengan sifat dan skala kegiatan perusahaan.
  • Mempertimbangkan ketersediaan informasi yang diperlukan.

Dalam proses produksi terjadi kontak antara manusia dengan mesin, material, lingkungan kerja yang di akomodir oleh proses atau prosedu kerja. Karena itu, sumber bahaya dapat berasal dari unsur – unsur produksi tersebut antatra lain:
a.       Manusia
b.      Peralatan
c.       Material
d.      Proses
e.       System dan prosedur

PENILAIAN RISIKO

Setelah semua risiko dapat diidentifikasi, dilakukan penilaian risiko melalui analisa risiko dan evaluasi risiko. Analisa risiko dimaksudkan untuk menentukan besarnya risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil analisa dapat ditentukan peringkat risiko sehingga dapat dilakukan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar terhadap perusahaan dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan. Analisa risiko adalah untuk menentukan besarnya risiko yang merupakan kombinasi antara kemungkinan terjadinya (kemungkinan atau likelihood) dan keparahan bila risiko itu terjadi (severity atau consequences).

Analisa Risiko
1. Teknik analisa risiko
Analisa risiko adalah untuk menentukan besarnya suatu riiko yang dicerminkan dari kemungkinan dan keparahan yang ditimbulkan.
a. Teknik Kualitatif
Metoda kualitatif menggunakan matrik risiko yang menggambarkan tingkat dari kemungkinan dan keparahan suatu kejadian yang dinyatakan dalam bentuk rentang dari risiko paling rendah sampai risiko paling tinggi.

Ukuran kualitatif dari “likelihood” Menurut standar AS/NZS 4360

Level
Description
Uraian
A
Almost Certain
Dapat terjadi setiap saat
B
Likely
Kemungkinan terjadi sering
C
Possible
Dapat terjadi sekali-kali
D
Unlikely
Kemungkinan terjadi jarang

Ukuran kualitatif dari “consequency”Menurut standar AS/NZS 4360

Level
Description
Uraian
1
Insignifant
Tidak terjadi cedera, kerugian financial kecil
2
Minor
Cedera ringan, kerugian financial sedang
3
Moderate
Cedera sedang, perlu penenganan medis,
Kerugian financial besar
4
Major
Cedera berat lebih satu orang, kerugian besar, gangguan produksi
5
Catastrophic
Fatal lebih satu orang, kerugian sangat besar dan dampak luas yang berdampak panjang, terhentinya seluruh kegiatan.

b. Semi kuantitatif
·         Nilai risiko digambarkan dalam angka numeric. Namun nilai ini tidak bersifat absolute. Misalnya risiko A bernilai 2 dan risiko B bernilai 4. dalam hal ini, bukan berarti risiko B secara absolute dua kali lipat dari risiko A.
·         Dapat menggambarkan tingkat risiko lebih kongkrit disbanding metoda kualitatif.

c. Metoda kuantitatif
Analisa risiko kuantitatif menggunakan perhitungan probabilitas kejadian atau konsekuensinya dengan data numeric dimanan besarnya risiko tidak berupa peringkat seperti pada metoda semikuantitatif.

Besarnya risiko lebih dinyatakan dalam angka seperti 1,2,3, atau 4 yang mana 2 mengandung arti risikonya dua kali lipat dari 1. oleh karena itu, hasil perhitungan kualitatif akan memberikan data yang lebih akurat mengenai suatu risiko disbanding metoda kualitatif atau semikuantitatif. Contoh teknik kuntitatif antara lain:
  • Fault Tree Analysis (FTA)
  • Analisa Lapis Proteksi (Layer of Protection Analysis-LOPA)
  • Analisa Risiko Kuantitatif (Quantitative Risk Analysis-QRA)

Pemilihan teknik analisa risiko
Metoda kuantitatif jika potensi konsekuensi rendah, proses bersifat sederhana, ketidak pastian tinggi, biaya yang tersedia untuk kajian terbatas dan fleksibilitas pengambilan keputusan mengenai risiko rendah dan data-data yang tersedia terbatas atau tidak lengkap.

Teknik semikuantitatif dapat digunakan jika data-data yang tersedia lebih lengkap, dan kondisi operasi atau proses lebih komplek. Metoda kuantitatif digunakan jika potensi risiko yang dapat terjadi sangat besar sehingga perlu kajian yang lebih rinci.

Peringkat Rasio

Kemungkinan
Keparahan
1
2
3
4
1
1
2
3
4
2
2
4
6
8
3
3
6
9
12
4
4
8
12
16

Dengan demikian, nilai risiko dapat diperoleh dengan mengalikan antara kemungkinan dan keparahannya yaitu antara 1-16. Dari matrik diatas, dapat dibuat peringkat risiko misalnya:
Nilai 1-4          : Risiko Rendah
Nilai 5-11        : Risiko Sedang
Nilai 12-16      : Risiki tinggi

Evaluasi Risiko
Suatu risiko tidak akan memberikan makna yang jelas bagi manajemen atau pengambil keputusan lainnya jika tidak diketahui apakah risiko tersebut signifikan bagi kelangsungan bisnis.

Ada berbagai pendekatan dalam menentukan proritas risiko antara lain bedasarkan standar Australia 10014b yang menggunakan tiga kategori yaitu:
  • Secara umum dapat diterima (generally acceptable)
  • Dapat ditolerir (tolerable)
  • Tidak dapat diterima (generally unacceptable)

  1. Pengalihan risiko ke pihak lain
  2. Menanggung risiko yang tersisa




STRATEGI PENGENDALIAN RISIKO
Menurut standar AS/NZS 4360, pengendalian risiko secara ginerik dilakukan dengan melakukan pendekatan sebagai berikut:
1.   Hindarkan risiko dengan mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan atau penggunaan proses, bahan, alat yang berbahaya.
2.   Mengurangi kemungkinan terjadi
3.   Mengurangi konsekuensi kejadian

Secara garis besar ada beberapa strategi pengendalian, antara lain :
1. Menekan likelihood
Pengurangan kemungkinan ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yaitu: teknis, administrative, dan pendekatan manusia.
Pendekatan teknis
·      Eliminasi
·      Substitusi
·      Isolasi
·      Pengendalian jarak
Pendekatan administrative
·         Pengendalian pajanan
Penekatan ini dilakukan untu mengurangi kontak antara penerima dengan sumber bahaya.

Pendekatan manusia
Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai cara kerja yang aman, budaya keselamatan dan prosedur keselamatan.

2. Menekan konsekuensi
Berbagai pendekatan yang dapat dilakuan untuk mengurangi konsekuensi antara lain:
·      Tanggap darurat
·      Penyediaan alat pelindung diri (APD)
·      System pelindung

3. Pengalihan Risiko (risk transfer)
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya:
·         Kontraktual, yang mengalihkan tanggung jawab K3 kepada pihak lain, misalnya pemasok atau pihak ke 3.
·         Asuransi, dengan menutup asuransi untukmelindungi potensi risio yang ada dalam perusahaan.

PROSES PENGEMBANGAN MANAJEMEN RISIKO

Proses penerapan manajemen risiko dalam perusahaan terdiri atas 6 langkah yaitu:
1.      Komitmen  manajemen
2.      Kebijakan dan organisasi manajemen risiko
3.      Komunikasi
4.      Mengelola risiko tingkat korporat
5.      Mengelola risiko tingkat unit kegiatan/proyek
6.      Pemantauan dan tinjau ulang

1. Komitmen manajemen
Penerapan manajemen risiko dalam perusahaan tidak akan berhasil jika tidak dilandaskan komitmen manajemen puncak. Manajemen risiko pada dasarnya adalh upaya strategis seorang pimpinan unit usaha untuk mengelola usahanya dengan baik.

2. Penetapan kebijakan manajemen risiko
Komitmen manajemen mengenai manajemen risiko harus dituangkan dalam kebijakan tertulis. Kebijakan mengenai manajemen risiko ini mengandung sekurangnya komitmen perusahaan untuk meneraokan manajemen risiko, untuk melindungi pekerja, asset perusahaan, masyarakat pengguna, dan kelangsungan bisnis perusahaan.

3. Sosialisasi kebijakan manajemen risiko
Kebijakan dan program manajemen risiko perlu dikomunikasikan kepada semua unsure dalam perusahaan. Komunikasi penting agar seluruh pekerja mengetahui kebijakan perusahaan, memahami dan kemudian mengikuti dan mendukung dalam kegiatan masing-masing.

4. Mengelola risiko pada level korporat
Langkah awal dalam implementasi manajemen risiko adalah pada level korporat atau tingkat manajemen. Manajemen risiko harus dimulai pada tingkat korporat atau perusahaan, agar dapat diidentifikasi apa saja risiko, baik internal maupun eksternal perusahaan.

5. mengelola risiko pada tingkat unit kegiatan atau proyek
Langkah berikutnya adalah mengelola risiko pada tingkat kegiatan atau proyek. Risiko pada level ini lebih bersifat teknis dan langsung di tempat kerja masing-masing. Proses pengelolaan risiko dilakukan secara rinci untuk setiap aktivitas, lokasi kerja atau peralatan.

6. Pemantaun dan tinjau ulang
Hasil pelaksanaan manajemen risiko harus dipantau secara berkala untuk memastikan bahwa proses telah berjalan baik dan efektif. Hasil manajemen risiko akan menentukan apa program kerja K3 yang diperlukan untuk mengendalikan bahaya tersebut.

PERANGKAT MANAJEMEN RISIKO

Untuk membantu pelaksanaan manajemen risiko khususnya untuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendaliannya diperlukan metoda atau perangkat. Beberapa dintaranya adalah:

1. Data Kecelakaan
Data kecelakaan adalah salah satu sumber informasi mengenai adanya bahaya di tempat kerja dan merupakan sumber informasi yang paling mendasar. Setiap kecelakaan selalu ada sebabnya yang didasari adanya kondisi tidak aman baik menyangkut manusia, peralatan atau lingkungan kerja. Karena itu dari setiap kecelakaan, bagaimanapun kecilnya akan ditemukan adanya sumber bahaya atau risiko.

2. Daftar Periksa
Dalam penerapan metoda ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan;
·         Metoda ini bersifat spesifik untuk peralatan atau tempat kerja tertentu.
·         Daftar periksa harus dikembangkan oleh orag yang memahami atau mengenal tempat kerja atau peralatan.
·         Daftar periksa harus dievaluasi secara berkala, terutama jika ditemukan bahaya baru atau penambahan dan perubahan sarana produksi, system atau proses.
·         Pemeriksaan bahaya dilakukan olek mereka yang mengenal dengan baik kondisi lingkungan kerjanya.

3. Brainstorming
Teknik brainstorming dapat dilakukan secara berkala dalam suatu lingkungan atau kelompok kerja. Pertemuan dapat dipimpin oleh seorang senior, petugas K3 atau pejerja lainnya.

4. What-if
Teknik ini memberikan kebebasan yang kuas kepada peserta dalam berfikir dan memberikan pendapatnya, sehingga terkesan kurang terstruktur.
Tujuannya adalah mengidentifikasi kemungkinan adanya kejadian yag tidak diinginkan dan menimbulkan suatu konsekuensi serius.

5. Hazops ( Hazards and operability study )
Teknik identifikasi bahaya yang digunakan untuk industri proses seperti industri kimia, petro kimia dan kilang minyak

Dalam Hazops digunakan bantuan kata penuntun (guide word) yaitu:
·         More
·         Low
·         Less
·         No
·         High
·         Part of

Kajian Hazops dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Tahap persiapan
2.      Pemilihan node kajian
3.      pemilihan parameter
4.      Panggunaan kata bantu Hazops
5.      Analisa deviasi
6.      Laporan dan pemantauan

6. Failure Mode and Effect Analysis (FME)
FMEA adalah suatu tabulasi dari system, peralatan, pabrik dan pola kegagalannya serta efeknya terhadap operasi. FMEA adalah uraian mengenai bagaimana suatu peralatan dapat mengalami kegagalan.
Langkah melakukan FMEA:
1.      Tentukan unit, alat atau bagian yang akan di analisa.
2.      Uraikan unit atas system-sistem yang saling terkait satu dengan lainnya.
3.      Analisa masing-masing system dengan menguraikannya atas sub system.
4.      Lakukan analisa untuk masing-masing sub system.
5.      Untuk masing-masing factor kegagalan tersebut tentukan apa dampak atau akibat yang dapat ditimbulkan dan system pengaman yang ada.
6.      Tentukan tingkat risiko untuk masing-masing kegagalan.]
7.      Tentukan rekomendasi untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut.

7. Analisa pohon kegagalan
Proses melakukan kajian analisa pohon kegagalan/FTA (fault tree analysis) secara garis besar adalah sebagai berikut:
·      Identifikasi, inventarisasi data atau informasi yang diperlukan.
·      Melakukan analisa awal terhadap system yang akan di analisa.
·      Susun pohon kegagalan yang dimulai dengan kejadian puncak

8. Task Risk Assessment
TRA wajib dilakukan untuk pekerjaan sebagai berikut;
·   Mengandung potensi bahaya tinggi.
·   Pekeerjaan yang sebelumnya pernah mengalami kecelakaan.
·   Pekerjaan yang bersifat baru atau jarang/belum pernah dilakukan sebelumnya.

Teknik melakukan TRA.
Tentukan jebis pekerjaan yang akan dianalisa.
1.   Identifikasi apa saja aktifitas, material, peralatan atau prosedur yang digunakan.
2.   Analisa semua potensi bahaya.
3.   Tentukan tingkat risiko.
4.   Tentukan langkah pengamanan yang diperlukan.
5.   Tentukan sisa risiko yang ada setelah dilakukan langkah pengamanan.
6.   Jika risiko dapat diterima pekerjaan dapat dilangsungkan, tetapi jika risiko di atas batas yang dapat diterima perlu dipertimbangkan langkah pengamanan lainnya.

9. Job Safety Analysis (JSA)

JSA perlu dilakukan pada pekerjaan seperti berikut:
  • Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan.
  • Pekerjaan berisiko tinggi.
  • Pekerjaan yang jarang dilakukan.
  • Pekerjaan yang rumit atau komplek

Kajian JSA terdiri atas lima langkah sebagai berikut:
1.      Pilih pekerjaan yang akan dianalisa.
2.      Pecah pekerjaan menjadi langkah-langkah aktifitas
3.      Identifikasi poensi bahaya pada setiap langkah.
4.      Tentukan langkah pengamanan untuk mengendalikan bahaya. Komunikasikan pada semua pihak yang berkepentingan.

Sumber :
Pedoman Praktis Manajemen Risiko dalam Perspektif K3, Soehatman Ramli, BE, SKM, MBA, Editor Husjain Djajaningrat, AMAK, SKM, M.Kes, Risa Praptono, Dian Rakyat, Jakarta, 2010.